[FANFICTION] HEY, DARLING~

Author: Feyfan

Cast :

-Kyomoto Taiga

-Mei

-Unknown guy

Rate: G

Aku hanya mengangguk setuju selagi sosok di depanku terus menerus berbicara. Aku sama sekali tidak mengerti arah pembicaraanya, jadi aku hanya mengunci rapat-rapat mulutku.  ‘Percuma berbicara jika nantinya malah tidak nyambung’, aku berprinsip seperti itu selagi sekali-sekali melemparkan senyuman lebarku kepadanya.

“…. Begitu! Tidakkah kau setuju?” Ia akhirnya melontarkan pertanyaan finalnya! Aku tak dapat menahan perasaan gembira yang membuncah saat ia berhenti berbicara, namun aku berhasil mengontrol perasaan itu saat aku akhirnya memutuskan untuk berbicara. “Ya. Sepertinya begitu. Maaf, tapi aku harus permisi. Aku ada kepentingan lain. Permisi.” Aku tak memperdulikan salam basa basinya yang mengiringku menuju pintu keluar, yang aku inginkan hanyalah keluar dari tempat ini. Paling tidak, aku tak akan melihat sosok menyebalkan itu untuk beberapa saat.

“Harimu buruk?” Tepukan halus di pundak menyentakkanku. Setelah memperhatikan pria yang melakukan hal itu, aku mulai merasa rileks. “Kurang lebih begitu. Seseorang memutuskan untuk menceritakan banyak peristiwa menarik kepadaku. Bagaimana denganmu? Sepertinya harimu baik sekali?” Aku berkata, menyesuaikan langkah kakiku dengannya. “Darimana kau menyimpulkannya? Aku baru saja mendapatkan klien yang dengan baik hatinya bertanya mengapa tanganku terlihat aneh.” Ia memasang muka dingin ketika mengucapkannya, dan seketika itu juga aku merasa beku.

Aku benci ketika seseorang menanyakan hal tersebut kepadanya. Itu bukan salahnya bukan jika ia memiliki fisik yang berbeda? Mengapa orang-orang kadang begitu bodoh untuk menyadari kelakuan mereka terhadapnya? Tak bisakah mereka berpikir terlebih dahulu sebelum berujar? Aku mendesah kecewa memikirkannya.

“Tabahlah. Aku mengerti itu bukan pembuka hari yang bagus. Tapi hey! Ini baru awal saja. Kau masih memiliki sisa hari ini dalam genggamanmu.” Ia menatapku dengan eye-smilenya yang begitu mempesona. “Terima kasih untuk dukungan motivasimu, Mei. Aku menghargainya.” Ia mengecup kilat pipiku sebelum mempercepat langkahnya, meninggalkanku dalam kebingungan yang dalam.

“Sialan! Lagi-lagi ia melakukannya!” Aku menggerutu sebal, berbalik arah karena menyadari bahwa aku telah pergi terlalu jauh. Sama sekali tidak memperhatikan senyuman puas yang terbentuk di wajahnya ketika aku berbalik menjauh.

***

Tampaknya hari itu tidak seburuk yang aku kira, aku sukses melakukan sebagian besar pekerjaanku tanpa hambatan yang berarti. Lirikan-lirikan penasaran dari beberapa orang tampaknya bisa dikualifikasikan sebagai bentuk gangguan yang bisa kuatasi. Aku menghembuskan nafas lega ketika pekerjaanku telah selesai.

Aku melirik jam tanganku, dan seketika itu juga menyadari bahwa aku telah terlambat beberapa menit untuk makan siang. Aku melenguh sebal, satu hal yang paling kubenci dalam pekerjaanku ini adalah, pegawainya tidak dapat membedakan waktu. Karenanya, bukan hal yang aneh jika aku melewatkan jam makan siang tanpa menyadarinya.

Dan aku membencinya, itu karena aku berarti melewatkan waktu untuk menghibur diriku dengan makanan. “Kau belum mau keluar?” Sapaan yang terkesan tiba-tiba itu membuatku berpaling cepat ke sumber suara. Dan dia berdiri di sana, memandangku dengan senyumannya yang mematikan itu.

“Eh.. Kau sedang apa disitu?” Aku balik bertanya, tak dapat menyembunyikan kegugupanku ketika menatapnya lebih lama dari seharusnya. “Aku? Aku sedang menungguimu, siapa tau kau ingin keluar makan bersamaku?” Ia mengucapkan dengan santai tanpa ada beban sedikitpun. Aku bisa merasakan jantungku berdebar lebih cepat mendengar ucapannya, apakah ini hanya aku atau ia sedang mengajakku untuk lunch date?

“Apa kau serius mau mengajakku?” Aku bangkit, membereskan mejaku dan meraih tasku, siap untuk mencari tempat makan siang. “Kalau kau tak mau mengambil kesempatan itu, aku tidak keberatan.” Ia menjawab cuek dan berjalan meninggalkan ruanganku terlebih dahulu, memimpin setiap langkahku.

Aku tak berusaha mengejar langkah-langkahnya, namun aku memilih untuk diam saja dan mengikutinya. Aku tau ia telah memenangkan argumentasi tak terlihat kami, sekali lagi. Aku akuin aku memang lemah setiap kali berhadapan dengannya. Bukan karena aku memang wanita yang lemah, hei! Aku termasuk jajaran wanita yang sangat susah ditangani karena terlalu mandiri di kantor ini. Tidak, bukan itu alasannya.

Aku telah menyukai sosok di depanku itu untuk beberapa lamanya, aku telah menyukainya sejak lama, tapi aku menyimpannya rapat-rapat. Aku tak ingin ia tau, and I really doubt if he had known about it now. Aku adalah orang yang vocal ketika aku menyukai seseorang, aku akan mengatakannya langsung, tak perduli ia akan memandangku seperti lama. Dan aku akan menyukai orang tersebut dalam waktu yang lama, seolah-olah orang itu adalah pacar asliku dan aku berkewajiban untuk setia kepadanya.

Namun kebiasaanku dalam hal vocal terhadap orang yang kusukai benar-benar mati ketika aku mengenal dirinya. Aku menahan bagian diriku yang lain untuk tidak berbuat vocal terhadapnya, tidak. Sama sekali tidak. Apakah aku sudah memberitahumu bahwa ia telah memiliki seseorang kekasih?

Ia tidak pernah mengakuinya, namun di zaman yang serba tekhnologi ini, kau bisa menyelidiki latar belakang seseorang hanya dengan sedikit kerja keras. Dan aku berhasil melakukan hal itu terhadap dirinya. Awalnya, hal itu memang menghancurkan diriku berkeping-keping.

Aku merasa begitu hopeless, pada awalnya. But thanks God, aku dapat bangkit dari hal itu. Dan kini, dengan dirinya yang bersikap begitu baik padanya, hatiku terasa lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Aku tau, aku bukanlah sosok yang lebih sempurna dari kekasihnya sekarang, aku tak akan pernah bisa melampaui kekasihnya. Satu hal lagi yang perlu kau tau tentang diriku. Aku memiliki prinsip bahwa aku tak akan pernah menyukai orang yang telah memiliki pacar, tidak kecuali ia kemudian putus dengan orang itu. Dan itu berlaku pada dirinya juga, tak perduli seberapa besar aku berteriak frustasi tiap malam karena sekali dua kali aku masih memikirkan dirinya.

“Lain kali, cobalah untuk focus pada satu hal.” Perkataan mendadaknya membuatku terpaksa mengangkat kepalaku dari piring makan siangku. “Apa maksudmu?” Aku menatapnya seolah-olah ia sudah gila. Tentu saja dia sudah gila! Ia membuatku batal memakan makanan siangku! “Yah, misalnya saja sekarang ini. Kau menyukai pria yang menjadi calon partnermu itu kan?” Ia mengatakannya dengan senyuman pengertian yang tersampir di wajahnya. Astaga, bagaimana mungkin ia bisa begitu buta akan hal seperti itu? Aku tanpa sadar terdiam cukup lama hanya untuk memandanginya dengan tidak percaya. Perkataannya benar-benar membunuh selera makan siangku, maka yang kulakukan hanyalah menyesap minumanku dan menunggunya menyelesaikan makanannya.

“Kau tidak makan?” “Tidak. Kau benar-benar membunuh selera makanku dengan berkata hal kurang ajar seperti itu.” Aku menimpalinya dengan sadis. “Terserah kau lah. Yang jelas, Mei. Jika kau ingin bersamanya untuk waktu yang lama, alias membina sebuah hubunganmu atau apalah yang lebih dari sebatas teman, berhati-hatilah. Aku menyukainya, tapi tampaknya dia sedikit protective. Mungkin kau bisa mengatasinya.” Ia berkomentar sementara tangannya tak henti-hentinya menyendok makanannya dengan tampang bosan.

“Sebaiknya kau cepat-cepat menghabiskan makananmu, jam makan siang hampir berakhir,” Aku memutar balikkan topic pembicaraan kami sembari berpura-pura mengecek jamku. “Terserah kau lah.” Dan keheningan pun menyelimuti kami.

***

Aku menghempaskan badanku dengan keras ke atas ranjang kamar tidurku. Sepertinya hari ini tidak lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bahkan hari ini hampir saja menjadi hari terburuk dalam sejarahku bekerja. Ponselku berbunyi nyaring, membuatku mengeluh keras-keras tentang jam mengobrol. Tidakkah orang itu sadar sekarang ini jam berapa?

“Halo?” Aku memutuskan untuk menggunakan suara formalku selagi menjawabnya. “Harimu buruk sekali ya?” Jawaban tanpa basa-basi itu seolah menyentakkanku. “Ah! Kau rupanya. Ada apa?” Moodku langsung naik begitu mengenali suara yang begitu akrab itu. “Mei, kau belum menjawab pertanyaanku.” Ia mengomel panjang-pendek, membuatku terkikik. “Baiklah, hariku memang sedikit buruk, tapi taka pa. Masih ada hari esok. Jadi, ada apa kau menelpon, Mr.Taiga?” Aku tanpa sadar telah tersenyum-senyum selagi kakiku melangkah, membawaku keluar dari kamar tidur utamaku.

“Aku butuh tempat menginap nih, apakah tempatmu available?” Ia bertanya dengan nada yang aku pastikan adalah nada bermanis-manis saja. “Kau sedang di kotaku?! Kenapa tak bilang sih dari awal? Datanglah! Kapan sih pintu rumahku ini tertutup bagimu?” Aku mengatakannya setengah bercanda.

“Ah, Mei. Aku bahagia sekali jika pintu itu tidak pernah akan tertutup bagiku.” Ia menyahut dari ujung telepon dengan nada sarkatis. Kami berdua meledak dalam tawa. “Baiklah. Aku tunggu ya.” Aku menutup pembicaraan, diiringi dengan ucapan “hemm..” nya sebelum memutus pembicaraan kami.

***

Taiga terlihat lebih tampan sejak terakhir kali aku melihatnya, dan itu hampir 3 bulan lalu. Sekarang ia berada di sini dan memelukku dengan teriakan gembiranya, aku dapat menyimpulkan bahwa hidupnya berjalan dengan mulus dalam 3 bulan tersebut.

“Bagaimana kabar karirmu, darling?” Ia bertanya dengan Bahasa Indonesia yang masih beraksen Bahasa Jepang. “Quite impressive.” Aku menjawab acuh dalam pelukannya. Ya, walaupun kami tak terikat hubungan apapun selain pertemanan, tampaknya hal-hal intim seperti ini adalah hal wajar bagi kami.

“Glad to hear that.” Dia menjawab, maka kami pun tenggelam dalam keheningan yang membiarkan pikiran kami melayang kemana-mana. “Bagaimana denganmu?” Aku akhirnya bertanya, aku semakin merapatkan tubuhku dengan dirinya.  “Menurutmu bagaimana?” Ia balik bertanya dengan nada jenakanya, membuatku mau tak mau tersenyum simpul mendengar balasannya.

“Aku dengan kau melakukan banyak hal dengan sangat baik, tampaknya sekarang kau sudah menjadi model terkenal alih-alih seorang penyanyi dan dancer?” Taiga mengacak-acak rambutku dengan gemas, membiarkanku berteriak-teriak marah padanya sebelum menjawab pertanyaanku. “Betapa kejamnya pertanyaanmu itu, sayang.” Ia menghembuskan nafas sebal. Aku tau ia sedikit kesal karena aku telah menyindir perkejaannya yang walaupun berkembang, tentulah tak seberkembang harapannya.

“Apakah aku harus meminta maaf padamu?” Aku bertanya sembari berusaha terlihat imut di depannya. Namun yang kudapat adalah sentilan yang cukup keras di keningku ketika aku melakukannya. “Jangan sok imut, Mei. Aku benci melihatmu seperti itu, itu memuakkan.” Ia mengomeliku, aku meringis mendengarkannya. Yah, sebagian lagi memang berasal dari sentilan jahilnya di keningku.

“Kau ini! Sakit tau!”Aku menggembungkan pipiku dengan sebal. Tanganku masih mengusap-usap perlahan keningku yang terkena sentilannya. “Apakah sesakit itu?” ia bertanya dengan nada bersalah, ya aku bisa menangkap adanya rasa bersalah dalam nada itu. “Iya. Kau kan tau kalau tanganmu itu sekeras besi!” Aku bersungut-sungut, masih dengan muka cemberut dan nada marah yang kutujukan padanya.

“Maaf ya..” Ia berujar, memelukku semakin erat sehingga kini kami benar-benar tidak memiliki jarak yang memisahkan badan kami. Aku menyandarkan punggungku di dadanya dengan nyaman, sangat nyaman. Tiba-tiba saja ia mencondongkan badannya sedikit dan dengan lembut ia mengecup keningku, tepat di tempat ia menyentilku tadi.

“Jadi, bagaimana dengan cowok yang kau taksir itu hem?” Ia bertanya setelah sebelumnya nyengir tak bersalah padaku atas kecupan ringannya di keningku. “Buruk, aku baru tau bahwa ia memiliki pacar. Dan aku masih belum bisa melupakannya.” Aku terpekur saat menyadari apa yang telah kukatakan. Kenyataan yang menyakitkan itu seolah menghantamku lagi, he is fucking taken!

“Lupakan dia. Bukankah kau juga memiliki prinsip untuk tidak memiliki perasaan pada seorang yang telah dimiliki oleh cewek lain?” Ia mengucapkannya dengan nada datar, sehingga aku tak dapat menangkap emosi yang ada di dalamnya. Aku hanya terkekeh kecil ketika ia mengatakannya, bukan karena aku meremehkannya, namun karena aku merasa begitu gila dengan kenyataan yang terpampang di hadapanku. Aku telah naksir dengan orang yang memiliki pacar. Damn!

“Aku sedang mencoba.” Aku mencoba menerangkan hal itu kepada Taiga, namun tampaknya ia kurang suka dengan apa yang sedang kulakukan karena kemudian ia dengan halus menyuruhku berdiri dan ia pun bangkit dari sofa tempat kami bersantai tadi. “Mau kemana?” Hanya itu yang dapat kukatakan ketika ia berjalan menjauhiku. “Mengambil sesuatu.” Ia menjawab singkat dan tak berbalik lagi, aku melihatnya melenggang ke kamar tidurku, mungkin mengambil sesuatu dari tasnya. Aku hanya menggumamkan beberapa kata nonsense dan memutuskan untuk kembali duduk di sofa.

Tak berapa lama, Taiga kembali dan segera menghampiriku. Aku tau, ada sesuatu yang ia ingin katakana ketika melihat senyuman khas yang hanya aku dan dia yang dapat mengerti maksud senyuman itu. Hal itu sudah menjadi semacam kode bagi kami berdua. “Apa?” Aku bersusah payah mengucapkannya, tatapan tajam Taiga benar-benar membuatku gugup.

“Kau tau apa yang sedang kupegang ini?” Ia menjulurkan tangannya yang sedang tergenggam, mengayunkannya di depan wajahku. “Tidak, tentu saja tidak. Tanganmu sedang mengepal dan aku tidak tau apa yang di dalamnya.” Aku berbicara dengan nada merajuk, seolah memintanya untuk membukakan kejutan yang ada lebih awal.

“Tidak, tebak dulu.” Ia mengeluarkan senyuman jenakanya. Pikiranku pun tanpa sadar melayang ke kejadian beberapa bulan lalu, ketika ia memintaku untuk menemaninya untuk memilih-milih kalung yang katanya akan dia berikan kepada gadis yang ia sukai. Aku terpaksa menyetujui ajakan itu walaupun aku tengah terjepit dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk memiliki waktu santai barang sejenak.

 

‘Apakah ini bagus?’ Taiga bertanya padaku, membuatku sadar dari lamunan panjang tentang apa yang mungkin sedang kulakukan pada jam ini jika aku berada di lingkungan kantor. ‘Kau ingin memberikan kalung ini kepada siapa?’ Taiga menatapku dengan curiga, membuatku salah tingkah. ‘Bukan begitu, aku tidak bermaksud memintamu untuk membelikanku kalung juga. Aku hanya bertanya, kalau kau bisa memberikan deskripsi gadis yang kau sukai itu siapa atau bagaimana, aku akan bisa memilihkannya untukmu!’ Aku mengakhiri pidatoku dengan tawa gugup.

Taiga memberikan satu lirikan curiganya yang terakhir sebelum akhirnya memberikan penjelasan yang singkat. ‘Gadis itu mirip dengan dirimu. Ia sangat aneh, tapi aku menyukainya. Dan ia menyukai hadiah yang menggambarkan dirinya.’ Taiga tidak mengangkat wajahnya untuk menatapku ketika menjelaskan sosok gadis itu, aku hanya menghembuskan nafas dengan sebal. Gadis itu terdengar mirip dengan diriku, tapi mungkin itu hanya kebetulan. Karena jadwal yang padat, maka aku pun dengan sigap segera melihat-melihat dan memilih beberapa kalung yang kuanggap memenuhi criteria gadis yang Taiga jelaskan padaku secara sekilas tadi.

Taiga memperhatikan beberapa kalung yang telah aku pilihkan, ia menatapku dengan tatapan berterima kasih, yang aku sangat hargai pada saat itu. ‘Pilihlah mana yang kau sukai dari semua kalung itu Taiga.’ Aku memberitaunya sembari menggelanyut manja pada lengannya. Hal yang biasa kami lakukan kalau kami merasa sudah berhasil membuat yang lain puas dengan bantuan kami. ‘Aku mau kau menyelesaikan pekerjaanmu dengan tuntas, Mei. Pilihlah satu yang paling kau suka dan menurutmu cocok dengan gadis itu.’ Taiga mengatakannya dengan lembut, menilai dari cara bicara Taiga setiap kali ia membahas gadis itu, aku bisa mengetahui bahwa ia benar-benar telah jatuh hati pada gadis itu.

‘Sebenarnya, bagi diriku pribadi, aku menyukai yang ini. Mungkin ia juga akan menyukai kalung yang sama, karena katamu ia mirip denganku.’ Aku lalu menunjuk kalung yang paling sederhana diantara kalung yang lainnya, kalung itu memang mempesona walaupun bentuknya sangat sederhana. Justru kesederhanaan itu lah yang membuatnya menarik.

‘Aku menyukai pilihanmu.’ Taiga tersenyum simpul.

 

Aku sedikit ragu ketika pikiran itu terlintas di otakku, namun karena Taiga masih menunggu dengan sabar akan jawabanku, maka aku pun menyebutkan hal yang terlintas tadi. “Apakah itu kalung yang beberapa bulan lalu kau beli?” Aku berucap dengan ragu-ragu, aku melipat kakiku dan memeluknya. Wajah Taiga menunjukkan keterkejutan, namun ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. “Bagaimana kau bisa tau?” Ia tersenyum manis dan dengan perlahan membuka genggaman tangannya.

Benar saja, kalung yang waktu itu sempat kutaksir berada di tangannya, masih terlihat baru dan keren seperti saat pertama kali aku melihatnya. “Kenapa kau masih memiliki kalung itu? Apakah gadis yang kau sukai itu tidak mau menerimanya? Ah! Bodohnya aku, seharusnya aku mencarikan yang lebih bagus lagi!” Aku mulai mengomeli diriku sendiri tanpa henti sehingga tidak mendengarkan suruhan Taiga untuk diam.

Gerah karena aku tidak menuruti suruhannya, Taiga akhirnya menenggelamkanku dalam pelukannya. “Hmph!” Aku terkejut sekaligus tidak terima dengan perlakuannya, namun sepertinya Taiga menyukai cara ini. Karena aku tenggelam dalam pelukannya, otomatis aku tak dapat memandang wajahnya seperti harapanku. “Sshh.. Aku sudah menyuruhmu untuk diam. Kenapa kau tak mau menurutiku sekali ini saja sih?” Ia bergumam pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya pada diriku.

“Apakah kau tau bahwa gadis yang kusukai itu kau?” Ia memulai pembicaraan dengan nada serius, aku tau, kali ini aku tak akan mampu memotong kata-katanya. Seberapapun tak nyamannya aku akan keadaan kami sekarang, aku tidak akan bisa memaksanya berhenti berbicara. Tidak ketika ia sedang berusaha untuk serius, berusaha menyakinkanku.

“Aku menyukaimu, disaat yang sama ketika kau menyukai pria yang sekarang kau sukai itu. Aku tak percaya bahwa kau benar-benar berubah ketika menyukai pria itu. Aku mengawasimu, Mei. Aku tau kau itu seperti apa dan aku cukup terkejut ketika kau tidak menerapkan prinsipmu untuk vocal di hadapan orang yang kau sukai. Kau berubah cukup drastic ketika kau menyukainya. Bahkan sampai saat ini.” Aku tidak ingin berkata apa-apa, lidahku terasa kelu dan kering. Aku bisa merasakan detak jantungku yang semakin meningkat, dan aku juga bisa mendengarkan debaran jantungnya yang sama riuhnya dengan milikku.

“Taukah kau kenapa aku tak pernah memintamu menjadi kekasihku? Walaupun aku sangat menginginkannya?” Ia kali ini membiarkanku terbebas dari pelukannya, aku tau wajahku tampak memerah karena kemudian Taiga menempelkan tangannya yang terasa dingin itu di wajahku. “Aku sangat takut kau akan menolakku, aku tau kau bukan orang yang gampang berpaling dari orang yang kau sukai. Aku tau sejarah percintaanmu yang buruk, yang membuatmu begitu terpuruk.” Aku mengeluarkan tawa kecil ketika ia menyinggung sejarah percintaanku. Ya, kisah cintaku memang buruk dan Taiga mengetahui itu semua. Karena aku memang terbuka padanya, makanya ia tau banyak rahasia besar dalam hidupku.

“Aku tak keberatan memiliki kisah cinta yang buruk, karena aku selalu memilikimu,” Aku berujar, berusaha keras untuk menatap lama matanya.  Tapi aku tau aku tak bisa melakukannya, karenanya aku hanya menatapnya sekilas dan membuang pandanganku kea rah lain. “Aku bahagia kau menyadari keberadaanku.” Taiga tersenyum manis sekali. “Mei, karena aku menyukaimu, dan aku menginginkan dirimu, maukah kau menjadi kekasihku?” AKu tak tau harus berkata atau bersikap seperti apa ketika ia mengatakannya, jujur, aku pernah berimajinasi tentang hal ini sebelumnnya.

Aku pernah berimajinasi Taiga akan memintaku untuk menjadi kekasihnya, tapi tak kusangka imajinasi itu berubah nyata. Aku terdiam lama, berusaha memikirkannya lebih lanjut. Namun aku terus dihantui kisah buruk dari percintaanku sebelumnya, mereka seolah-olah ingin mengingatkanku bahwa aku bukanlah orang yang pantas dicintai. Aku menunduk, merasa tertekan dengan pemikiran itu.

“Baiklah, kau tak perlu menjawabnya sekarang. Aku mengerti, kau pasti ingin melupakan pria yang kau sukai itu dulu kan? Tapi Mei, pakailah kalung ini. Setidaknya aku tau kau pasti akan menjadi milikku suatu hari nanti, walaupun aku tak tau kapan hari itu akan datang.” Ia berbisik lembut dan membantuku memakai kalung itu. Hembusan hangat nafasnya di leherku membuatku lebih merinding. Aku pernah mengharapkan hal ini akan terjadi, dan hal itu memang terjadi. Tanpa terasa, setetes airmata menuruni wajahku.

Taiga melihatnya, dan ia menjadi sedikit panic. “Apa kau baik-baik saja?” Aku tak tau mengapa, tapi yang jelas, yang aku inginkan saat itu hanyalah pelukan hangatnya. Taiga tak protes ketika aku memeluknya secara tiba-tiba dan menangis lama, bajunya menjadi basah karena airmataku dan aku tak bisa merasa lebih bersalah daripada saat ini.

“Mei… Tenanglah…” Ia mengucapkannya dengan tenang, tangannya mengusap-usap kepalaku. Ia berusaha menenangkanku.

***

Aku menjerit sebal ketika Taiga tak memperhatikanku dan berjalan meninggalkanku di tengah keramaian dengan santainya. Beberapa orang menolehkan kepalanya ke arahku, namun aku tak perduli. Taiga benar-benar menjadi lebih menyebalkan setelah menjadi kekasihku, mungkin bagimu ditinggal di tengah keramaian adalah hal yang biasa. Namun membawa seekor kucing yang bergerak aktif sementara kucing itu sebenarnya milik kekasihmu bukanlah fakta yang ingin kuterima.

“KYOMOTO TAIGA!! Mati kau kalau aku berhasil mencapaimu!” Aku benci mengakui ini, tapi aku bukanlah orang yang akrab dengan binatang. Taiga tau itu dengan baik, dan ia tau aku masih canggung jika diharuskan menggendong kucing. Tapi ia memutuskan untuk menjahiliku dengan cara yang benar-benar menyiksa batinku seperti sekarang ini. Aku berusaha mengejar Taiga yang telah berjalan jauh di depanku, dengan omelan dan sumpah serapah yang tak hentinya keluar dari mulutku.

Aku akhirnya berhasil mengejar Taiga yang tengah menungguku dengan tangan dimasukkan ke kantong celananya dan senyuman licik yang aku kenal sekali. “Kyomoto Taiga! Teganya kau melakukan ini kepada kekasihmu sendiri!” Aku berujar gemas, menyorongkan kucing miliknya yang menggeliat-geliat sebal dengan tingkahku yang tidak bisa dibilang lembut.

“Kau harus membuatnya nyaman, dear.” Taiga menegurku, mengambil alih kucing itu dari tanganku dan mengelus-elusnya hingga si kucing benar-benar tertidur. Aku memandangi mereka dengan sebal. “Baik. Terserahmu sajalah. Jika kau hanya memacariku untuk hal-hal menyebalkan seperti ini, lebih baik kita putus saja!” Aku bergegas meninggalkan Taiga yang terbengong-bengong dengan perkataanku.

“Hey! Tunggu!” Baru beberapa langkah aku berjalan, aku melihat hal yang sama sekali tidak ingin aku lihat.  Michael, pria yang sempat kusukai, sedang berjalan bergandengan tangan dengan wanita yang kukenali sebagai pacarnya. Aku merasakan wajahku memerah, seolah-olah aku baru saja memergoki hal yang tabu. Demi menghindari mereka, aku berjalan berbalik arah, membuat Taiga yang sudah berada di sebelahku menatapku dengan bingung. “Apa? Kenapa? Mei?” Aku tak menjawab, tapi aku tau aku belum bisa melupakan pria itu sepenuhnya.

Air mata terjatuh lagi untuk pria itu ketika aku mempercepat langkahku. “Mei?! Kamu kenapa?” Taiga berusaha menghentikan langkahku yang lambat laun semakin cepat. Aku hanya menggeleng, aku tak ingin melukai perasaan Taiga jika ia mengetahui kebenarannya. Tanpa sadar, aku sudah berada di depan mobil milik Taiga, ia mengikuti masih dengan ekspresi yang menanyakan apakah aku baik-baik saja.

Aku tak dapat menjawab pertanyaan itu dan karenanya aku langsung membuka pintu mobil dan menutup pintunya dengan keras, Taiga pun akhirnya menyerah menungguku membuka pintu mobil dan mengikuti jejakku. Ia mengusap pipiku lembut, kemudian dengan sabar ia mengusap air mata ku yang terus saja keluar dari mataku. “Kenapa kamu menangis diam-diam begini?” Taiga terdengar sedih, dan ketika aku melihat sosoknya yang begitu jelas di depanku, tangisanku semakin kencang.

“Maafkan aku..” Aku berujar dengan susah payah dalam pelukannya. Kucing Taiga tampaknya juga terganggu dengan tangisanku, ia mulai membuka matanya dan menonton kami. “Apa yang kau lihat tadi?” “Michael.. Dan pacarnya.” Aku tak mampu menatap mata Taiga dan melihat ekspresinya, karenanya aku hanya menunduk. Taiga meremas bahuku dengan sayang.

“Aku tau suatu hari hal seperti ini akan terjadi. Lain kali, jangan berusaha menyembunyikannya dariku hanya karena kamu takut aku akan terluka dan marah. Mengerti?” aku hanya mengangguk pasrah, tampaknya setiap kali aku berada di dekat Taiga, aku merasa aku aman dan aku juga merasa relax.

“Maaf…” Lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan padanya. “Sshh.. Kau tidak perlu meminta maaf.. Dan satu lagi..” Taiga mendorongku lembut sehingga sekarang kami berhadapan dengan satu sama lain. “Apa?” Aku bertanya dengan polos. “Jangan pernah menyebut-nyebut kata putus untuk mengancamku.” Ia memberikan ulitmatumnya dan entah kenapa aku malah tertawa, seolah mengejeknya.

“Memangnya kenapa? Kau takut kehilangan diriku?” Aku meledeknya, masih tertawa-tawa. Taiga mulai cemberut, dan aku semakin tertawa. “Salahkah aku jika aku khawatir kau akan benar-benar memutuskanku dan tidak mau lagi bertemu denganku lagi?” Akhirnya Taiga bersuara dengan sedikit terpaksa karena aku masih belum bisa berhenti tertawa. Aku hanya tersenyum ketika menyadari bahwa ia sebenarnya sangat sayang terhadap diriku.

“Kalau kau berkata begitu.” Aku mengangkat bahu dengan acuh, Taiga memajukan bibirnya dengan sebal, setelah beberapa saat berpikir akhirnya aku memutuskan untuk mengambil langkah nekat. Aku menciumnya, cukup lama bagi Taiga untuk sadar dari keterkejutannya dan membalas ciumanku. “Aku mencintaimu, tenanglah.. Jangan panic begitu..” Aku berbisik ketika kami sudah melepaskan bibir kami. Taiga mengecup pipiku dengan sayang. “MEOOOONGGG…”

Kami berpaling ke arah kucing yang sedang duduk di pangkuan Taiga dan tampak bersemangat itu. “Dia menyukaimu,” Taiga berkata lagi, dan lagi-lagi mengecup manis pipiku.  Aku hanya tersenyum kecil, menyukai kisah percintaanku yang sekarang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: