[FANFICTION] A PLATE OF AFFECTION FOR YOU ONLY (PART 1)

Title : A Plate Of Affection For You Only

Rate : General

Cast :

Kim Ki Bum

Akari (OC)

Kim Hyung Jun

Ini baru part 1 ya.. Part lain sedang dalam perjalanan (?)

Akari mendesah sebal, di depannya terhidang pemandangan tak menyenangkan. Kamar tidur itu benar-benar berantakan, bantal yang bertebaran dimana-mana hingga pakaian yang ditaruh begitu saja oleh pemiliknya. Dan di tengah kekacauan ruangan itu, terdapat sosok seorang pria yang sedang tertidur dengan pulasnya. Akari menggeram, pandangannya semakin tajam menatap sosok yang tak bergerak itu.

Akari mendekati sosok itu, berlutut agar ia bisa mencapai telinga sosok pria itu. “KIM KI BUM!” Akari berteriak dengan lantang, hingga suaranya bergema di kamar itu. Suaranya benar-benar membawa pengaruh yang seharusnya karena kemudian sosok bernama Ki Bum terduduk, matanya masih mengerjap-ngerjap namun sepenuhnya sadar. “Ada apa?” Ia berkata, terbatuk sedikit.

“Sadarkah kau ini sudah jam berapa?” Akari berkata tegas, duduk berhadapan dengan Ki Bum. “Jam 6?” Ki Bum menjawab malas. “Ya! Benar sekali. Jam 6. Dan tahukah kau kuliah kita dimulai jam berapa? Hah?” Akari menatapnya tegas. “Jam…. 6.45 ..” Ki Bum menjawab pelan. “OH YA TUHAN! AKU AKAN TERLAMBAT!” Kali ini giliran Akari yang tersentak kaget karena teriakan tiba-tiba Ki Bum.

Dalam sekejap mata, Ki Bum telah meninggalkan kamarnya, bergegas untuk mandi. “Selalu saja seperti ini..” Akari bergumam, ia bangkit dan menuju dapur. Dengan cekatan, ia menyiapkan sarapan sederhana bagi keduanya sebelum berangkat menuju kampus. Selagi memberikan sentuhan akhir di masakannya, matanya menyusuri seluruh isi apartemen itu. Sesuatu telah berubah. Ya, sesuatu yang dulunya ada untuk menunggunya, memberikan senyuman kepadanya di setiap pagi kini telah tidak ada lagi di ruangan itu. Sama sekali hilang, hanya beberapa barang peninggalannya saja yang tersisa.

“Akari! Masakanmu!” Ki Bum tiba-tiba muncul, menunjuk santai ke arah kompor yang masih menyala-nyala berbahaya di belakang Akari. Akari mengerjapkan matanya, terkejut karena kehadiran tiba-tiba Ki Bum. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan hasil masakannya di meja makan, mengaturnya sedemikian rupa agar Ki Bum mudah mengambil setiap masakan.

“Kau tau Akari? Kita ini sudah seperti sepasang pengantin muda saja.. Kau yang tiap hari membangunkanku, membantuku mengurus apartemen ini, dan juga memasakkanku makanan setiap harinya.. Kenapa kau tidak sekalian saja ikut pindah ke sini hem?” Ki Bum berkata di sela-sela aktifitasnya mengambil makanan yang tersaji di depannya. “Maksudmu apa? Kau mengundangku untuk pindah ke sini?” Akari tertawa kecil, matanya masih menatap ruangan apartemen itu, kali ini dengan lebih cermat.

“Kita bahas nanti saja, sewaktu makan malam. Kau akan menginap kan untuk malam ini?” “Apa tidak apa-apa aku menginap disini, Ki Bum?” Akari seketika bertanya, merasakan perasaan tidak nyaman ketika Ki Bum mengarahkan pandangannya dengan tajam kepadanya. “Kau ragu?” Ki Bum berkata. “Tidak juga..” “Kalau begitu, menginaplah..” Ki Bum membalas.

Akari terdiam, ia menyesap minumannya perlahan. “Ayo.. Kita akan terlambat kalau menunda waktu berangkat kita!” Ki Bum berujar, menyambar tas punggungnya dan menarik Akari menuju pintu. “Hey! Jusku belum habis!” Akari memprotes sia-sia. “Tinggalkan saja, kita beli lagi untuk makan siang nanti,” Ki Bum mengabaikan protes Akari.

Dan, pagi itu, mobil yang dikendarai Ki Bum berlari dengan kekuatan penuh di tengah jalanan kota. Membawa Akari yang masih cemberut karena jusnya belum habis dan juga karena cengiran menyebalkan milik Ki Bum yang ditujukan olehnya terus menerus selama perjalanan mereka menuju universitas.

***

“Kau akan langsung ke kelas?” Ki Bum bertanya, mereka berjalan bersisian menuju gedung kampus. “Aku akan berada di ruang timur, bagaimana denganmu?” Akari balik bertanya. “Aku hari ini mendapatkan ruang utara. Kalau begitu, sampai bertemu nanti siang yah!” Ki Bum tersenyum, melambaikan tangan dengan semangat dan berlari ke arah berlawanan dengan Akari. Akari hanya memperhatikan dengan malas.

“Ah.. Tapi dia daan kakaknya benar-benar seperti sepasang kembar ya..” Akari tertawa kecil ketika dilihatnya Ki Bum menabrak seseorang kemudian meminta maaf, dan cepat-cepat kabur. “Mirip Hyung Jun oppa..” Akari bergumam. Tiba-tiba wajahnya menjadi muram, “Dia masih tinggal di pikiranku eh? Seharusnya aku sudah berhenti memikirkannya ka?” Ia berujar gugup, berjalan menyusuri lorong gedung timur kampusnya.

“Akari! Kelas kita disini! Kau mau kemana??” Salah satu temannya menyadarkannya dari lamunannya tentang Hyung Jun. “Ah.. Maaf..” “Ayo.. Duduklah! Dosen akan datang sebentar lagi, sebaiknya kau sudah duduk sebelum ia datang, kau kan tau dia rada killer,” temannya itu berujar, setengah berbisik ketika mengatai tentang dosen mereka hari itu. Akari hanya tersenyum simpul mendengarnya, ia segera mencari tempat duduk di deretan tengah dan duduk manis, menunggu dosennya datang. Dan lagi, pikirannya segera saja berkelana kemana-mana. Tapi khususnya berkelana dengan kenangan tentang Hyung Jun. Orang yang sempat, tidak, itu salah, masih ia sukai sampai sekarang.

“Oppa.. Kau akan pindah ?” Akari menatap kotak-kotak yang tertutup rapat dan rapi. Semuanya tertumpuk di sudut ruangan apartemen itu hari itu. “Iya, Akari.. Hari ini aku dan Ki Bum akan berpisah tempat tinggal, Ki Bum akan tetap tinggal disini karena ini adalah apartemen terdekat ke universitasnya sementara aku akan pindah ke pusat kota.” Hyung Jun menerangkan, senyuman mautnya sama sekali tidak lepas dari wajahnya.

“Tapi, oppa.. Jika kau pergi, siapa yang akan merawat Ki Bum? Bukankah kau bilang keluargamu ingin kalian mandiri? Sementara kau tau Ki Bum belum bisa semandiri yang mereka harapkan, kan?” Akari berujar, berusaha menyadarkan Hyung Jun dari hal yang Akari anggap salah.

“Akari, Ki Bum itu kan seumuran denganmu. Ia sudah dewasa. Lagipula jika aku pergi sekarang, kau pasti akan datang ke apartemen ini lebih sering kan?” Hyung Jun bertanya, mengulum senyumannya. “Oppa.. Tapi pasti tidak akan seru jika kau pergi meninggalkan apartemen ini dan aku hanya kemari untuk melihat keadaan Ki Bum..” Akari memprotes pelan. “Hey, kau tidak boleh begitu.. Kau dan Ki Bum itu orang yang berbeda, aku percaya kau dan Ki Bum bisa saling melengkapi..” Hyung Jun berujar. Jauh di dalam hatinya, Akari mulai merasakan ada hal yang SALAH dari percakapan mereka, ia tiba-tiba berpikir jika sebenarnya  Hyung Jun ingin menjodohkannya dengan Ki Bum.

Dan benar saja, perkataan selanjutnya dari Hyung Jun membuat Akari terkesiap. “Kau sepertinya akan bertahan lama dengan Ki Bum seandainya kalian berpacaran, atau sekalian saja, menikah!” Hyung Jun memekik gembira, seolah ia baru saja menyampaikan hal paling menakjubkan yang pernah ia pikirkan setelah beberapa waktu ia sembunyikan dari hadapan banyak orang.

Sebelum Akari sempat menjawabnya, Ki Bum berlari memasuki ruangan itu, memeluk kakaknya dengan cepat dan berceloteh riang. Membuat Akari tidak dapat memperbaiki situasi antara dirinya dan Hyung Jun. Hyung Jun sesekali meliriknya , Akari tahu itu, sangat tahu. Namun ia tidak berani angkat bicara, ia membiarkan dirinya menjadi pendiam, kali itu saja.  Namun tampaknya aksinya adalah hal yang salah, karena setelah itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan Hyung Jun. Hanya sesekali saja ia mendengar kabar dari Ki Bum tentang kiprah kakaknya yang semakin terkenal saja di dunia acting. Hanya itu yang mampu menjadi sumber pelepas dahaganya atas kerinduannya terhadap Hyung Jun. Hanya itu.

“Akari! Apa kau memperhatikan?” Dosennya berteriak lantang, memanggil namanya dengan tegas. “Eh.. Ah..” Akari tersentak kaget, berusaha keras untuk kembali memusatkan perhatiannya ke arah dosen yang tengah mengajar. “Bodoh.. Bisa-bisanya kau memikirkan orang itu dalam keadaan seperti ini,” Akari bergumam, mengomeli dirinya sendiri.

***

Esoknya, Akari cukup terkejut karena mendapati KiBum telah menunggunya di luar gedung apartemen, melambai ke arahnya dengan ceria. Akari tidak dapat menahan perasaan kagum akan penampilan KiBum hari itu. Rapi, fresh, dan keren. Tanpa sadar, Akari lupa bernafas, matanya tertuju hanya pada KiBum yang tengah menyender di depan mobilnya, tersenyum manis kepadanya.

“Selamat pagi,Akari!” KiBum menyapanya, matanya masih menyipit, karena  ia tengah tersenyum lebar ke Akari. “Mengapa kau berpakaian rapi sekali?” Akari akhirnya bertanya setelah berada di samping KiBum, melihat KiBum dari atas ke bawah, masih mengagumi penampilan KiBum hari itu. “Kenapa? Apakah aku terlihat semakin tampan seperti ini?” KiBum balik bertanya, dengan senyuman usil di wajahnya. Belum sempat Akari menjawab, ponsel KiBum berbunyi nyaring. Dengan cekatan, KiBum menjawab telepon dari seseorang itu.

“Baiklah.. Ya, aku dan Akari akan menunggumu di apartemen kita..Hah?” Percakapan Kibum terdengar jelas oleh Akari. Akari menaikkan alisnya bingung, kenapa menunggu seorang tamu harus bersamanya? Ia menunggu hingga KiBum selesai menelepon dengan sabar. “Tadi itu siapa?” Akari bertanya. “Kakakku, Hyung Joon hyung..” KiBum menjawab dengan nada tenang. “Ada apa dengan Hyung Jun oppa?” Akari merasakan jantungnya berdegup lebih keras, darahnya seolah dipompa lebih keras, dan kakinya terasa sedikit lemas. “Hyung akan datang sore ini untuk bertemu kita di apartemenku. Ia bilang ia khawatir dengan keadaan kita. Bukankah itu perkataan yang bodoh? Harusnya ia hanya khawatir denganku!” KiBum mengomel panjang-pendek, tidak menyadari ekspresi terkejut Akari.

“Jam berapa ia akan datang?” Akari berusaha keras membuat nada bicaranya senormal mungkin, ia tidak ingin KiBum menjadi curiga terhadapnya. “Mungkin sekitar jam 5. Masih lama,” KiBum menjawab pendek. “Oh ya! Aku hampir lupa. Akari, my princess, bisakah kau menemaniku seharian ini?” KiBum bertanya, merendahkan sedikit badannya agar ia tampak seperti seorang pelayan yang menghormati putrinya. “Eh?” Akari bergumam terkejut melihat kelakuan KiBum. “Menemanimu? Bukankah kita ada kuliah hari ini?” Akari bertanya, dalam hati ia merutuk kebodohannya sendiri. Ia tau dengan jelas bahwa hari itu mereka tidak memiliki jadwal kuliah apapun.

“Kita tidak memiliki jadwal kuliah untuk hari ini, my princess. Sekarang, naiklah!” KiBum memutari tubuh Akari dan membukakan pintu mobil untuk Akari. Akari menatapnya tidak percaya, seorang KiBum telah bertindak aneh untuk hari ini. Well, sebenarnya itu bukan pertama kalinya KiBum bersikap sedikit aneh terhadapnya, namun perasaan Akari membisikkan hal lain. Hari itu sepertinya akan menjadi lebih istimewa. Lebih fantastis.

“Kita akan pergi kemana?” Akari bertanya tepat setelah mesin mobil menyala. “Kau akan menemaniku untuk membelikan hadiah bagi kakakku tersayang,” Dan jawaban itu cukup untuk menohok perasaan Akari dengan sukses.

***

– TO BE CONTINUED –

Iklan

2 thoughts on “[FANFICTION] A PLATE OF AFFECTION FOR YOU ONLY (PART 1)

Add yours

  1. ntu karakter saya OOC bgt XD kebalik ya saya sama kibum XD #dilempar
    BABY JUN KLO KM MINTA SAYA SAMA KIBUM NIKAH SAYA MAOOOOOOOOOOOO BGT KOK XDD~ akari sy di crita itu terlalu rajin dy tinggal di dunia kebalikanny saya yah XDD
    tp bagus loh critanya bkn saya histeris XDD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: