[FANFICTION] BABY, I WANT TO BE WITH YOU.

Cast :

-Kyomoto Taiga (Johny’s Jr)

-Mei

Jika memang aku tak bisa menggapainya, biarkanlah sekali ini saja aku menikmati waktu yang berlalu tanpa merasa tersiksa. Mata yang tertutup seolah membantuku melalui semua ini. Senyuman pahit tanpa sadar terlepas begitu saja. Dan tepat di saat aku menikmati tikaman rasa sakit itu, DIA muncul. Membuat semua rasa sakit tergantikan dengan sedikit porsi rasa bahagia.

“Ayo,” Ia mengambil tanganku, menggenggamnya erat. Ya, biarlah sehari ini aku mendapatkan perhatian lebih darinya. Cukup sekali ini saja. Walaupun di luar sana ada banyak rona wajah yang tidak setuju dengan kedekatanku dengannya, aku tidak perduli. Hanya sekali, sebelum mungkin kami tidak akan bertemu lagi.

“Hey.. Ayolah, kamu yang menyarankan date ini dan kamu yang pikirannya hilang entah kemana?” Ia cemberut, menatapku dengan matanya yang kecil dan berbinar kecokelatan itu. “Haha.. Maaf..Sedikit tidak percaya,” Aku menjulurkan lidahku. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan menarikku memasuki mobil yang akan mengantarkan kemanapun keinginan hati kami ingin menuju.

***

Kalau boleh jujur, siapa sih yang tidak akan tertarik mendapatkan kesempatan 7 hari 7 malam bersama seorang cowok keren,cakep, dan errr… kamu taksir? Nah, itu lah yang aku rasakan. Tapi tolong tambahkan, bahwa dalam kasusku, ini semua terpaksa kami lakukan karena aku memaksanya dengan rengekanku. Yah, aku bersyukur hari itu aku terserang virus hyperactive seperti biasa.

Tapi toh, pada akhirnya dia tidak menolak tawaranku karena tempat ini terlalu bagus untuk ditolak. Hahahaha.. Sebuah tempat di dekat pantai di daerah Lombok. Eh, aku tak begitu tau sih namanya, Jujur aja, aku bodoh dalam urusan mengingat nama tempat. Karenanya kemungkinan besar aku tersesat itu selalu ada.

Buku yang berada di tanganku perlahan dijatuhkan olehnya. Wajahnya mengintip di sela-sela buku cukup untuk membuatku menaikkan alis. Aku tidak akan pernah berteriak walaupun jarak kami cukup untuk berciuman. Aku bukan orang yang akan kaget karena hal seperti itu. Matanya menampakkan jelas hal yang membuat hatiku berdebar sedikit cepat.

Sedikit rasa penasaran dan sebal. “Apa?” akhirnya aku bertanya, mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengatakannya. “Main,” Dia mengatakannya dengan singkat disertai kerutan-kerutan lucu di wajahnya. Seolah-olah merengek padaku untuk mengabulkan permintaannya. “Baiklah..” Aku mengalah, mengikuti langkahnya yang bersemangat menuju pantai yang berada dekat dengan hotel.

***

“Kau …hhhh…Gila…” aku mendengus kesal. Ternyata, panas matahari disini lebih kuat dari yang kubayangkan. Dan sialnya , aku sedikit tidak aware dengan keadaan. Jadilah aku korban gaya pakaianku sendiri. Hak tinggi , yang untungnya bukan hak bermodel tipis, dan baju minim. Topi lebar yang kukenakan sedikit melindungiku.

Tawa renyah keluar dari Taiga. Aku semakin mendengus sebal mendengar tawa mengejeknya. “Hehe..Maaf..Ayolah, jangan cemberut..Jelek tau,” Taiga menggembungkan pipinya sembari melepaskan jaketnya sendiri. Ia menyodorkan jaketnya kepadaku dan tersenyum lebar, “Ambil itu.”

Dan setelah itu, ia berlari menjauhiku, menuju tepi pantai yang telah menghantarkan ombak. Seolah sedang menyambutnya. Sosok Taiga yang tertawa dengan riang, melepaskan seluruh kecemasannya merupakan tontonan yang terlalu menarik bagiku. Tanpa sadar, kakiku telah melangkah menuju sebuah tempat teduh dan duduk untuk melanjutkan tontonanku terhadap aksi Taiga.

Taiga melambai bahagia saat mendapati tempatku berteduh, maka aku pun balas melambai kepadanya. Tiba-tiba, di saat aku sedang menatap kosong kearah lain, bayangan Taiga menaungi mataku. “Yuk balik ke kamar..Sepertinya kamu sudah kepanasan banget,” dia tersenyum. Aku hanya mengangguk, dan sebelum aku sempat berjalan lebih jauh, Taiga menggendongku. Kau tau bridal style? Yah, seperti itu lah caranya menggendongku. Bajunya basah, aku tersenyum geli ketika menyadarinya.

“Kenapa kamu tersenyum?” Taiga mengangkat alisnya dengan heran. “Kamu membuatku bajuku basah,” Aku pura-pura mendesah sebal. “Itu jauh lebih baik daripada jari kakimu luka dan tidak bisa jalan lagi untuk beberapa waktu kan?” Dia menjawab dengan acuh. Mukaku sedikit memerah karena sindiran tak langsungnya.

Tanpa memperdulikan reaksiku, Taiga berjalan dengan tetap membawaku dalam gendongannya. Aku tidak perduli lagi seberapa jauh atau seberapa dekat jarak kami dengan kamar kami. Yang aku sukai saat itu adalah rasa sadar bahwa dia berdekatan denganku, dengan jarak yang dekat. Aku mengalungkan tanganku di sekeliling lehernya, membuat jarak kami bahkan semakin tak kasat mata. Aku sama sekali tidak melihat senyuman kecil yang terbentuk di wajahnya.

***

“Jadi gimana?” Taiga memandangku saat kami merayakan hari terakhir kami di pulau itu. “Apanya yang bagaimana?” aku tidak menatap matanya melainkan menatap makanan yang tersedia di depanku. Semuanya berbumbu pedas dan nampaknya sangat menggiurkan. “MEILA KIM!” Taiga entah bagaimana, telah duduk di sampingku dan berteriak cukup keras, membuat beberapa  pengunjung menatap kami dengan pandangan tidak suka. Aku membungkukkan badanku sebagai tanda minta maaf kepada mereka.

Taiga masih menatapku dengan kesal dan bahkan tidak meminta maaf atas sedikit keributan yang ia timbulkan. “Apaan sih? Apanya yang gimana? Aku kan sudah bertanya !” Aku menggembungkan pipiku sedikit, merasa jengkel dengan kelakuannya. Karena perdebatan kami, makanan yang telah kami pesan sama sekali belum tersentuh.

“Kamu mau lanjut sekolah dimana?” Ia menatapku dengan penuh perhatian, membuat jantungku berdetak lebih kencang. “Eurm… Belum terpikir…Lagian masih ada waktu 1 semester lagi kan?” Aku menatapnya dengan tatapan polos agar ia tak bisa melihat perasaan yang berkecamuk di pikiranku. “Bagaimana kalau ikut aku ?” Taiga memiringkan kepalanya, membuatnya terlihat lebih bersinar.

“Kemana? Ke Jepang seperti impianmu itu?” “Hey! Aku tidak bermimpi.. Aku memang warga Negara Jepang,” Taiga cemberut. “Eh.. Iya sih .. Aku baru inget kamu ke sini buat pertukaran pelajar selama 1 tahun..” Aku bergumam kecil. “Nah! Ikut aku nanti waktu balik ke Jepang. Gimana? Sekolahku itu salah satu yang terbaik..” Taiga menjelaskan dengan semangat, tanpa memperdulikanku yang menatap makanan di depan kami dengan tatapan rindu.

“……. Nah, kamu tertarik?” Ia menyelesaikan penjelasannya dengan senyuman bodoh terpasang di wajahnya. “Bagaimana kalau aku gagal? Dan ngomong-ngomong, aku lapar,” “Hey! Kamu belum mencobanya dan baiklah… ayo makan..” Taiga akhirnya menyerah padaku. HAHA!

Aku meraih sendok yang terletak tepat di sebelah sumpit, yang entah kenapa ada di sana. Aku tidak terbiasa memakai sumpit dan lagi pula apa gunanya sumpit untuk makanan seperti ini? Dengan gerakan yang sangat cepat, Taiga memukul tanganku. “PAKAI SUMPIT!” Dia mendesis dengan menyeramkan. “No! Never!” Aku balas mendesis. “Kamu mau tinggal dan sekolah ke Jepang kan?! Ayo, pake sumpit!” Dia memaksaku untuk mengambil sumpit itu dan menggunakannya. Aku merengut sebal. Bukannya aku tidak bisa memakai sumpit, hanya tidak TERBIASA dan merasa aneh dengan penggunaannya untuk makanan Indonesia. “Ini menyulitkanku untuk makan,” aku mengeluh dan hanya mendapatkan senyuman licik dari Taiga.

Karena capek memegang sumpit, nafsu makanku benar-benar hilang sementara Taiga dengan lahap melanjutkan makannya. Bagaimana mungkin dia bisa selincah itu walau memakai sumpit? Aku berpikir sembari menatapnya dengan heran. Taiga sepertinya menyadari tatapan yang kuberikan karena kemudian dia menoleh kepadaku. “Kenapa gak dihabisin makanannya?” Dia bertanya dengan matanya yang bersinar-sinar bahagia. Makanan memang segalanya yah -_-

“Aku tidak bisa makan banyak dengan sumpit ini!” Aku mengatup-atupkan sumpit itu di depan muka Taiga. Taiga sampai harus berkedip beberapa kali karena aku mengatupkan sumpit itu dekat dengan matanya. “Baiklah… Mungkin ini agak susah karena makanan ini licin untukmu.. Kalau begitu, buka mulutmu,” Taiga mengarahkan sumpitnya ke piringku. “KAMU NGAPAIN?” Aku menatapnya dengan tidak percaya. Apa dia mau mengambil makananku?! “Bukannya tadi kamu sudah aku suruh untuk membuka mulut?” Dia menatapku dengan tenang sembari sumpitnya masih bermain-main di piringku.

Aku menggembungkan pipiku sebelum menuruti perintahnya. “Tutup mata sekalian,” dia menambahkan dan mendapatkan pandangan mencibir dariku. Tapi toh, aku menuruti perintahnya. Perlahan, aku merasakan makanan telah memasuki mulutku. Aku menggapai tangan Taiga, menahan sumpit sialan itu di dalam mulutku sembari melepaskan semua makanan yang ada dari jepitan sumpit itu. Entah aku hanya berkhayal atau tangan Taiga memang sedikit bergetar saat aku memegang tangannya.

Aku membuka mataku perlahan, melepaskan sumpit itu dari kurungan mulutku namun tidak membiarkan tangan Taiga lolos begitu saja. Aku masih memegangi tangannya. Awalnya, pandanganku sangat kabur entah kenapa. Setelah beberapa kali mengerjapkan mata, barulah kusadari kalau Taiga berada dekat sekali denganku. Wajah kami benar-benar hampir bersentuhan.

Sedetik,dua detik, tiga detik, aku terus menghitung dan ketika hitunganku mencapai angka 7, bibir kami telah bersentuhan. Lembut, hanya itu yang bisa kukatakan tentang ciuman singkat kami. Tapi itu hanyalah ciuman singkat, well.. Kami masih berada di depan public!

“Maaf,” Taiga bergumam. “Eh… aku menyukainya,” tanpa sengaja, aku mengucapkan apa yang ada di pikiranku. Mata Taiga menatapku dengan terkejut, mungkin ini pertama kalinya ia mendapat pengakuan yang blak blakan begini. “Kamu benar-benar tidak bisa menahan ucapanmu ya?” Taiga tertawa kecil. Mukaku semakin memerah dengan sindirannya yang kesekian kalinya.

“Taiga-san..” “Hem?” “Aku ingin bisa berdekatan denganmu.. Untuk waktu yang belum kuketahui sampai kapan,” “Kau gila, kau tau itu, Mei?” “Sangat mengetahuinya.”

Mata Taiga menyusuri pemandangan ombak air laut yang menghantam pasir pantai dengan kerasnya. “Kalau begitu, aku ingin mengetahuinya lebih lanjut… Aku harap kamu bisa bertahan begitu kamu memasuki kehidupanku,” Dia berbisik pelan, menoleh kembali padaku dan mendekapku lama.

“Aku ingin menggigit bibirmu, kamu tau itu?” Taiga berbisik nakal. “Oh.. Aku bersyukur hanya aku yang bisa menggigitnya,” Aku mengedipkan mataku pada Taiga sembari mengigit bibirku.

“Kau… Lihat saja nanti!” Taiga tertawa, memelukku dengan kehangatan kasih sayang sebatas yang mampu ia berikan padaku pada malam itu. Membuatku semakin mengetahui, bahwa rasa ini sebanding dengan pengorbanan yang harus kulakukan nantinya.

 

-THE END-

Iklan

2 thoughts on “[FANFICTION] BABY, I WANT TO BE WITH YOU.

Add yours

    1. Hehehe… Ini cerita yang udah kelamaan disimpan xD Jadi gak sempat revisi2 ulang ~
      :)) Ternyata ada juga yang suka ^_^ ~ Ntar dibuatin sequal deh …
      Yg lebih extreme skinshipnya #eh #noyadong kok~ >~<
      Thank u udah comment + like ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: