[FANFICTION ] YOU’RE MY DESTINY – PART 1 –

Title : YOU’RE MY DESTINY

Author: Feyfan

Cast :

– Lee Hyukjae / Eunhyuk

– Park Ah Ran

– Dokter Kim

Rate : General

Matanya menatap dengan tidak focus,  hampa, itulah yang tersirat dalam setiap ekspresi yang ia tunjukkan. Frustasi mungkin adalah istilah alternative, tapi tidak. Ia tidak seburuk itu hingga menjadi frustasi. Ah Ran marah, tapi ia tidak mungkin menunjukkannya saat itu juga. Ia hanya bisa terdiam, membiarkan pikirannya berkelana selagi memandang pertujukan kecil yang dihadiahkan oleh sang kekasih di depan matanya.

Tak ada senyum kepuasan yang ia keluarkan. Yang ingin ia lakukan saat itu hanyalah lari, sebelum akhirnya kembali ke hadapan sang kekasih dan menamparnya. “Bisakah kau berhenti sekarang? Semua ini membuatku semakin gila.. Kumohon, Hyukjae-ah..” Ah Ran akhirnya berkata, membuat aktifitas yang ada di depannya berhenti total.

“Kenapa, Ah Ran? Bukankah ini hal yang menyenangkan? Tidakkah kau senang dengan hadiahku ini?” Hyukjae masih tersenyum, dengan nafas yang sedikit tersenggal-senggal. “Aku tau. Dan aku sangat menyukai dancemu, tapi bisakah kau berhenti melakukannya selama kau masih menjalani perawatan? Tindakanmu ini sama sekali tidak membantu proses penyembuhanmu!” Ah Ran akhirnya meledak dalam amarah kecemasan yang telah ia tahan sedemikian rupa.

Keduanya terdiam, dengan masih saling menatap satu sama lain, seolah tidak ingin mengalah dengan lawannya. Keheningan itu akhirnya terpotong oleh sebuah ucapan singkat yang keluar dari mulut ah Ran “Maaf.” Sesaat setelah mengatakannya, ia menyesal karena kemudian, Hyukjae tampak terpukul dan berbalik memunggunginya.

Ah Ran tidak dapat menahan butiran air mata yang perlahan keluar ketika ia memandang sosok kurus nan tegar yang berdiri menjulang di depannya. Ruangan putih itu tampaknya membuat semua terlihat lebih buruk. “Tidak, kau seharusnya tidak mengatakan kata itu.. Dalam situasi seperti apapun, walaupun di saat kita sedang bertengkar,” Suara halus Hyukjae membuat Ah Ran merasa semakin terpukul, rasa bersalah mengguyurnya dengan kejam.

“Jika kau mengatakannya seperti itu, aku akan merasa lebih putus asa dan aku bisa saja meminta maaf kepadamu lebih sering lagi.” Ah Ran berbisik pelan, mendekati sosok kekasihnya yang sedang memandang malas ke luar jendela. Memandangi langit sore yang perlahan menyelimuti tempat mereka tinggal. “Kau tau? Kadang aku muak berdiam diri di ruangan ini sendirian. Tetapi memikirkanmu berjuang lebih keras dariku dan bekerja keras untuk menghidupi kita berdua membuatku lebih terpuruk..” Hyukjae menarik Ah Ran ke dalam pelukannya, menghirup aroma feminine yang ia keluarkan. Sekaligus menikmati setiap momen yang ada.

“Kau tau? Jika kau bisa mengatasi semuanya dan jika semua bisa berjalan sesuai rencanaku, kita bisa hidup seatap.. Berdua, untuk sementara.”  Ah Ran bergumam, matanya tetap terpaku pada pemandangan di luar jendela itu. Ia menikmati setiap hembusan nafas Hyukjae yang menerpa setiap helai rambutnya. “Aku harap tidak akan ada hal yang menghalangiku untuk menggapai hal itu,” Hyukjae menyahut lembut.

“Apa yang terjadi sekarang, adalah berkah, Hyukjae-ah..” Ah Ran berbisik, menarik kepala Hyukjae agar ia dapat mencuri sedikit rasa manis dari bibirnya. Rasa manis yang memang selalu ada setiap kali ia dan Hyukjae menyatu. Rasa manis yang membuatnya ketagihan, seolah mengikatnya agar tetap setia untuk menemani Hyukjae dalam setiap kondisi.

“Aku rasa jantungku sudah berfungsi dengan normal, seperti harapanmu..Park Ah Ran..” Hyukjae berkata mesra. “Aku harap ia akan bekerja lebih sempurna lagi ketika kau siap untuk menghadapi dunia sekali lagi, Lee Hyukjae..” Ah Ran mendesah lirih, melingkari leher Hyukjae dengan lengannya.

***

“Bagaimana kabar pacarmu yang tak kunjung sembuh itu?” Salah satu teman Ah Ran bertanya sembari mengatur dokumen-dokumen yang berterbaran di depan mereka. “Hei, jaga bicaramu, Nana..” Teman Ah Ran yang lain menyenggolnya, menatap Nana dengan sebal. “Ups, maaf.. Hanya saja.. Aku benar-benar tak bisa menahan perasaan sinisku setiap kali mengingatnya..” Nana meringis bersalah, menatap Ah Ran yang sedang membantu temannya yang lain mengingat kembali beberapa inti pembicaraan rapat mereka hari itu.

“Kenapa hal itu penting sekali bagimu, Nana?” Ah Ran tersenyum, tulus. “Uh.. Hm.. Hanya saja, aku masih sedikit bingung dengan kesetianmu selama ini, Ah Ran.. Setelah berkali-kali kau dicampakkan olehnya, kenapa kau tetap bisa bertahan di sampingnya? Menjaganya selama beberapa tahun belakangan ini?” Nana bertanya, memainkan jari-jari tangannya seolah-olah takut ia akan mendapatkan teriakan kemarahan.

Namun sebaliknya, yang ia dapatkan hanyalah desahan pelan dari Ah Ran. “Kau tau, Nana? Ketika kau mencintai seseorang karena kebaikannya, kau tidak akan pernah bisa lepas dari efek itu. Kau akan terus menerus mencintainya. Kau bahkan akan menikmati setiap luka yang ia berikan kepadamu.” Ah Ran berkata kemudian ia bangkit, berjalan santai menuju sisi lain ruangan yang menghadap jalanan utama Seoul.

“Kau tau Nana? Hyukjae oppa itu tidaklah sejahat yang kau pikirkan. Apa yang selama ini ia lakukan hanyalah semata-semata pelampiasannya karena aku tidak dapat menemaninya setiap saat. Itu adalah ungkapan amarahnya..” Ah Ran menjelaskan secara sabar. Sekuat tenaga, ia melawan butiran air mata yang hampir jatuh. Sekuat tenaga, ia berusaha terlihat tegar di depan rekanan bisnisnya.

‘Tidak disini’ itu lah prinsip yang ia pegang teguh ketika tubuhnya bergetar menahan luapan emosinya. “Sudahlah unnie.. Duduklah.. Ayo..” Min Joo menuntunnya duduk, membisikkan kata-kata menenangkan. Ah Ran hanya mengangguk, pikirannya kosong, ia tidak mendengarkan percakapan Min Joo dengan Nana. Yang ada dalam kepalanya hanyalah rencana yang telah ia siapkan sedemikian rupa. Rencana yang ia siapkan untuk menyelamatkan Hyukjae.

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

***

“Bagaimana, Ah Ran-ah? Sudahkah kau dapatkan?” Hyukjae menghampirinya begitu Ah Ran menutup pintu kamar rumah sakit di belakangnya. “Dapatkan apa, oppa?” “Nama pendonor jantungku?” Hyukjae bertanya, matanya berbinar-binar. “Oppa… Bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak menanyakannya lagi? Pihak rumah sakit juga belum mengkonfirmasi kan? Kita tidak bisa menerima nama pendonor itu sebelum dikonfirmasi,” Ah Ran berpura-pura marah. Ia menggembungkan pipinya dan menatap Hyukjae dengan kemarahan yang dibuat-buatnya.

Hyukjae tertawa kecil dan kemudian mencubit pipi Ah Ran, membuat Ah Ran berteriak terkejut. “Oppa!” Sekali lagi ia mengomel pelan. “Hentikan omelan itu. Aku bosan mendengarkannya,” Hyukjae menggelitik Ah Ran, membuatnya terguling jatuh dari sofa dan berguling geli di lantai rumah sakit. “Hentikan! Hahahahaha… Oppa!!” Ah Ran berusaha menghindar, dengan tawanya yang tak dapat ia tahan.

Tiba-tiba saja, Hyukjae berhenti melakukan apa yang tadinya ia lakukan dengan bersemangat. Ia mengangkat Ah Ran dan mendudukkannya di ranjang kecil yang terdapat di tengah-tengah ruangan. Ah Ran terdiam, matanya menatap mata Hyukjae, menyelami setiap emosi dan perkataan yang ingin dilemparkan oleh Hyukjae. Namun sepertinya, Hyukjae tak ingin mengungkapkan apapun dalam kata-kata malam itu.

Matanya menatap lurus mata Ah Ran. Nafasnya terdengar tenang, suara keributan kota Seoul menjadi suara latar momen mereka. Ah Ran bisa merasakan nafas Hyukjae yang menerpa bibirnya, seolah meminta izin kepadanya. Hyukjae merasa lemas, ketika ia menatap mata polo situ. Hidungnya bertemu dengan hidung Ah Ran, begitu juga dengan kening keduanya. Hyukjae mengusapkan keningnya lembut di atas kening Ah Ran, ia mengeratkan pegangannya di sekitar tubuh Ah Ran.

Senyuman kecil terbentuk di bibir Hyukjae, senyuman kepuasan. Sementara itu, Ah Ran menunduk, tak mampu menyembunyikan perasaan haru dan terkejutnya yang terpancing keluar oleh Hyukjae. Perasaan yang sudah lama tak ia rasakan karena Hyukjae hampir tak pernah ada di sekitarnya. Tak pernah ada untuk berbagi kebahagiaan. Selama bertahun-tahun masa memadu kasih mereka, Hyukjae hanya berbagi kesedihan.

Kejam memang bagi sebagian besar orang. Namun bagi Ah Ran, itu adalah hal yang dapat ia terima. Karena toh, ia dahulunya ditolong oleh kebaikan hati Hyukjae bukan? Karena dulu, ialah yang mengejar-ngejar Hyukjae. Memohon agar ia dapat menjadi kekasih Hyukjae untuk membayar semua hutang budi atas apa yang Hyukjae telah lakukan untuknya.

Ia merasa cukup dengan apa yang telah ia dapat setelah menjadi kekasih Hyukjae. Tentu, ia sedih setiap kali Hyukjae pulang. Mabuk dan berbau parfum wanita, dengan bekas kecupan  di lehernya. Namun, ia tak berhak mengeluh. Semua seolah berubah bagi keduanya ketika penyakit Hyukjae datang, menyisakan Hyukjae yang terkurung di sebuah ruangan rumah sakit terkenal di Seoul dan Ah Ran yang bekerja semakin keras demi kehidupan keduanya.

“Ah Ran.. Kau tidak sedang melamun, bukan?” Hyukjae memberikan kecupan lembut di bibirnya, membuat Ah Ran tersentak kaget, tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. “Kau.. Menciumku?” “Itu kecupan, sayang.. Ini baru ciuman,” Kali ini, tanpa ragu, Hyukjae mencium Ah Ran. Lama, dan dalam hingga akhirnya keduanya harus memundurkan kepala mereka untuk menarik nafas. “Kau menyukainya?” Hyukjae menyingkirkan setiap helai rambut yang menghalangi wajah Ah Ran dari penglihatannya. “Kenapa?” Ah Ran bergumam pelan. Hyukjae terdiam, isakan terdengar jelas dari perempuan di depannya. “Maafkan aku, Ah Ran..” Hyukjae berbisik.

“Maukah kau memaafkanku?” Hyukjae sekali lagi berbisik. Ia mengeratkan pelukannya dengan Ah Ran, membuat tak ada jarak lagi yang tersisa di antara keduanya. “Aku.. Aku.. Aku tak berhak untuk menyalahkanmu atas apapun yang telah terjadi diantara kita, seburuk apapun itu..” Ah Ran menjawab dengan terbata-bata. Nafasnya terasa sesak karena tangisannya.

“Ayolah.. Jangan menangis..” Hyukjae membujuknya, menghapus setiap bulir air mata yang terjatuh. Ah Ran memeluk Hyukjae dengan tiba-tiba , membuat Hyukjae terdorong sedikit karena ketidaksiapannya. Hyukjae mengedipkan matanya kaget. Namun, itu hanya sesaat karena kemudian ia mngelus lembut punggung Ah Ran, menenangkannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: