[FANFICTION] YOU’RE MY DESTINY -PART III / END –

Title : You’re My Destiny

Author : Feyfan

Rate : General

Cast :

-Lee Hyukjae/ Eunhyuk

– Park Ah Ran

– Dokter Kim

“Hyukjae.. Transplatasi jantungmu akan dimulai pagi ini.. Aku harap kau siap.” Dokter Kim menepuk punggung Hyukjae, menenangkannya. “Benarkah? Siapakah nama pendonor itu,dok?” Hyukjae tersenyum sumringah. “Kau tak perlu mengetahuinya. Yang jelas, ia seorang wanita..” Dokter Kim mengatakannya dengan ragu-ragu.

“Bersiaplah.. Operasi akan dimulai 1 jam lagi.. Dan jangan penasaran dengan orang itu, oke?” Dokter Kim tersenyum, dia menggigit bibirnya, menahan perasaan frustasi yang mengguyurnya saat itu. “Suster.. Kau pasti tau nama pendonorku, bukan?” Hyukjae tak menyerah, ia meraih tangan suster yang sedang mempersiapkannya untuk operasi.

“Maaf tuan Lee.. Tapi kami tak bisa membocorkan informasi itu kepada anda..” Suster itu berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Hyukjae. Namun gagal. “Katakan padaku..” Hyukjae berujar tenang, suaranya tegas. Pikiran-pikiran buruk mulai menyergapnya.

“Baiklah.. Karena anda memaksa.. Saya harap anda tidak terkejut, Mr. Lee..” Suster itu menarik nafas sejenak. “Anda tentu kenal dengan nona Park Ah Ran bukan, Mr. Lee?” Saat itu, dunia Hyukjae terasa berhenti. Ia tak ingin mendengar kelanjutannya. Ia terpaku ketika kalimat yang tak ingin ia dengar itu mengalir begitu saja dari suster itu.

“Nona Park menyumbangkan jantungnya untuk Anda, Mr.Lee.. Semalam, Nona Park mengalami kecelakaan dan tampaknya ia tak bisa bertahan.. Sekarang, Mr. Lee. Saya minta agar anda berbaring dan bersiap untuk dibawa ke ruang operasi..”

Bagai terhantam batu besar, Hyukjae menurut. Namun seketika itu juga, pikirannya melayang ke kenangan yang selama ini berusaha dibuat oleh Ah Ran. Bagaimana ia, dengan kejamnya, menanggapi setiap usaha itu sebagai hal yang tidak penting. Bagaimana ia dan Ah Ran seringkali berakhir dengan perkelahian yang awal mulanya tak begitu jelas.

“Mr. Lee.. Saya harap anda tenang dan tidak kaget ketika sampai di ruang operasi..” Suster itu mengingatkannya, sekali lagi. “Kenapa?” Hanya itulah yang mampu Hyukjae ucapkan. Lidahnya kelu, tak mampu mengucapkan lebih dari kata itu. “Karena Nona Park telah sampai di ruang operasi lebih dulu.. Mungkin anda tidak akan suka dengan apa yang akan anda lihat disana,” Suster itu bergumam.

Hyukjae hanya diam, tidak perduli dan tidak ingin perduli. Walaupun ia harus mengakui betapa ia ingin berteriak marah terhadap Ah Ran. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang harus ia lakukan? Ketika perlahan ia memasuki ruang operasi, Hyukjae dapat merasakan hatinya terasa berat. Ia tidak dapat mempercayai apa yang ia lihat di depannya. Ia ingin berteriak, membangunkan Ah Ran, seperti yang dulu sempat ia lakukan.

Atau mengguncangnya, membuatnya sadar. Seperti yang pernah ia lakukan dulu ketika Ah Ran pingsan karena kelelahan. Air mata telah membasahi wajahnya, membuatnya sadar betapa ia telah kehilangan sesuatu yang berharga. Ia tak mampu bergerak. Badannya terasa kaku ketika sekali lagi ia melayangkan pandangannya ke tubuh Ah Ran yang terselimuti alat penopang hidup itu. Ketika itu juga, obat bius menguasai dirinya, membuatnya melayang.

“Oppa!” Ia tidak mengerti. Bagaimana mungkin ia menyia-nyiakan pemilik suara ceria itu? Dalam setiap adegan yang seharusnya bisa menjadi momen membahagiakan bagi dirinya dan Ah Ran, ia mengacaukan semuanya. Di setiap kejutan yang Ah Ran berikan kepadanya, ia melambaikan tangan, tanda ia tak menyukainya. Ia bisa melihat kekecewaan di wajah Ah Ran, namun ia tak pernah perduli.

Baginya, Ah Ran itu tak terlihat. Baginya, setiap hal yang ia lakukan hanyalah sebuah gangguan. Ia ingat, bagaimana ia dengan tidak perdulinya, membawa seorang gadis yang baru ia kenal pulang. Pulang ke rumahnya dan rumah Ah Ran. Ia dengan santainya memperkenalkan Ah Ran sebagai asisten rumah tangganya, membuat Ah Ran terdiam seribu kata, membuat Ah Ran marah kepadanya selama berhari-hari. Namun ia tak pernah perduli. Dan Ah Ran akhirnya menelan semua kekecewaannya, ia kembali menjadi Ah Ran yang ceria.

Semua hal itu membuatnya gila. Ketika akhirnya ia diagnose mengalami kerusakan jantung, Ah Ran lah yang mengurusnya. Ah Ran yang marah ketika ia tidak ingin mengikuti prosedur rumah sakit. Ah Ran yang terdiam menahan malu ketika Hyukjae melakukan hal tidak sopan terhadap dokter yang menanganinya, dan hal itu berakhir buruk karena akhirnya dokter itu menolak untuk merawat Hyukjae. Ia ingat, Ah Ran menangis frustasi ketika ia berpura-pura tidur. Menangis karena ia begitu putus asa untuk mencarikan dokter pengganti, dokter yang bisa menangani Hyukjae.

Ia juga ingat, betapa letih wajah Ah Ran ketika tahun kedua  perawatan dimulai. Ah Ran tersenyum santai, mengobrol biasa dengannya. Dan mengganti topic setiap kali ia bertanya tentang harinya. “Ayolah oppa.. Kau takkan tertarik..” Itulah yang ia ucapkan. Beberapa hari kemudian, barulah ia ketahui bahwa Ah Ran baru saja dipecat dari kantornya karena ia terlalu sering pergi menengok Hyukjae di sela-sela jam kantor yang padat. Dan bosnya tidak menyukai itu. Dan Hyukjae tak mampu berkata apa-apa, ia memilih diam.

Ia tau, luka hati Ah Ran itu sama sekali tak pantas ia dapatkan. Setiap kali ia mengusirnya, berusaha membebaskannya dari jalinan kasih mereka yang sama sekali tidak jelas, Ah Ran selalu mengingatkannya akan awal mula pertemuan mereka. Awal mula ketika Hyukjae tanpa sengaja menyelamatkan Ah Ran yang dibuang oleh orang tuanya. Ah Ran yang ketika itu hampir mati membeku. Pengorbanan yang ia lakukan untuknya terasa jauh lebih banyak dari apa yang Hyukjae telah lakukan.

Tiba-tiba, semua kenangan itu tergantikan oleh satu sosok nyata yang ia kenal. “Ah Ran..Park Ah Ran..” Ia bergumam tak percaya. “Oppa..” Sosok itu tersenyum manis. “Apa yang kau lakukan disini? Ikutlah denganku Ah Ran, mari kita pulang..” Hyukjae menggenggam tangan gadis itu, matanya berkaca-kaca. Ah Ran tersenyum tulus. “Tidak, oppa.. Aku tidak bisa.. Kalau kau mau, oppa.. Pulanglah.. Aku harus meneruskan perjalananku..” Ah Ran berkata, siap untuk melepaskan tangannya. Namun tidak dengan Hyukjae. “Aku ikut denganmu.” Hyukjae berkata yakin. “Kau harus pulang,oppa..” Ah Ran menggelengkan kepalanya. “Tidak! Aku ikut denganmu.” Hyukjae berujar lebih tegas.

Air mata menuruni wajah Ah Ran. “Kenapa kau tak pernah mendengarkanku?” Ah Ran berujar putus asa. “Kumohon.. Kali ini saja, Ah Ran..” Hyukjae memohon, Ah Ran akhirnya luluh. Ia mengangguk. Hyukjae memeluknya, dan sosok keduanya perlahan menghilang. Menyisakan teriakan frustasi dari sebuah rumah sakit.

Di ruang operasi, Dokter Kim berteriak frustasi. Tak mempercayai apa yang baru terjadi. 5 menit yang lalu, ia yakin Hyukjae telah sadar, dan jantungnya berfungsi. Namun 5 menit kemudian jantung itu berhenti. Tak dapat ditolong lagi. Ia menggelengkan kepalanya, memutuskan untuk menghentikan semua proses. Ia mengangguk, membiarkan asistennya menjahitkan tubuh Ah Ran dan Hyukjae kembali ke posisi utuh.

 

***

“Kalian tau? Bahkan sampai detik-detik akhir hidup kalian, kalian itu menyusahkanku. Puaskah kalian sekarang berdua? Bahagiakah kalian disana?” dokter Kim memandangi kedua gundukan tanah di depannya. Tempat terakhir Hyukjae dan Ah Ran beristirahat.

“Aku benar-benar berterima kasih atas pelajaran yang kalian berikan.. Semoga saja kalian di sana hidup dengan tenang..” Ia berbisik lagi. Dokter Kim meletakkan bunga yang ia bawa di kuburan Ah Ran dan Hyukjae. Dan berbalik pergi. ‘Terima Kasih, dokter…’ samar-samar ia mendengar suara Ah Ran disertai tawa kecil Hyukjae terbawa angin. Ia tersenyum, mengangguk dan meninggalkan tempat pemakaman itu.

***

Hyukjae tak mempercayai pendengarannya. Ia menatap dokter di depannya dengan tak percaya. Di sebelahnya, Ah Ran mematung. “Maafkan saya.. Tapi sepertinya anda memang harus di rawat, Tuan Lee. Jantung anda sudah benar-benar rusak..” “Tapi pasti masih ada cara kan dok?!” Ah Ran menyahut, mengagetkan Hyukjae. “Maaf.. Satu-satunya cara hanyalah transplatasi.. Sementara itu Mr.Lee mungkin lebih baik dirawat di rumah sakit..” Dokter itu berujar.

Ketika mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumah mereka, Ah Ran angkat bicara. “Kau harus dirawat oppa..” “Tidak.” “Harus oppa! Aku tidak ingin melihatmu meninggalkanku secepat ini!” “APA URUSANMU JIKA AKU MENINGGALKANMU ?! APA?!” Hyukjae berteriak keras, wajahnya memerah marah. Ia membanting setir mobil sehingga mobil menabrak pembatas jalan, sehingga tanpa sengaja pula, Ah Ran terlempar ke depan, menabrak dashboard mobil. “Ah..” Ah Ran mendesis. Tak ada cedera khusus. “Oppa.. Kumohon..”

Air mata Ah Ran turun saat itu juga. Hyukjae menatap keluar jendela, orang-orang mulai mengerubungi mobil mereka. “Tidak..” Dan saat itu, Hyukjae mendapatkan kenangan tak terlupakan ketika Ah Ran turun dari mobilnya, membuka pintu mobil dan menariknya turun. Ah Ran berlutut, hampir bersujud di depannya, isakannya terdengar. “Kumohon……” Dan saat itulah ia luluh. Saat itulah ia tau ia harus menyerah. Pada Ah Ran dan pada penyakitnya. Membuatnya memulai sebuah hidup baru. Bersama Ah Ran. Suatu hal yang dulunya tak pernah ia pikirkan.

 

– THE END –

 

Sedikit arahan : Jadi untuk yang akhir-akhir itu, yang dikasi line miring. Itu kejadian sebelum Eunhyuk masuk rumah sakit. Intinya, yang akhir itu awal dari ide gila Ah Ran buat bunuh diri terus abis itu nyumbangin jantungnya ke Eunhyuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: