[FANFICTION] ACCEPT IT THE WAY IT IS

Title: Accept It The Way It Is

Rate: General

Cast :

Park Ah Ran/Aku

 Lee Hyukjae/Eunhyuk “Super Junior”

Jung Yunho/Yunho “DBSK/TVXQ”

Special Note: Kalau gak bisa bayangin castnya, bayangin aja orang lain. 😉  Kalau Park Ah Ran boleh dibayangin jadi readers sendiri. Kenapa saya make kata “as” disini padahal biasanya juga gak? Jawabannya adalah karena adanya Special Request -__- ~ Last but not least, Thank you for reading ^^

Tidak perduli seberapa perihnya luka yang telah ia sebabkan, aku akan terus bertahan. Aku tak akan pernah membiarkannya terlepas dari genggamanku begitu saja, tidak dengan air mata yang telah aku berikan padanya. Tidak karena aku telah tersenyum terlalu sering untuknya.

Aku masih belum bisa merelakannya, karena ia lah pemegang rahasiaku. Ia adalah sandaranku, tak perduli dengan banyaknya luka yang telah ia berikan padaku. Ia selalu begitu, memberikanku rasa sakit dan kemudian meninggalkanku. Bodoh. Apakah dia berpikir bahwa aku akan menerimanya begitu saja? Tidak. Aku memang bukan wanita yang kuat dan tegar. Aku akan menunjukkan padanya mengapa ia harus kembali padaku.

Aku telah teracuni. Aku tidak dapat berpikir jernih setiap kali aku memikirkan hal-hal yang akan aku lakukan untuk membalasnya. Aku bahkan tidak ingin tertidur di malam hari hanya untuk menikmati bayangan tentang rasa sakit yang akan kuberikan padanya.

Sebut aku bodoh, tapi aku tau aku bisa membuatnya bertekuk lutut padaku. Aku akan melepaskannya, begitu aku membalasnya. Aku bukan orang yang bisa berbuat seperti ini di kehidupan sehari-hari. Namun ia yang membuatku seperti ini. Aku tidak perduli.

***

”Apa yang kau lakukan disini?” Suaranya terdengar jelas di telingaku ketika aku melangkah masuk. ”Ah, halo, sayang.” Aku tersenyum manis, tak memperdulikan perasaan terganggunya. Tatapan mencela dari temannya cukup untuk membuatnya diam, dan cukup bagiku untuk menyerangnya.

Dengan senyuman yang masih terpasang di wajahku, aku mendekatinya. Tanganku secara lihai menyentuh wajahnya, merasakan tekstur halus kulitnya di bawah sentuhanku. Aku tau ini hanya akan membuatku menangis di malam hari, namun aku ingin mencoba untuk lebih tegar.

Perlahan, aku berbisik di telinganya. Aku tetap tersenyum sembari mengedipkan sebelah mataku pada teman-temannya. ”You will know how it feels to be me. Don’t try to escape or I will make it worse.” Aku menjauhkan diriku darinya, merasa sedikit mabuk karena aroma cologne yang ia gunakan.

Wajahnya memucat sedikit ketika aku menatapnya lagi. Aku melambai dengan manis untuk terakhir kalinya padanya dan bergegas meninggalkan ruangan itu. Perasaan puas terus menerus mengerjarku. Aku tau aku telah membuatnya memasuki perangkapku.

***

Aku menyesap minumanku dengan perlahan, memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang di depanku. Mereka tampak sama bagiku, membosankan. Tak berapa lama, seorang pria mendatangiku, tangannya tampak penuh dengan belanjaan yang ia beli sebelumnya.

”Kau sibuk sekali?” Aku menaikkan alis tanda heran akan barang bawaannya, sama sekali mengabaikan perkataannya. ”Sebenarnya aku sedang kehabisan stok makanan ketika kau menelponku.” Ia bekata jujur, terkekeh ketika menyadari betapa bodoh hal itu kedengarannya.

”Jadi? Apa yang harus kulakukan?” Ia melanjutkan pertanyaannya ketika ia telah duduk dengan nyaman di sofa yang berhadapan dengan diriku. ”Kau tau apa yang ingin kulakukan. Kau tinggal menyetujuinya, atau menolaknya.” Aku berujar pelan, menyesap lagi minumanku dengan perlahan. Aku mengamati dirinya selagi aku masih sibuk dengan minumanku. Tanpa sadar, aku telah menikmati setiap ekspresi dari dirinya.

”Baiklah, hal itu kedengaran menyenangkan. Lagi pula, sepertinya kau memberikanku kartu emas dengan memberikanku kesempatan ini. Kau tau?” Ia melirikku sekilas, sebelum berpura-pura mengamati keadaan di luar sana.  Aku tertawa lirih, mengangkat kepalaku untuk menatapnya dalam.

Wajahnya memerah sedikit karena tatapan intensku. ”Pernahkah kukatakan padamu bahwa kau adalah pria yang sangat menarik, Lee Hyukjae?” Aku berujar, masih menatapnya lama. ”Kau pernah mengatakannya di hari kau menolakku.” Ia tertawa getir. Aku hanya tersenyum kecil untuk menanggapinya.

”Taukah kau bahwa aku berkata jujur?” aku bertanya lagi. Kali ini, aku bisa melihat sedikit rasa terkejut mengukungnya. ”Benar. Aku mengatakannya dengan jujur. Dulu, aku mempunyai alasan untuk menolak pesonamu, tak perduli betapa aku menyukai pesonamu itu. Sekarang, aku tak mempunyai alasan untuk menolakmu. Kau bisa saja mempengaruhiku sepanjang proyek ini berlangsung, lalu kita bisa melihat akhirnya.” Aku berujar panjang lebar, sesekali menunjukkan senyuman dinginku padanya, berusaha menunjukkan bahwa aku serius.

”Kau terkadang bisa menjadi sangat menakutkan, Park  Ah-Ran.” Ia berujar tenang, wajah dan tubuhnya terlihat rileks. ”Aku menerima tantanganmu untuk menggodamu dan menjadikanmu milikku.” Ia melanjutkan, tangannya memutar cangkir di genggamannya dengan sedikit ragu. Aku bisa melihatnya.

”Seberapa besar kau menginginkanku?” aku balik bertanya, mencoba menyelidiki perasaannya padaku. Tawanya keluar dengan pelan, namun tetap saja mempesona. ”Tunggulah Park Ah-Ran. Tunggulah sampai kau merasakanny sendiri nanti.”

***

”Park Ah-Ran noona!” aku cepat berbalik ketika seseorang memanggil namaku. Aku tidak terkejut ketika mendapati Kyuhyun berada beberapa langkah di belakangku. Wajahnya tampak merona, entah tanda ia bahagia atau tanda ia semakin sehat. ”Ada apa Kyuhyun-ah?” ”Apakah kau adalah penanggung jawab untuk konser kali ini?” ”Ya, Kyuhyun. Aku adalah penanggung jawab untuk acara ini, apakah kau senang?” Aku balik bertanya, sembari tertawa sedikit.

”Tentu saja aku senang! Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, noona!” Aku benar-benar tertawa ketika ia mengatakannya. Dulu, hidupku memang direnggut oleh pria itu. Namun aku tau bagaimana cara untuk bangkit dan melawannya. Dari kejauhan, aku dapat melihat pria itu berjalan mendekat.

”Kyuhyun-ah. Bisakah kau membantuku?” Aku berbisik pelan, menatap bolak-balik antara Kyuhyun dan pria itu. ”Apa noona?” Kyuhyun bertanya polos. ”Panggilkan aku Hyuk Jae oppa, kumohon, pergilah sekarang.” Kyuhyun mengangguk dengan bingung, aku bisa melihatnya menghilang di lorong ruang tunggu.

”Sudah berapa lama kita tidak saling bertemu?” Aku tau aku harus memulai drama hidupku sendiri ketika aku berbalik dan menyambut ucapan tak sopannya. ”Cukup lama untuk membuatmu sadar bahwa aku cukup berguna dalam hidupmu.” Aku menjawab dengan tidak antusias, diam-diam mengamati penampilannya malam itu.

”Benarkah, Park Ah-Ran?” Ia tertawa. “Benar sekali, Yunho baby.” Aku tersenyum malas. Jantungku mulai berdebar kencang, kemana Hyuk Jae disaat aku membutuhkannya seperti ini? ”Kau sepertinya belum berubah banyak. Dan sepertinya kau masih sama seperti saat kau masih milikku.” Ia berujar santai, ia menatapku dengan pancaran mata kelaparan.

Aku tau aku telah terjebak. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh agar Hyukjae bisa membebaskanku dari pria ini. ”Oh, benarkah? Aku kira kau tak pernah memperhatikanku hingga saat ini.” Aku membalasnya, memaksa diriku sendiri untuk menatapnya balik.

”Lihatlah, sepertinya kau memang sedikit berubah. Yah, tak banyak sih.” Ia tertawa meremehkan. Tepat saat itu, aku merasakan seseorang telah menarikku lebih dekat dengan tubuhnya. Aku mengenali aroma orang ini, Aroma milik Lee Hyukjae. ”Halo hyung.” Ia menyapa Yunho sedikit, tersenyum menenangkan padaku. Aku menarik nafas lega, akhirnya aku bisa bebas.

”Oh, Halo Hyukjae. Apa yang kau lakukan disini?” Yunho berusaha terlihat ramah, tapi aku tau itu telah gagal dinilai dari cara Hyukjae memandangnya dengan sedikit jijik. ”Aku melindungi kekasihku dari tuduhan-tuduhan tak menyenangkanmu.” Hyukjae menjawab, masih memandang Yunho dengan raut wajah tidak suka.

”Kekasihmu?” Yunho mengulangi apa yang baru saja ia dengar. Wajahnya menyiratkan ketidakpercayaan. ”Kau berpacaran dengan mantan kekasihku? Kau bercanda?” Yunho mulai tertawa keras, namun sepertinya Hyukjae benar-benar tidak menyukai seniornya itu selagi ia dengan pelan membalas perkataan Yunho. ”Tidak, ia adalah kekasihku bahkan sebelum kalian resmi bubar.” Perkataan Hyukjae cukup untuk membuat tawa Yunho terhenti tiba-tiba.

Matanya menatap kami berdua dengan serius. ”Apa kau bilang?”  ”Dia telah menjadi kekasihku bahkan sebelum kalian resmi bubar.” Hyukjae mengulangi perkataannya dengan senyuman licik. ”Jadi?” ”Jadi intinya adalah, kami telah berselingkuh lama di belakangmu.”

Aku dapat melihat dan merasakan betapa marahnya Yunho saat itu. Wajahnya memerah seperti terbakar, belum lagi matanya yang menatap kami dengan nafsu membunuh terpancar jelas disana. ”Wae Hyung? Kenapa kau terlihat marah? Bukankah kau selama ini tak pernah menganggap Ah-Ran dengan serius?” Hyukjae tertawa kecil. Matanya masih menatap Yunho dengan jijik. Aku terpaksa menyikutnya sedikit, mengingatkannya untuk bermain aman dengan Yunho.

”Sepertinya kau sudah mendapatkan informasi yang kau mau, hyung. Aku permisi dulu,” Hyukjae menarikku dengan lembut, memintaku untuk mengikutinya. Dan aku dapat merasakan tubuhku bereaksi cepat dengan permintaanya, aku mengikutinya tanpa banyak bicara, mataku masih menatap Yunho dengan tajam. Seolah-olah aku tak rela membiarkannya lepas dari tatapanku.

***

Aku menghela nafas lega, konser Hallyu kali ini cukup berhasil. Walaupun tentu saja, tak sesempurna yang diharapkan. Beberapa artis terpaksa mengalami kecelakaan kecil, namun tak banyak hal berarti yang terjadi. Aku membungkuk memberi hormat kepada staff lainnya yang telah bekerja sama. Mataku menyusuri kumpulan para idola itu dan dengan cepat aku menangkap sosoknya.

Ia terlihat sedikit berbeda dengan sebelum menuruni panggung. Cahaya terpantul di wajahnya, memantulkan gambaran tentang rasa lelahnya. Aku masih memandanginya ketika tiba-tiba ia juga menoleh dan menatap kearahku. Aku bisa merasakan pipiku memanas karena malu.

Ia tersenyum sedikit, memberikan hormat yang tak terlihat kepadaku sebelum berlalu. Aku meraba pipiku, tersenyum tanpa sadar. ”Kau menikmatinya?” Suara dalam itu mengejutkanku. ”Apa yang kau lakukan disini?” Aku balik bertanya, tak menggubris pertanyaannya. ”Seharusnya kau menjawab pertanyaanku dahulu baru bertanya tentang hal lain.” Aku hanya tertawa dengan sinis. Aku dengan cepat memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Takkan aman bagiku untuk bersamanya.

”Kau tau? Kau tak bisa menyakitiku seperti ini. Mungkin yang akan tersakiti itu bukan aku, tapi kaulah orangnya.” Ia berkata cukup keras agar aku bisa mendengarkannya. Akumenyumpah pelan dan melanjutkan langkahku, tak memperdulikan lagi perkataan-perkataan tak masuk akalnya tadi.

***

Pagi itu aku tak bisa merasa lebih bahagia lagi. Aku baru saja terbangun dari tidur malamku ketika pintu rumahku diketuk dan ketika aku membukanya, aku menemukan sepasang kucing  menggeliat malas dalam kotak yang telah dihias sedemikian rupa.

Aku menarik nafas terkejeut ketika mendapati kedua makhluk mungil itu memandangiku dengan memelas. Aku menyadari sesudahnya bahwa tepat di sisi depan kotak itu, seseorang telah menempelkan sebuah surat.

”Kau tau? Sepasang kucing ini akan menghasilkan beberapa ekor anak lagi. Dan mereka akan hidup bahagia, seperti sebuah dongeng yang menjadi nyata. Apakah suatu hari nanti kita akan bisa melakukan hal itu?”

Aku terhenyak ketika menyadari siapa yang telah memberikanku hadiah mengejutkan ini. ”Hyukjae bodoh.” Aku tertawa kecil, membawa kedua binatang malang itu masuk kedalam rumahku yang jauh lebih hangat. Keduanya tampak begitu menggemaskan, aku mengelus perlahan kedua kucing itu. Sepertinya mereka menikmatinya karena mereka semakin memajukan kepalanya kearahku.

”Kalian ini benar-benar manja ya..” Aku bergumam. Tak lama berselang, seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku meninggalkan kedua kucing tersebut sembari berlari kecil untuk membuka pintu. Tak seperti yang kuharapkan, Hyukjae berdiri dengan santai di depanku.

Aku dapat mencium aroma khasnya dari tempatku berdiri, aku masih sedikit terpukau oleh penampilannya yang acak-acakan namun tetap saja begitu mempesona. ”Apakah kau baik-baik saja?” Suaranya menyadarkanku, secara refleks aku menaikkan kepalaku untuk memandangnya. ”Memangnya aku terlihat buruk?” Aku membalasnya, melengos sedikit. Ia tertawa kecil, mengacak rambutnya dengan malas-malasan. ”Maafkan aku. Ah, tapi apakah kau akan tetap membiarkanku disini?” Ia bertanya, menunjuk tempatnya berdiri. Aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang lagi ketika ia bertanya dengan lembut padaku.

Sepertinya aku memang sudah lama tak mendapatkan perhatian seperti ini dari orang yang bisa kusebut pacar. ”Tentu saja. Masuklah.” Aku membiarkannya melewatiku dan meninggalkanku begitu saja di ruang depan. Aku termangu sejenak,  apa yang harus kulakukan dengannya? Apa yang harus kukatakan padanya?

Aku mengucapkan rentetan harapan agar hari itu berjalan baik sembari menutup pintu. Aku dapat mendengar suara tawa Hyukjae yang berasal dari ruang keluarga. Aku tidak mempercepat langkahku, sebaliknya, aku dengan sengaja memperlambat langkahku. Aku membiarkan diriku terhanyut dengan lingkungan disekitarku, membiarkan tawanya menjadi suara latar hari yang terasa indah ini.

”Kau menyukainya?” ”Menyukai apa?” Aku memandangnya dengan bingung, wajahnya melembut sedikit demi sedikit selagi ia berusaha untuk memisahkan sepasang kucing yang tengah berada di pangkuannya. ”Kedua kucing ini.” Ia melanjutkan, berusaha untuk memandangku sementara ia sendiri tengah berjuang dengan dua kucing di pangkuannya yang sekarang sedang meminta perhatian darinya.

Aku tertawa lepas melihat pemandangan di depanku. Aku benar-benar telah terkurung oleh keputusasaan beberapa waktu ini, karena entah kenapa aku begitu menikmati waktu yang berjalan diantara kami pada saat itu. Mungkin kehadirannya memang merupakan hal yang membuatku sembuh dari semua luka ini.

Tanpa sadar, aku telah berjalan mendekati Hyukjae, aku tidak benar-benar sadar ketika tanganku tanpa sadar mengelus pelan rambut pirangnya. Aku menyukainya, sangat menyukainya. ”Aku menyukainya.” Ia tiba-tiba saja berkata, mengejutkanku sekaligus membuatku tersadar. Tepat saat aku hendak menarik tanganku dari rambutnya, ia menahan pergelangan tanganku. Membuatku semakin bingung.

Perlahan namun pasti, ia mengusapkan kepalanya ditelapak tanganku. Tangannya yang bebas masih memegangi pergelangan tanganku, sepertinya ia benar-benar tidak ingin aku melepaskan tanganku dari kepalanya. Aku terdiam melihat tingkah lakunya.

Aku memutuskan untuk menyerah, toh aku tau aku juga menginginkannya. Maka dengan perlahan dan dengan sedikit rasa takut membayangiku, aku mulai mengusap kepalanya lagi. Kali ini, aku mengarahkan tanganku bersamaan dengan gerakan tangannya. Aku tau ia terkejut dengan perlakuanku, namun setelah beberapa waktu ia terlihat tenang dan semakin mengarahkan kepalanya kearahku.

Aku tersenyum, menikmati apa yang aku lakukan kali ini bersamanya. Ia benar-benar mengerti bagaiamana cara menghibur seseorang tanpa banyak berkata-kata. Kedua kucing itupun terlihat jauh lebih tenang daripada sebelumnya, maka akupun hanyut dalam aktivitasku, tak memperhatikan tatapan aneh yang diberikan Hyukjae padaku.

”Apakah kau menyukaiku?” aku bergumam pelan kepada udara kosong, fikiranku benar-benar melayang sekarang. Aku benar-benar lupa aku berada dimana dan apa yang sedang  kulakukan. Yang aku fikirkan sekarang adalah masa ketika Yunho masih bersikap manis kepadaku. Aku mengingat setiap ucapannya, bukan karena aku begitu membencinya sehingga aku terus mengingatnya. Aku mengingatnya karena aku baru saja menyadari bahwa ada nada kebohongan dalam setiap perkataannya.

Membayangkannya membuat hatiku terasa lebih sakit lagi. Aku dapat merasakan airmata mengalir begitu saja di wajahku. Dadaku terasa benar-benar sesak dengan setiap kenangan yang tiba-tiba saja teringat olehku. Karena sesaknya sangat tak tertahankan, aku memukulkan kepalan tanganku kearah dadaku, aku ingin sekali berteriak lantang, namun aku entah bagaimana aku tau aku tidak boleh melakukannya.

”Ah-Ran..” Suara lembut itu lagi, betapa aku sangat merindukan seseorang yang akan memanggilku dengan nada lembut seperti itu. Aku sangat menginginkannya. Airmata semakin deras menuruni wajahku, sakitnya benar-benar menyesakkan nafasku. Aku merasa tak sanggup lagi, tepat di saat itu, aku tersadar bahwa aku tidaklah sendirian.

Hyukjae menatapku dengan khawatir, kedua tangannya menggenggam pergelangan tanganku dengan erat, seolah tak rela membiarkanku pergi. Aku menarik nafas panjang, mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. Namun hal itu sama sekali tak berguna karena kemudian aku meledak lagi dalam tangisan. Hyukjae menarikku perlahan dalam pelukannya, membiarkanku mengeluarkan isi hatiku dalam pelukannya.

Sedikit perasaan bersalah menghantamku, aku menyesal karena membuatnya melihat hal yang tak seharusnya ia lihat. Aku tak seharusnya menangis di depannya, mengingat masa-masa kelam itu. ”Ssshhh..” Ia sepertinya mengerti alasan dibalik tangisan tiba-tibaku. Aku memberanikan diri untuk melepaskan diri dari pelukannya dan menatapnya cukup lama.

Aku dapat melihat sekelebat kekhawatiran melintas di matanya namun seperti yang selalu ia lakukan saat bersamaku, kekhwatiran itu ia sembunyikan dengan cepat pula. Ia tak berbicara sama sekali, sebaliknya ia hanya mengusap lembut punggung tanganku, seolah memintaku untuk tenang.

”Maafkan aku.” Aku berbisik pelan. Hyukjae tak menjawab, lagi-lagi keheningan yang menenangkan menyelimuti kami.

***

Aku tak mengerti kenapa setiap aku berusaha untuk menatapnya, jantungku berdetak lebih cepat. Entah kenapa pula, wajahku akan memerah dengan sendirinya. Kadang aku membenci hal seperti itu namun aku juga menikmatinya. Aku meraba pipiku, terasa hangat. Aku mendesah pelan. Lagi-lagi aku tersipu malu karena kejutan darinya untukku.

Aku memandang sekali lagi pantulan diriku di cermin, mengingat-ingat apa yang seharusnya kulakukan hari ini. Namun sekali lagi, semua itu gagal, karena sekali lagi peristiwa beberapa saat lalu terus menerus menghantuiku.

Tiba-tiba saja Hyukjae muncul di hadapanku, menghalangi jalanku. Aku sama sekali tak mengerti mengapa kadang ia bisa menjadi sangat kekanak-kanakan. ”Apa yang kau lakukan disini?” Aku bertanya dengan sedikit terganggu, ia masih saja menghalangi jalanku. ”Aku sedang memiliki keperluan disini.” Ia menjawab pendek sembari memberiku senyuman yang selalu bisa melelehkan hati wanita manapun.

”Oh ya? Lalu kenapa kau masih diam disini? Tidakkah lebih baik jika kau bergegas melaksanakan apa yang seharusnya kau laksanakan?” Aku menyahut setelah beberapa saat terpesona oleh senyuman itu. Aku tau aku seharusnya tidak penasaran dengan urusan orang lain, namun entah kenapa aku sangat penasaran dengan urusan Hyukjae kali ini. ”Well…” Dia sepertinya menggodaku, dia menatapku lembut sambil memegang tanganku. Andai aku tak mengenalnya, mungkin aku akan mengira ia serius. Namun karena aku mengenalnya cukup baik, aku mengerti bahwa ia hanya bercanda. Aku akhirnya tersenyum, setuju untuk terbawa dalam permainannya.

”Well?” Ia bergerak dengan ragu-ragu. Aku terkejut ketika ia memelukku erat sembari membisikkan kata-kata manis itu. ”Well.. Aku rasa aku menyukaimu. Lebih dari yang seharusnya seorang teman lakukan. Maukah kau menjadi pacarku?” Bisikannya benar-benar menghanyutkan, membuatku tanpa sadar tersipu-sipu.

Aku menundukkan kepalaku di pelukannya, orang-orang yang berlalu lalang di sekeliling kami sepertinya mulai memperhatikan kami. Aku dapat mendengar beberapa bisik-bisik tentang kami dalam pelukannya. ”Pikirkanlah dahulu, aku akan menunggu keputusanmu.” Ia bergumam lirih, melepaskanku dari pelukannya. Ia mengacak rambutku lembut sebelum mengecup pipiku pelan dan meninggalkanku begitu saja. Aku cepat-cepat menuju kamar mandi begitu tersadar akan apa yang baru saja terjadi.

Aku menggigit bibirku dengan cemas, entah kenapa tiba-tiba saja suatu pikiran tak menyenangkan juga melintas di pikiranku. Aku tau bahwa hal ini takkan bisa dicegah, toh Yunholah yang selama ini mengetahui semuanya. Tak ada orang lain kecuali dia.

Aku menutup mataku, merasakan detak jantungku dengan perlahan, aku menyukai irama detak jantungku, dan aku sangat menyayanginya. Aku menarik nafas dengan berat, aku khawatir Yunho akan mengungkapkan fakta sekaligus alasan yang telah merusak hidupku selama bersamanya.

***

”Sudahkah kau pikirkan tawaranku itu?” Hyukjae tersenyum lebar begitu kami bertemu di belakang panggung suatu acara musik. Aku terdiam, pura-pura tidak mendengar perkataannya. Aku tau aku benar-benar pembohong yang payah karena kemudian pipiku memanas, aku tersipu sekali lagi.

”Ani.. Aku belum punya waktu untuk memikirkannya.” Aku bergumam pelan, berjalan melewatinya. ”Ah, benarkah? Sayang sekali!” Hyukjae cemberut di sebelahku. Ingin rasanya aku mencubitnya, betapa menawan dirinya saat itu. Sangat menawan hingga aku sekali lagi harus menahan nafas ketika melihatnya.

”Apa yang kau takutkan?” Ia sekali lagi bertanya, aku berbelok cepat di salah satu lorong ruang ganti, membiarkannya kehilangan jejakku. ”Hey!” Ia berteriak memanggilku namun aku sekali lagi mengabaikannya. ”Park Ah-Ran!” Ia mengeluh sebal, berlari kecil untuk menyusulku. Aku terkikik, menyukai perasaan ini.

Tanpa sadar, aku telah berjalan diantara kerumunan orang dan menabrak punggung seseorang. Aku terjatuh, sedikit kaget karena peristiwa tersebut. Keterkejutanku tak berkurang ketika orang yang kutabrak tadi memutar tubuhnya dan melihat kearahku. Jung Yunho.

Ia menatapku dengan dingin, alisnya terangkat naik, seolah tidak menyukai kehadiranku didekatnya. Aku bangkit perlahan, berusaha menenangkan diriku dari kejadian sebelumnya. ”Sepertinya kau berlebihan dalam bersenang-senang?” Ia bertanya dengan nada dingin.

”Uh.. Ya, sepertinya begitu.” Aku bergumam pelan. ”Apakah karena Hyukjae?” Aku mengerjapkan mataku dengan bingung, bagaimana ia bisa mengetahuinya? ”Oh, kau itu selalu buta ya?” Yunho tertawa kejam. Aku terdiam, perasaanku terasa lebih sakit ketika ia mengatakannya. ”Dulu, kau buta ketika berhadapan dengan cintaku dan berkencan dengan orang lain. Apakah sekarang kau buta dengan kenyataan bahwa Hyukjae mencintaimu?” Tawanya terdengar jauh lebih sinis dari kali terakhir kami  bertemu. ”Apa yang kau lakukan ketika aku mencintaimu dan memujamu dulu hah? Kau berselingkuh dengan Jaejoong bukan?” Ia tertawa getir.

”Yunho.. Maafkan aku, waktu itu aku takut!” Aku berusaha menenangkannya, aku tidak ingin ia meledak tiba-tiba di tengah kerumunan seperti ini. Untunglah sepertinya orang-orang ini sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. ”Apa? Apa yang kau takutkan hah? Kau menyakitiku terus menerus, tak memperdulikan perasaanku.” Aku membisu, tak berani menjawab perkataannya. ”Apa yang kurang dariku? Apakah kau begitu traumanya dengan kematian orangtuamu hah!? Betapa bodohnya kau Park Ah-Ran! Takut akan cinta hanya karena orang tua meninggal dengan tragis!” Aku tak tahan lagi dengan semua ucapannya.

Ketika kemarahan menguasaiku, aku berteriak jauh lebih lantang dari yang ia lakukan padaku. ”Apa yang kau tahu tentang diriku, Jung Yunho?! Kau selalu berjanji padaku tentang kehangatan kasih sayang darimu, tapi apa? Kau tak pernah perduli dengan diriku! Kau bahkan tak ada ketika aku melewati masa susahku kan?! Apa yang kau lakukan saat itu?! Bekerja, bekerja, dan bekerja! Bukan salahku jika sekarang aku memutuskan untuk hidup berbahagia dengan orang lain selain kau!” Air mata telah menuruni wajahku, orang-orang mulai memperhatikan kami. Diantara semua itu, aku merasa sangat kecil dan tak berguna. Yunho tampak membeku, bibirnya terkatup erat.

”Ah-Ran!” Suara yang begitu familiar itu terdengar lembut sekali, seolah suara itu adalah musik ditengah kekacauan yang ada. ”Ah-Ran? Kenapa kau menangis?” Suara itu terdengar begitu khawatir, membuatku bimbang. Aku benci membuatnya khawatir. Tapi aku tak bisa menghentikan tangisanku.

”Ssshh.. Ayo kita pergi dari sini.” Aku merasakan tubuhku dibimbing dengan lembut dan penuh perasaan olehnya keluar dari lingkaran itu. Sama sekali tidak mengetahui bisikan lirih yang diucapkan oleh Yunho dibelakangku, ”Maafkan aku karena mengecewakanmu, Park Ah-Ran..”

***

Seperti biasa ia tidak banyak berbicara, dan aku tak mampu berkata-kata dalam kondisi seperti ini. ”Apakah kau selalu terluka setiap kali mengingat atau bertemu Yunho hyung?” Hyukjae bertanya pelan. Aku tak bisa menjawabnya, sekali lagi semua hal ini terasa gila dan tak menyenangkan. Sama seperti dulu ketika Yunho pertama kali mengancamku dan mewujudkan ancamannya menjadi nyata.

”Sepertinya begitu..” Aku bergumam pelan, mengusap airmata dari sudut mataku. ”Kau tak bisa begini terus, Ah-Ran..” Hyukjae berujar, memandang lurus ke jalanan di depan kami. Hyukjae telah menyalakankoleksi musik miliknya dan lagu ’Even In My Dreams’ pun perlahan mengisi keheningan diantara kami.

”Aku.. Aku bukannya selalu tersaiti ketika melihatnya. Hanya saja… Terkadang aku teringat akan janji-janji kami. Aku selalu teringat dengan kesalahan yang kuperbuat dan betapa sabarnya ia hingga peristiwa itu.” aku perlahan menjelaskannya, membiarkan luka lama itu terbuka.

”Apa yang kau lakukan?” Ia bertanya lembut, membuatku sekali lagi terdiam. Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Tanpa terasa, airmata telah menguasaiku kembali. Aku dapat mendengar desahan nafasnya, seolah memberitauku betapa kecewanya dirinya karena ketidak jujuranku.

”Maafkan aku..” Aku bergumam pelan. Ia tertawa pelan, ”Bodoh. Kenapa kau harus meminta maaf? Semua ini bukan salahmu.” Ia menjawab, pelahan kurasakan jari-jarinya menghapus butiran airmata yang terus menerus jatuh. ”Tenangkan dirimu. Kita bahas nanti begitu sudah di rumahmu, bagaimana?” Ia menatapku, seolah meminta persetujuanku. Maka aku tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengiyakan saja.

”Baiklah. Mari kita pulang.” Dan dengan itu, ia bersenandung pelan sembari menghidupkan mesin mobilnya. Membawa kami ke arah kebenaran yang selama ini kami pendam.

***

”Jadi? Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya padaku?” Ia bergelung dengan nyaman dengan kedua kucing pemberiannya meringkuk nyaman di dekatnya. ”Mereka bertambah gemuk.” Ia berkomentar sekilas sebelum menatapku lagi. Senyuman nya begitu menentramkan, membuatku sekali lagi merasa bersalah karena telah membuatnya terseret dalam masalahku.

Aku menarik nafas panjang, mengingat setiap rinci kejadian yang telah merubah diriku dan Yunho beberapa tahun belakangan. Aku tak perlu berusaha mengingat terlalu lama karena ketika aku memikirkannya, maka semua peristiwa itu berkelebat dalam pikiranku. Semuanya terasa nyata, seolah hal itu baru saja terjadi kemarin.

Aku menatap Hyukjae lama, sebelum akhirnya kurasakan diriku mulai bercerita.

Yunho adalah orang yang menyenangkan, ia hampir tidak pernah menangis ataupun memarahiku. Ia sangat menyayangiku. Ia terkadang bahkan melewatkan beberapa jadwal pentingnya demi merayakan hari-hari penting tertentu denganku.

Aku akui aku memang bukan orang yang mendapatkan kasih sayang yang berlebih, terlebih lagi karena memang kondisi rumahku yang sering kali sepi. Orangtuaku sering harus meninggalkanku sendirian di rumah dengan alasan mereka harus melakukan perjalanan bisnis.

Aku tidak keberatan. Aku secara perlahan telah terbiasa dengan hal tersebut. Lagipula aku memiliki Yunho sebagai kekasihku..

Suatu hari, di saat aku baru saja pulang dari kencanku dengan Yunho untuk merayakn hari jadi kami yang pertama, kabar buruk itu menghampiriku. Pelayan-pelayan di rumahku menatapku dengan sedih, kepala pelayan bahkan menangis tersedu-sedu. Aku tertegun, tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ketika itulah suara dari  televisi yang dibiarkan sengaja memecah konsentrasiku. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tak lama kemudian aku dikelilingi oleh kegelapan, aku mendengar teriakan, namun tubuhku tak mampu melawan kegelapan yang mengelilingiku.

Begitu terbangun malamnya, aku menangis terisak. Mengingat  berita buruk yang menghampiriku. Ada rasa penyesalan ketika berita itu sekali lagi menghantuiku. Perlahan, pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Aku tak menjawabnya. Ketika aku menoleh kembali ke arah pintu, Yunho telah berdiri di sana dengan wajah yang terlihat lebih tua dari yang kulihat pagi ini.

”Tenanglah..” Dan dalam sekejap saja, tangisanku semakin menjadi. Semalaman itu, ia menemaniku. Menenangkanku, membisikkan kata-kata manis. Dan bahkan ia pula yang mengurus pemakaman untuk kedua orangtuaku karena aku masih terlalu shock atas kepergian mereka. Keluarga kami segera saja berdatangan, mengirimkan salam terakhir mereka untuk kedua orangtuaku.

Setelah pemakaman, beberapa dari mereka menawarkan padaku agar tinggal bersama mereka. Aku menolak, beragumen bahwa aku sudah memiliki kehidupan yang cukup layak dan sanggup hidup sendiri. Lagipula waktu itu aku baru saja mendapatkan pekerjaanku sebagai staff di acara-acara TV. Pekerjaan yang kudapatkan karena kedekatanku dengan beberapa artis. Campur tangan Yunho sendiri sebenarnya cukup besar dalam hal ini.

Maka, dimulailah babak baru dalam hidupku. Semua lancar-lancar saja pada awalnya. Perbedaannya hanyalah secara perlahan ada orang lain yang memasuki hubunganku dengan Yunho. Bukanlah hal yang membingungkan karena Yunho seringkali membawa pulang Jaejoong dengannya. Sejak aku tinggal di rumah milikku sendiri, Yunho semakin sering mengunjungiku.

Aku tidak tau mengapa, namun perhatian Jaejoong jauh lebih melimpah dibandingkan dengan apa yang Yunho lakukan padaku. Ia jauh lebih perduli padaku, lebih banyak menyempatkan waktu untukku. Aku tau hal itu salah, namun aku tak bisa menghindar ketika Jaejoong menghadiahiku dengan begitu banyak kasih sayangnya sementara Yunho secara perlahan mulai menjauh dariku. Entah karena kesibukannya atau apa. Aku tak begitu perduli.

Ketika Yunho memergokiku tengah bermesraan dengan Jaejoong, kisah kehidupan asmaraku dengannya mulai terbalik. Semua kasih sayangnya hilang, ia begitu membenciku. Ia membenci luka yang kuberikan padanya. Sejak saat itu ia mulai melakukan banyak hal diluar kebiasaannya. Membuatku terluka bersamanya. Kami mengakhiri hubungan kami dengan menyisakan luka yang masih belum mengering.

Hingga sekarang, aku tak menyangka ia masih akan membenciku.

”Kau tau, Hyukjae? Aku telah melupakan rasa dendamku. Aku telah mengiklaskan apa yang terjadi padaku. Aku hanya ingin berbahagia.” Aku berujar pelan, menatap pangkuanku. Pipiku memanas malu, entah berapa kali aku pikirkan, aku masih saja tak percaya bahwa aku pernah menghancurkan hati orang yang telah begitu mencintaiku.

Aku mendongak terkejut ketika ia menarikku lembut dalam pelukannya. Tangannya menggenggam erat tanganku, seolah tak akan melepaskannya. Entah mengapa aku merasa begitu aman, begitu bahagia bersama dengan dirinya. Perasaan berbeda yang tak pernah kudapatkan dari Yunho. Aku mendesah bahagia, menyukai rasa nyaman dan aman ini. Sangat menyukainya.

”Tenanglah. Kau akan merasakan lagi apa itu cinta denganku.” Ia berbisik lembut, mengecup pipiku manis.

***

Aku menikmati hembusan angin yang begitu menenangkan. Hembusannya mengelus pipiku dengan manja, menghilangkan segala perasaan buruk yang bersemayam di hatiku. Sepasang lengan tiba-tiba saja telah melingkari pinggangku, menarikku pelan agar lebih merapat ke tubuhnya. ”Hyukjae..” Aku bergumam manja. ”Hem?” Ia membalas, hembusan nafasnya yang beraroma maskulin terasa begitu familiar, terasa begitu membujuk.

”Kau sedikit terlambat.” Aku memprotes pelan, menampar lengannya manja. ”Maafkan aku. Aku tadi mampir untuk membeli sesuatu.” Ia berujar, memutarku dengan sikap gentlemannya. Aku terpesona ketika aku telah berhadapan muka dengannya. Ia benar-benar mempesona, aku mengucapkannya dalam pikiranku, diantara kebisuan kami.

”Maukah kau menjadi tunanganku?” Ia mengeluarkan sepasang cincin, bersama dengan sebuket bunga mawar.. Aku terdiam cukup lama, berusaha meresapi apa yang sebenarnya tengah kuhadapi saat ini. ”Kumohon?” Suaranya memecah pemikiranku, dengan dirinya yang kini semakin dekat denganku aku tak dapat lagi memutuskan apakah aku akan menerimanya atau tidak. Namun, dengan melihat kesungguhan di matanya, aku tau.

”Maafkan aku..” Aku mulai menjawabnya. Debaran jantungku terasa lebih intens, seolah aku baru saja melakukan perjalanan jauh. Wajahnya tampak gelisah, membuatku hampir saja tertawa di momen-momen menegangkan seperti ini.

”Maafkan aku karena terlalu mencintaimu. Maafkan aku karena aku menerimamu, karena mulai dari sekarang aku tak akan melepaskanmu lagi.” Aku mengucapkannya dengan lantang. Aroma bunga mawar yang ia bawa bercampur dengan aroma bunga lainnya yang berada di sekitar kami. Seolah bunga-bunga di taman tersebut ikut berbahagia bagi kami. Bahkan burung-burungpun ikut menyumbangkan siulannya,  memberikan persetujuannya bagi kami.

”Kau membuatku takut.” Ia menghela nafas lega sembari tertawa. ”Aku terlalu mencintaimu. Tidak mungkin aku melepaskanmu begitu saja,kan?” Aku membalasnya. ”Yah.. Kau memang ditakdirkan untuk terikat denganku.” Ia berkata manis, mendekapku sekali lagi sebelum akhirnya mencium lembut keningku.

Aku benar-benar berharap kebahagiaanku akan benar-benar abadi bersamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: