[FANFICTION] A PLATE OF AFFECTION FOR YOU ONLY

Title: A Plate Of Affection For You Only

Rate : General

Cast :

-Kim Ki Bum

-Akari (OC)

-Kim Hyung Jun

Akari dan KiBum mengitari banyak toko hari itu. Mulai dari toko bunga hingga toko furniture, sebenarnya Akari sedikit bertanya-tanya tentang kunjungan mereka ke toko furniture. ‘Apakah kakaknya segitu gilanya dengan hadiah sampai KiBum mengajakku ke toko furniture?’ Akari bergumam dalam hati. Tapi mereka berlalu dengan cepat dari toko itu menuju toko pakaian. KiBum menggila dengan cepat di toko itu, membeli beberapa setel pakaian untuk kakaknya dan beberapa untuk Akari walaupun Akari telah menolaknya mati-matian. Namun ia tetap saja kalah dengan kegilaan belanja KiBum.

“KiBum! Ini sudah jam berapa?! Kenapa kita masih disini? Apa kau yakin pakaian yang kau berikan itu untuk kakakmu?!” Akari akhirnya tidak sabar lagi ketika akhirnya ia menyadari pakaian yang KiBum beli hanya untuknya dan bukan kakaknya. “Eh..” KiBum tampak tersadar, wajahnya memerah malu.

“Maafkan aku,” KiBum bergumam, mengacak-acak rambutnya, membuat Akari menelan ludah dengan susah payah. Terlalu seksi. “Jadi?” “Aku sebenarnya tidak tau mau memberikan dia apa sebagai penyambutan..” “Kau ini! Dia itu kakakmu, dan dia baru meninggalkanmu selama 6 bulan. Tidak akan terlalu banyak hal berubah bukan? Apalagi kau cukup sering bertemu dengannya. Bagaimana kalau kau membelikannya seikat bunga yang ia sukai dan membeli bahan-bahan masakan? Aku akan memasak untuk kalian malam ini. Makanan istimewa dariku, bagaimana?” Akari menyarankan.

Kakinya benar-benar pegal, seandainya kakinya itu sepatu, sudah tentu ia akan melepaskannya sejak tadi, insting wanitanya dalam hal belanja benar-benar mati. Ia sudah mati rasa karena capek menyusuri dan memperhatikan isi toko yang beraneka rupa.

“Baiklah.. Itu terdengar menyenangkan..” KiBum tersenyum bahagia. Setuju bahkan tanpa memberikan perlawanan sedikitpun. “Oh, Akari.. Terima kasih!” KiBum mengatakannya dengan senyuman lebar terpatri jelas di wajahnya. Akari mengangguk, entah mengapa ia sangat menikmati senyuman itu, rasa sebalnya menguap perlahan. Senyuman itu menghipnotisnya, senyuman itu membunuh perasaan buruknya sepanjang siang itu. “Kau tau sesuatu Akari?” KiBum tiba-tiba bertanya, matanya tetap menatap lurus ke arah jalanan. Saat Akari tidak menyahut, KiBum melanjutkan, “Kau itu cantik, menarik dan benar-benar membuatku terpesona..” KiBum dapat merasakan pipinya memerah. Di sebelahnya, tarikan nafas yang teratir mulai terdengar, Akari tertidur. “Kau itu memang benar-benar manis..” KiBum tertawa kecil mendapati posisi dirinya saat itu. Tangannya mengusap wajah Akari perlahan sebelum turun ke tangannya dan menggenggamnya erat, seolah tidak akan melepaskannya lagi.

Di sisi lain, Akari bermimpi hal bagus menghampirinya secara beruntun. Dan di depannya, KiBum melambaikan tangan dengan senyuman hangat, menantinya untuk mengakhiri kesenangan itu menuju kesenangan lain bersamanya. Senyuman Akari tak dapat ditahan lagi setelah ia memeluk KiBum dengan cepat.

***

Wajah Akari merona beriringan dengan semakin santernya bau masakannya tercium di segala arah. “Kau memang orang yang bisa kuandalkan sebagai teman dan teman kencanku,” KiBum berkata sambil lalu saat lewat di belakangnya, hanya menyempatkan dirinya sendiri untuk mengambil sekaleng soda. “Oh?” Akari tidak begitu menanggapi, ia semakin sibuk menambahkan berbagai sayuran dan bahan lainnya.

Wajahnya masih merona karena uap panas yang membumbung naik dari masakan mendidih di bawahnya. “Kau terlihat mempesona dari sini,” Suara akrab itu kembali berkata, dengan nada menggoda. “Bisakah kau berhenti bicara seperti itu, KiBu…” Akari memutar tubuhnya, berucap dengan sebal kepada orang yang tadinya ia kira KiBum. Namun ucapannya harus ia hentikan karena bukan KiBum lah yang membalas tatapan matanya dari seberang dapur. Melainkan sepasang mata milik Hyung Jun.

“Ah.. Sepertinya KiBum sudah merayumu lebih sering sekarang ya?” KiBum tertawa renyah. Semburat merah kembali tampil di wajah Akari, cepat-cepat ia memutar tubuhnya lagi untuk mengurus masakannya. “Maaf.. Aku kira kau KiBum..” Akari berujar datar walaupun ia tidak dapat menyembunyikan senyumannya, sungguh menyenangkan melihat wajah Hyung Jun lagi setelah sekian lama tidak dapat bersua dengannya.

“Hahaha..” Tawa tulus dari Hyung Jun memenuhi ruangan. Namun kemudian, secepat kedatangannya, secepat itu pula ia meninggalkan Akari di dapur sendirian. Disaat Akari bersiap untuk menyajikan masakannya di atas meja makan, sahutan-sahutan heboh terdengar dari belakangnya. Hyung Jun dan KiBum tampak berdebat tentang sesuatu, dan kelihatannya itu tidak berjalan dengan mulus sebagaimana diharapkan oleh keduanya di awal pembicaraan.

“Ah Akari.. Aku sangat berterimakasih untuk makanan yang kau siapkan ini. KiBum ini benar-benar bodoh sampai ia tidak bisa memberikanmu ucapan terima kasih seperti yang seharusnya..” Hyung Jun mengawali pembicaraan mereka. “Tidak juga, oppa.. KiBum benar-benar partner yang menyenangkan..” Akari merendah, kepalanya menunduk dan matanya focus pada makanan yang tersaji di depannya. Sama sekali tidak berminat untuk menegakkan kepalanya.

“Partner? Kalian baru sebatas Partner? Yakin nih?” Hyung Jun menggoda mereka, membuat Akari tersenyum kaku sementara KiBum terdiam. Sisa makan malam itu Hyung Jun terus menerus memanas-manasi kedua pasangan muda itu dengan semangat. Tidak memperdulikan seberapa dalam sudah Akari dan KiBum menunduk demi menutupi rasa malu yang telah menjalar hingga ke permukaan.

***

“Hyung! Kau apa-apaan sih tadi? Ngapain kau berbicara banyak tentang aku dan Akari waktu makan tadi?” KiBum bertanya gelisah, Hyung Jun dengan santainya sedang membongkar-bongkar meja kerja KiBum sementara KiBum terduduk di atas ranjangnya sendiri. “Oh. Tidak, aku hanya senang melihat kalian berdua sama-sama malu. Sepertinya kalian saling menyukai ya?” Hyung Jun balik bertanya, membuat adiknya kembali ternganga akan kejujuran kakaknya itu.

“Hey hyung! Aku tidak pernah mengatakan aku menyukainya!” KiBum akhirnya pulih dari keterkejutannya. Walaupun berbohong bukanlah hal mudah, tampaknya ia yakin ia bisa melewatinya dengan baik di depan kakaknya tersayang. Namun perkataan-perkataan Hyung Jun selanjutnya benar-benar memojokkannya hingga ke akhir.

“Benarkah kau tidak menyukai Akari? Kalau begitu kenapa kau begitu cemburu denganku setiap kali dia datang kemari untuk mengantarkan makanan untukku huh?” “Kapan Akari datang dan melakukan itu hyung?” KiBum bertanya, pikirannya benar-benar buntu. “Sebelum aku pindah dari sini, bukankah itu alasannya datang ke apartemen ini setiap harinya?” Hyung Jun tersenyum tenang, seolah ia tau bahwa ia sudah memegang kartu AS dalam pembicaraan tersebut.

“Tidak! Siapa bilang aku cemburu denganmu saat itu?” Tampaknya KiBum masih bisa menguasai emosinya, wajahnya terlihat mengkerut bingung. “Oh baiklah. Abaikan fakta itu. Bagaimana dengan kebaikanmu selama ini dengannya? Rayuanmu? Dan bahkan terkadang kau melamunkan tentang Akari bukan?” Hyung Jun menghemat waktu berbicaranya dengan benar-benar strategis. KiBum langsung lumpuh dalam seketika.

“Jadi aku menebak di tempat yang tepat bukan?” Hyung Jun tertawa senang, senang karena akhirnya ia bisa menaklukan adiknya tersayang. “Mengapa kau tidak mengajaknya tinggal seatap denganmu? Kau dan Akari bisa membayar tagihan untuk kehidupan kalian. Mungkin itu akan lebih hemat.” Hyung Jun mengeluarkan sisi pelitnya kali itu, membuat KiBum meringis sebal. “Hyuuuunnggg.. Ini bukan hal yang semudah kau bayangkan..” “Oh ayolah. Kau bisa melakukannya. Lagipula aku sudah mundur dari medan pertempuran loh,” Hyung Jun mendengus, menatap ke arah lain dan seolah tidak rela menatap ke arah KiBum.

Telinga KiBum langsung tegak, wajahnya berubah sedikit tegang, alisnya bertaut bingung. “Apa maksudnya kau mundur dari pertempuran hyung? Pertempuran apa yang sedang kau bicarakan?” Udara di sekitar mereka tidak berubah, hanya saja sepertinya suhunya anjlok sampai ke 0 derajat. Keduanya terdiam, tidak ada yang ingin berbicara dalam keheningan itu. “Aku.. Sempat menyukainya..” Hyung Jun akhirnya menyerah, mengerti benar bahwa ia pada akhirnya harus mengucapkan kalimat itu. “Kau MENYUKAINYA?!” KiBum tanpa sadar menaikkan nada bicaranya.

“Yah.. Aku harus mengakui kalau Akari cukup menarik..” Hyung Jun tampak berhati-hati dalam memilih kata, tidak ingin mengungkapkan terlalu banyak. “Tapi hyung! Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?” “Karena sepertinya kalian saling memberikan perhatian tak kasat mata kepada satu sama lain. Entah Akari menyukai kau atau tidak, tapi aku bersumpah kau laki-laki yang lebih pantas dengannya dibandingkan dengan diriku.” Hyung Jun menjelaskan, senyuman sudah tidak ada lagi tersisa di wajahnya. “Bukankah ia mengurusmu dengan baik? Dan bukankah kau memperlakukannya sebagai seorang pacar yang telah lama kau idamkan?” Hyung Jun sedikit menggoda adiknya kali ini, merasakan kembali udara hangat menerpa keduanya dengan intensitas lebih lambat.

“Yah.. Aku memang menyukainya.. Lebih dari sekedar suka sebenarnya, aku rasa aku telah memasuki tahap sayang,” KiBum membuka diri, nada suaranya pelan seolah ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. “Kalau gitu kau harus mengejarnya. Emang kamu pikir dia tidak bisa meninggalkanmu begitu saja?” Hyung Jun menasehati dengan bijak. “Akari masih di luar kan? Mungkin sebaiknya kau menghampirinya sekarang. Aku akan keluar duluan dan kemudian mencari angin segar. Berjuanglah, adikku yang manis,” Hyung Jun mencubit pipi KiBum dengan gemas, tertawa segar ketika KiBum menggelak dan menggerutu sebal dengan kelakuan kekanak-kanakannya.

“Halo Akari. Aku sungguh beruntung mempunyai calon adik ipar sepertimu.. Kau benar-benar merawat KiBum seperti seorang istri seharusnya merawat seorang suaminya.” Hyung Jun menyapa Akari dengan semangat tinggi, mengalungkan lengannya di sekitar leher Akari dengan gaya playboynya. “O…Oppa..” Akari sedikit terkejut dengan perkataan dan perbuatan Hyung Jun terhadapanya, pikirannya melayang meninggalkan tubuhnya. Namun ketika tangan itu melingkari dirinya, pikirannya seolah kembali dijatuhkan ke bumi, sentuhan itu sebenarnya bisa membuatnya lebih mabuk lagi seandainya ia tidak teringat bahwa mereka tidak sendiri di apartemen itu.

“Dengarkan aku gadis manis. Aku akan langsung pada pokok masalah, ini sebenarnya masalah. Hanya saja adikku takkan sabar untuk menyampaikan perasaannya kepadamu. Aku tak berhak menunda pengakuan romantisme kalian sebentar lagi,” Hyung Jun mendesah berat, tapi ia tersenyum lebar. Senyuman tulus dan sabar seorang kakak terhadap adiknya. Senyuman yang ia berikan karena ia terlalu menyayangi dua orang penting dalam hidupnya.

“Aku.. Aku.. Sebenarnya Oppa sedang membahas apa?” “Aku sedang akan membahas perasaanku terhadapmu…” “Tapi..” “Perasaanku terhadapmu DULU, Akari.” Dan itu cukup untuk membungkam Akari dengan keterkejutannya sendiri, rasa tidak percaya seolah membungkus Akari ketika Hyung Jun menjelaskan kepadanya tentang perasaan yang sempat ia rasakan terhadapnya. Perasaan seorang Hyung Jun, perasaan yang dulunya ia harapkan namun mengapa hatinya tidak berdebar kencang seperti biasanya? Mengapa semua terasa datar? Pikiran itu terus menghantui Akari selama perbincangannya dengan Hyung Jun.

“Aku akan pulang hari ini juga.. Mungkin kau akan mau menginap disini. I insist you to do that, my little sister in law,” Hyung Jun mengedip nakal. “Menginap di..sini?” Akari membeo bingung. “Iya! Tidurlah di apartemen ini, temani KiBum untuk akhir pekan ini ya? Jika kau melakukannya, aku akan sangat berterimakasih. Dan lagipula.. kalian bisa melakukan sesuatu dengan berduaan di apartmen ini kan? Kalian bisa memikirkan perasaan kalian dengan lebih tenang dan sedikit sensasi berdebar-debar.” Hyung Jun tertawa ketika muka Akari memerah ketika ia mengatakan ucapannya yang terakhir. “Ah.. Kau benar-benar menarik, Akari.” Hyung Jun mengedipkan matanya dengan sayang ke arah Akari,  sedikit terlalu agresif. Jantung Akari seakan-akan ingin lepas dari tempatnya saat itu. Damn, Hyung Jun bukanlah pria yang bisa dilewati begitu saja dengan mudahnya.

***

Iklan

2 thoughts on “[FANFICTION] A PLATE OF AFFECTION FOR YOU ONLY

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: