[FF] IT HURTS [PART 1] / SHIN YE FT YONGHWA

CAST : PARK SHIN YE
JUNG YONGHWA (CN BLUE)
SEOHYUN (SNSD) *AS CAMEO ALIAS CUMA NAMANYA DOANG YANG LEWAT*
AUTHOR : FEYFAN / YANGFAN JOONG / @FEYFEY_MAKYUEV
RATE : GENERAL (G)

== Lagu yang dipakai buat cerita ini lagunya X5 – Dangerous + Cerita ini based on request loh ya.. ^^ ==

Too much, everything of you is my fantasy
I kiss you, it’s a world where I am bewitched by you
Tonight, will you give your entire heart?

Yonghwa menyusuri jalanan sepi sekaligus gelap itu dengan tatapan kosong, walaupun perasaannya sedang dilanda kebahagiaan tanpa batas. Ia tak bergeming walaupun angin dingin terus menerus menerpa tubuhnya, syal yang diberikan Shin Ye untuknya beberapa waktu lalu ia genggam lebih erat. Seolah meminta kekuatan yang lebih besar untuk membuatnya mampu bertahan. Ia mendesah keras, cukup keras untuk membuatnya tersadar karena rasa sesak yang menyelimuti dirinya dalam sekejap.

Di depannya, gedung apartemen Shin Ye telah menunggunya, menjulang dengan anggunnya. Ia menggelengkan kepalanya, meminta dirinya sendiri untuk focus dan menyampirkan senyuman dinginnya yang selalu dikagumi Shin Ye, orang yang entah bagaimana telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya hanya dalam waktu beberapa minggu.

But one problem, you have another man
No matter how much others try to stop me and say it’s dangerous
My heart has already been stolen

“Yonghwa!” Shin Ye memekik gembira melihat sosok Yonghwa berdiri di depan pintu apartemennya dengan sebuket bunga mawar yang masih tampak segar. “Ayo masuk! Di luar sangat dingin,” Shin Ye menarik tangan Yonghwa ke dalam ruang apartemennya, menutup pintu yang terbuka di belakang mereka dengan gerakan cepat. “Shin Ye-ah..” Yonghwa bergumam, matanya terasa berat setelah kehangatan apartemen itu menyelimutinya. “Kau baik-baik saja?” Shin Ye bertanya, berlutut di depannya sembari menempelkan punggung tangannya ke kening Yonghwa.

“Aku rasa juga begitu. Kupikir, apartemen ini membawa kehangatan yang terlalu banyak hingga aku tak sanggup menahannya,” Yonghwa tertawa kecil, dan tak lama kemudian mendapatkan pukulan yang cukup keras untuk membuatnya mengerjapkan mata dengan bingung. “Bodoh! Badanmu terasa panas! Sepertinya kamu demam, bisa-bisanya kau mengoceh dengan tenang dan tersenyum?!” Shin Ye menggerutu sebal, melepaskan sepatu Yonghwa dengan paksa.

“Aku tidak apa-apa. Ok? Percayalah,” Yonghwa bergumam lirih. “Mukamu semakin merah, apakah tadi kau juga menyempatkan diri untuk minum-minum ?” Shin Ye bertanya dengan khawatir. “Seohyun memaksaku untuk meminum beberapa botol untuk merayakan hari jadi kami,” Yonghwa berujar pelan, takut Shin Ye mendengarkannya. Tapi toh, Shin Ye memang bisa mendengarnya, dan ekspresinya berubah kelam. “Oh.. Ini hari jadi kalian..” Shin Ye berujar getir, ia telah selesai melepaskan sepatu Yonghwa dan kini menatap lantai di bawahnya dengan tatapan nanar.

“Shin Ye-ah..” Yonghwa memanggilnya dengan lemah, sepertinya ia memang benar-benar terkena demam. Wajahnya semakin memerah dan ia mengigau. “Hem?” “Aku ingin bersamamu, walaupun hanya sedikit lebih lama,” Yonghwa berbisik pelan sebelum jatuh tertidur di atas sofa hangat milik Shin Ye. “Dasar, kau masih sempat pergi untuk melihatku walaupun kau sudah mempunyai orang lain? Ah.. Andai kau tau sakitnya hati ini kalau kau menyinggung soal gadis kecil itu,” Shin Ye tertawa getir.

“Ah.. Kau harus bangun, Yonghwa.. Ayo, kita ke kamarku saja, di sana lebih hangat,” Shin Ye mengguncang tubuh Yonghwa, membujuknya untuk berjalan ke kamarnya. Dan dengan sedikit peruntungan, Yonghwa berusaha dengan keras untuk berjalan ke kamar Shin Ye dengan sisa tenaganya. “Sweet dream, my prince,” Shin Ye berbisik setelah menyelimuti Yonghwa.

Eventually, you will probably return to him but
I can’t stop baby
Tonight (tonight), don’t lie anymore
Come to me, you can’t go sleep

Tanpa ia rasakan, air mata telah membentuk jalan di pipinya. “Kenapa aku menangis?” Ia berkata pelan dan tidak percaya saat mengusap cairan basah itu dari pipinya. “Pagi.. Hatchuuu,” Yonghwa berjalan keluar dari kamarnya, dengan keadaan berantakan namun tetap mempesona baginya. “Eh.. Morning,” Shin Ye menjawab dengan gugup.

“Hatchu.. Hatchu..” “Apa kau baik-baik saja?” Shin Ye bertanya, berjalan mendekat menuju Yonghwa. “Aku rasa aku terkena flu,” Yonghwa tertawa geli. “Berkat kebodohanku tentu saja,” Ia melanjutkan. “Ah.. Aku akan ambilkan obatmu ya? Kamu duduk saja dulu di ruang keluarga, Ok?” Shin Ye mengacak rambut Yonghwa dengan khawatir. “Cepat ya,” Yonghwa mengedipkan matanya ke arah Shin Ye. Muka Shin Ye memerah seketika. “Jangan menggodaku,” Shin Ye memperingatkan.

“Tidak tuh,” Yonghwa berteriak sembari berjalan menuju kumpulan sofa yang berada di ruang keluarga. Shin Ye menatap pantulan dirinya di cermin yang sengaja ia letakkan di dapur. “Sial.. Mataku membengkak,” Dia menggerutu. “Shin Ye..OBATKU! Hatchu..” Teriakkan Yonghwa menyadarkannya. “Tunggu sebentar!” Ia membalas cepat, melihat pantulan wajahnya di cermin sekali lagi dan mendesah.

“Ini, minum dua-duanya masing-masing 1,” Shin Ye menyodorkan obat beserta dengan air hangat untuk Yonghwa. “Oh satu lagi, sarapan hari ini bubur.. Kau tak boleh mengeluh, kalau kau tak terkena flu, kita tidak akan memakan bubur,” Shin Ye cepat-cepat menjelaskan saat ia melihat raut wajah Yonghwa yang berubah masam saat ia menyebutkan menu mereka pagi itu. “Lihat? Aku rasa aku telah menambahkan terlalu banyak gula untuk bubur ini,” Shin Ye meraih salah satu mangkuk bubur dan menunjukkan tepat di bawah mata Yonghwa.
“Aku mengerti. Tidak perlu menyodorkannya tepat di bawah mataku, itu terasa panas,” Yonghwa menepis mangkuk bubur itu dari wajahnya. “Bagus kalau kau mengerti,” Shin Ye tersenyum senang. Keheningan mengisi suasana canggung di antara keduanya. Shin Ye dan Yonghwa sebenarnya saling mencuri pandang dan mereka tau kalau mereka sedang diperhatikan oleh satu sama lain. Tapi keduanya memilih bungkam, hingga…

“Shin Ye, kemarilah,” Yonghwa menepuk ruang kosong di sofa yang ia tempati, sangat sempit namun pas untuk postur Shin Ye untuk duduk. Itu artinya, mereka akan duduk berdempet-dempetan. “Ini sempit,” Shin Ye mulai menggerutu, namun gerutuannya sekitika itu juga berhenti ketika Yonghwa menariknya dalam pelukan hangatnya. “Aku tau.. Karenanya aku memintamu untuk duduk disini,” Yonghwa berkata pelan, kepalanya tersandar di bahu Shin Ye, lemas.

“Ini.. Sebaiknya kamu melepaskan pelukannya, Yonghwa,” Shin Ye berkata dengan gugup. “Apakah aku harus melakukannya?” “Kita tidak mau Seohyun mengetahui ini kan?” Shin Ye balik bertanya, membuat Yonghwa tertawa kecil sebelum terbatuk. Shin Ye menatapnya khawatir, namun Yonghwa hanya menatapnya lembut dan memberikan anggukan kecil tanda bahwa ia baik-baik saja. “Jangan khawatir, aku jauh lebih menyayangimu dibandingkan dengan menyayangi Seohyun,” Yonghwa berujar. “Jangan berbohong denganku,” Shin Ye berujar dengan pahit, ia sudah muak dengan semua kata-kata kosong yang keluar dari Yonghwa. Semua pengakuannya bahwa ia menyukai Shin Ye lebih dari Seohyun, dan semua tentang keunggulan Shin Ye dibandingkan dengan Seohyun.

Namun semua itu seolah tidak ada harganya ketika ia menemukan Yonghwa dan Seohyun kembali bermesraan, bahkan Yonghwa tidak akan menoleh kepadanya jika ia sedang bersama dengan Seohyun, ironis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: