[SHORT STORY ] JUST THIS ONCE

Tanpa menatap matanya, aku sekali lagi mengucapkan untaian kata yang menyakitkan itu. ”Benarkah kau tidak menyukainya?” Aku berusaha tertawa, membuat semua terkesan bercanda dan tidak serius. Aku harus mengabaikan semua yang kurasakan hanya untuk mengucapkannya, aku tidak ingin ia mengetahuinya. Kali ini, aku tidak ingin melakukan hal dengan terburu-buru.

Aku menyukainya dengan tulus, dan rasa inipun telah berkembang sejak lama. Hanya saja, aku tidak ingin mengungkapkannya. Aku sama sekali tidak ingin untuk mengungkapkannya karena sekali ini saja aku ingin menyukai orang secara diam-diam.

Aku tidak ingin ia pergi menjauh dariku, atau bertindak masa bodoh dengan segala sesuatunya. Aku hanya ingin semua terasa tenang. ”Iya, serius. Kenapa sih?” Ia menjawab dengan nada terganggu. Aku tertawa, membiarkan semua rasa sakit itu keluar bersama dengan tawaku.

””Haha.. Jangan berbohong, apa yang kau rasakan itu telah terlihat jelas, tidakkah kau menyadarinya?” Aku sekali lagi menggodanya, tersenyum lebar agar imej bahagiaku tidak terganggu. ”Aish.. Terserahlah..” Ia mengabaikanku dan mulai memainkan gitarnya. Ada sedikit rasa sakit yang tumbuh di hatiku.

Aku tau, aku takkan pernah bisa bersamanya. Aku tau aku bukanlah orang yang cukup pantas bagi dirinya. Karena aku bukanlah siapa-siapa. Ia tidak pernah mengetahuinya, namun sejak lama aku telah menyimpan rasa untuk dirinya. Aku menarik nafas panjang, berusaha mengabaikan rasa sakit yang perlahan terasa.

”Oh.. Tapi paling sebentar lagi kau akan naksir dengannya.” Dan dengan itu, aku meninggalkannya. Aku berjalan dan bergabung dengan kelompok temanku yang lain, setelah aku berada di tengah-tengah mereka, aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Ia tampak serius mempelajari gitarnya.

Aku mendesah, dan secara alami mulai berbicara dengan teman-temanku.

 

***

Sakit. Sakit. Sakit. Tanpa sengaja aku melihat sebuah jendela chat terbuka di laptop milik gadis itu. Aku dan temanku kontan saling menunjuk jendela chat itu. Kami saling pandang, saling melemparkan senyum dan berbisik. ”Sepertinya Dion benar-benar menyukai Bunga.” Aku berbisik pelan. ”Sepertinya juga begitu. Tidakkah aneh bahwa Dion menyapanya terlebih dahulu?” Temanku balas berbisik.

Aku tersenyum jahil bersamanya. Mengabaikan hantaman rasa sakit yang menusuk hatiku. Aku patut merasa sakit bukan? Karena aku tau bahwa Dion pastilah menyukai Bunga. Bukan hal yang susah untuk melihat bahwa ia menyukai gadis baru itu. Aku tidak banyak mengeluh tentang hal itu.

Karena well… Aku tidak cukup menarik ataupun baik hati untuk pantas disukai oleh lawan jenisku. Aku melamun, memperhatikan gerakan Bunga yang berada di depanku. Kadang, aku cemburu oleh keelokan dirinya, bertanya-tanya jika ia akan menyukai Dion juga, membalas rasa milik Dion untuknya.

Aku menutup mataku, membiarkan semua kejadian beberapa saat lalu itu untuk berlalu didepanku, tanpa bekas.

***

Aku terdiam lebih lama dari yang seharusnya. Aku tak menyangka akan mendengar seseorang mengakui bahwa ia menyukai Dion. Aku membiarkan diriku larut dalam pembicaraannya tentang Dion tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ia katakan. Aku mendengarkannya dengan sabar, tanpa banyak intrupsi yang tak penting.

”Dion itu gantennggggg sekali..” Ia berucap, aku hanya tertawa kecil dalam menanggapinya. Sekali lagi aku merasakan ada luka yang secara perlahan terbentuk.

***

Teman-teman terdekatku yang mengetahui tentang rasa sukaku kepada Dion mulai bertanya-tanya sejak kapan aku menyukainya dan mengapa. Aku menjawab mereka seadanya. Aku tak memberikan banyak penjelasan kepada mereka. Cukuplah hal ini mereka ketahui apa adanya.

”Ah.. Kau seharusnya tidak menyukainya.” Salah satu dari mereka bergumam, memandang ke arah lain. Aku hanya tersenyum, sekali lagi membiarkan diriku tersakiti. ”Benar.. Seharusnya kau tak menyukainya. Dia itu tak mudah untuk ditaklukan.” Dan kali ini aku benar-benar tertawa. ”Apa kau mengira aku akan memburunya dan membuatnya menjadi pacarku?” Aku bertanya balik, tertawa dengan lepas.

”Hei, itu adalah hal yang mungkin kau lakukan mengingat kenekatanmu.” ”Tidak.. Kalian belum tau bahwa aku telah berubah menjadi manusia baru,” Aku bergumam. Tertunduk dengan pernyataanku sendiri.

***

Hari-hari berlalu, dan aku menghabiskan berjalannya waktu dengan kedekatan mereka. Aku tak pernah berbuat hal-hal yang berlebihan. Aku menyukai kedekatanku dengannya yang sederhana. Aku menyukai dan mensyukurinya, membiarkannya berkembang dengan sendirinya. Aku tak keberatan. Aku membiarkannya. Dan seiring dengan berlalunya waktu, kabar tentang rasa suka ’orang’ itu semakin kencang.

Maka, hal yang dapat kulakukan sekarang hanyalah diam. Tak banyak melakukan hal-hal berarti. Aku membiarkan diriku hanyut dalam arus peristiwa yang ada. Aku tak banyak memprotes, karena aku tau aku tak berhak melakukannya.

Seperti malam ini, sekali lagi aku menatap kosong dinding kamarku, teringat perkataannya. Aku tau aku takkan pernah bisa melupakannya, walaupun itu bukanlah hal yang pantas diingat.

”Apa yang akan kau lakukan jika salah seorang teman kita menyukaimu?”

”Aku akan pura-pura bodoh.”

”Tapi kan dia sangat menyukaimu.”

”Kalau gitu aku akan semakin berpura-pura bodoh seolah tak terjadi apapun.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: