FANFICTION – MISS YOU SO.

Selagi ia menyusuri jalanan kecil itu, matanya tak pernah meninggalkan pemandangan langit diatasnya. Begitu berkilau, begitu luas dan begitu cantik. Ia memutuskan untuk mengabaikan rasa sakit yang muncul di lubuk hatinya ketika ia berusaha mengingat setiap kepingan ingatan yang telah terpecah begitu saja setelah beberapa tahun lewat begitu saja.

Mengingat gadis itu sama saja dengan membodohi diri sendiri. Ia tidak akan kembali ke sisinya. Tidak saat itu, saat ini, maupun di masa depan. Gadis itu telah meninggalkannya, dengan kekosongan jiwa yang tak mungkin terisi kembali. Karena ia telah dengan berani, menutup ruangan kosong itu. Ia akan membiarkannya kosong, tanpa ada orang yang boleh membukanya ataupun mengisinya. Cukuplah gadis itu yang pertama dan terakhir kalinya mengisi ruangan kosong itu.

Cukup sekali itu saja, karena hanya gadis itu yang mampu melumpuhkan dirinya. Hanya gadis itu yang mengerti tentangnya. Ia menghela nafas berat, tak menyangka ia bisa menjalani hari ini tanpa banyak hambatan. Hal yang tadinya ia kira susah setelah kepergian gadis pujaannya itu. Gadis itu menghilang dengan misterius, membuatnya bertanya-tanya. Dapatkah ia bertemu lagi dengan kekasihnya itu? Walaupun hanya sekali dan untuk terakhir kalinya ?

Memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan hatinya, ia melanjutkan ayunan langkah kakinya. Kali ini sedikit lebih cepat karena hembusan angin bertiup lebih kejam dari biasanya. Hawa dingin menyelimutinya, dan ia tidak menyukainya. Hawa ini adalah hawa ketika gadis pujaannya itu pergi meninggalkannya. Ia menggumamkan hal-hal tak masuk akal dengan lirih, hanya untuk membunuh perasaan gelisah di hatinya.

“Aku senang melihatmu lagi setelah sekian lama.” Suara merdu seseorang menyentakkannya dari lamunannya. Ia menengadah dan sejurus kemudian merasakan hatinya menghangat walaupun badannya memutuskan untuk membeku di tempat. “Kau…” “Selamat malam, master. Sepertinya kau baru saja menikmati hari yang buruk.” Gadis itu menghampirinya, ia terlihat banyak berubah. Ia terlihat lebih bebas dari sebelumnya. Hal yang gadis itu tak dapatkan sewaktu masih bersamanya. Gelombang perasaan bersalah menghantamnya ketika ia menyadari hal itu.

Tubuh semampai gadis itu kini telah berada di depannya, ia tersenyum dengan manis. Persis seperti yang ia ingat ketika terakhir kali ia melihat gadis itu melambaikan tangan kepadanya di suatu pagi hari yang muram.

“Kau terlihat menawan.” Ia bersusah payah membiarkan dirinya dituntun oleh si gadis, walaupun ia ingin sekali menuntut penjelasan dari bibir mungil nan menggoda milik gadis di depannya itu. Mereka kini tengah berada di depan pintu rumahnya. Pandangan mereka beradu, membuatnya sedikit goyah. Ia sudah terlalu lama memimpikan hal seperti ini akan terjadi, dan hal itu menjadi kenyataan.

“Aku merindukanmu.” Ia mengucapkannya pelan, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencium gadis di depannya itu. Ia sudah terlalu lama menantikan ini, terlalu lama bermimpi tentang ini dan terlalu lama menahan godaan itu. Gadis di depannya hanya tersenyum sebelum memeluknya erat. “Aku juga merindukanmu, sangat merindukanmu.” Gadis itu berbisik mesra.

Keduanya hanya saling memandang, saling bercerita tanpa suara. Membagikan pengalaman masing-masing selagi masih dengan saling menatap, mereka menaiki tangga rumah itu. Menaiki tangga perubahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: