[CERPEN] HARMONI KESENDIRIAN

 

 

Hal paling menyakitkan bagiku adalah ketika aku menyadari bahwa aku tidak lagi diinginkan dalam pergaulan kelasku. Aku tersingkirkan secara perlahan. Aku sempat berfikir bahwa apa yang mereka lakukan pada saat itu hanyalah sebagai bentuk kejutan mereka untuk hari ulang tahunku.

”Kita tidak boleh meninggalkan satu sama lain ya? Kita ini adalah sahabat.” Ucap salah seorang temanku.

”Benar, sesama teman tidak boleh saling meninggalkan.” Sahut temanku yang lain.

Ternyata perkataan mereka semua itu tidaklah benar. Mereka semua menyingkirkanku, membuangku dan tidak menganggapku teman. Mereka telah mengkhianati perkataan mereka sendiri dan aku lah yang menjadi korban mereka.

Di sekolah, aku dikenal sebagai orang yang galak dan mudah marah. Karenanya dulu teman-temanku memakai hal tersebut sebagai alasan untuk menjauhiku. Andai saja mereka tau bahwa aku melakukan hal tersebut karena aku tidak ingin terluka secara fisik dan batin.

***

Hanya ada satu orang di kelas yang memperdulikan aku. Namanya adalah Bagas. Sebenarnya hal yang aneh aku bisa menjadi dekat dengannya, mengingat bahwa selama ini aku tidak perduli padanya. Mungkin diantara kami masih ada ikatan pertemanan yang sempat terjalin sewaktu kami masih kecil sehingga kami bisa menjadi dekat.

Akhirnya karena tidak mempunyai teman lagi, aku mulai bergaul dengan murid-murid dari kelas lain. Di kelas C aku memiliki sahabat yang dapat kupercaya. Aku juga sering bermain ke kelas itu karena jujur saja, pada saat itu aku menyukai salah seorang siswa dari kelas C.

”Jo, kamu sering pergi ke kelas C karena ingin melihat Fe ya?” Bagas bertanya.

”Tidak kok, gas. Saya hanya ingin mengunjungi Riska.” Aku berusaha mengelak.

Bagas tidak menanggapinya dan hanya tertawa kecil, membuatku merasa terpojokkan dan tertangkap basah telah melakukan suatu kesalahan.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku menyadari bahwa pergaulan kelas C tidaklah cocok denganku. Mereka berbeda dan aku tidak bisa menyesuaikan diri dengan mereka.

Bagas tidak bisa kuandalkan untuk menemaniku setiap saat karena ia selalu sibuk dengan teman-teman kelasku yang lainnya. Aku tidak menyukai bentuk kedekatan apapun dengan mereka oleh karenanya aku berusaha menghindari mereka.

Kesempatan untuk berteman dengan teman baru datang ketika aku mulai mengobrol dengan siswa-siswa dari kelas G. Mereka ramah dan mereka tidak memaksaku untuk menceritakan masalah apa yang sebenarnya terjadi padaku.

”Yas, kenapa kamu sering sendirian? Ayo bergabunglah dengan kami, jangan sering melamun seperti itu, tidak baik!” Gungmas menegurku ketika melihatku duduk sendirian di luar kelas.

”Apakah tidak apa-apa, Gung?” Aku bertanya ragu.

”Tentu saja tidak apa-apa! Kenapa kamu bertanya seperti itu? Ayo, kemarilah!” Gungmas menjawab keraguanku dengan senyuman.

Aku akhirnya mulai bergabung dengan kelas G dan berteman dengan mereka.Mereka benar-benar membuatku merasa diterima. Dan tentu saja aku menyukainya.

Bagas sendiri sebenarnya cukup membantuku di dalam kelas. Aku tidak merasa kesepian karena ia selalu mendampingiku dalam bercanda maupun pelajaran. Teman-temanku tidak hanya ingin menegur sikapku dan kemudian berdamai denganku, aku harus berjuang selama dua semester untuk bisa menjadi benar-benar akrab dengan teman-teman sekelasku.

***

Aku bahagia sekaligus sedih ketika akhirnya kami semua naik dan menjadi siswa-siswi kelas 8. Pada semester satu ini pun, aku merasakan sekali betapa aku telah sangat dijauhi. Pada pagi pertama kelas 8 aku datang terlambat dan hanya tersisa tiga buah kursi, dua di barisan murid perempuan dan satu di barisan murid laki-laki.

Aku hampir saja mengambil tempat di belakang di barisan murid perempuan ketika temanku yang lain langsung menaruh tasnya tanpa berkata apa-apa dan memandangiku. Aku terdiam, mengetahui bahwa aku sudah kalah. Maka, aku pergi ke bangku depan di barisan murid perempuan. Aku memandang sebelah kiri dan kananku, menyadari bahwa aku terjepit diantara kelompok siswa yang tidak akan mau berteman denganku. Aku akhirnya memutuskan untuk memilih bangku yang tersisa di barisan laki-laki karena hanya itulah yang tersisa.

Ternyata lokasi tempat dudukku jauh lebih parah dari yang kubayangkan. Hari pertama dan kedua membuatku tertekan, hingga akhirnya Bagas mengambil inisiatif untuk menggantikan teman sebangkuku dan duduk satu meja denganku.

”Reza, saya duduk disini aja ya. Biar saya bisa menemani Joana, kamu duduk di belakang aja ya?” Bagas mencoba membujuk teman sebangkuku.

”Oh, duduk saja. Aku juga berencana untuk pindah tempat duduk kok.  Makasi ya, Gas!” Reza membalas perkataan Bagas dan bergegas pindah ke bagian belakang kelas.

”Terima kasih ya, Gas. Saya senang kamu bisa duduk untuk menemani saya.” Aku tersenyum lega kepadanya.

”Iya, Jo. Tenang saja. Kamu masih mempunyai teman,kok. Dan orang itu adalah aku.” Bagas membalas perkataanku.

Bagas sering meninggalkanku sendirian di tempat dudukku sehingga membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya dia lakukan. Suatu hari aku memberanikan diriku untuk bertanya padanya.

”Kenapa kamu sering meninggalkan saya sendirian disini sih, Gas?” Aku bertanya sedih.

”Maaf ya, Jo. Tapi saya pergi ke teman-teman yang lain supaya tahu kamu itu diomongin apa sih oleh mereka. Saya juga mencari perkembangan berita yang ada di kelas, Jo.” Bagas menjawab.

”Oh begitu ya.” Aku mengangguk lemas.

***

”Jo, bagaimana kalau kita berdua pergi belanja? Kamu lapar kan?” Bagas bertanya ceria.

”Eh, kamu mengajak saya, Gas?” Aku bertanya heran.

”Tentu saja! Ayo kita pergi berbelanja!” Bagas menjawab sembari menarik tanganku.

Aku merasa senang karena Bagas mengerti apa yang kurasakan. Aku senang karena ia mengerti tentang diriku.

Dulu sewaktu kelas 8, ada seorang murid laki-laki yang begitu membenciku sehingga membuatku bertanya-tanya apa sebenarnya masalahnya denganku. Setahuku aku tidak pernah mencampuri urusannya tapi dia sepertinya menghasut teman-temanku agar menjauhiku. Ia selalu mengatakan hal buruk tentangku. Bagas juga sering menjadi korbannya dan karenanya Bagas membenci temanku itu. Seringkali Bagas dan aku membahas rumor atau masalah apa saja yang sebenarnya terjadi di kelas.

”Gas, kamu tidak merasa kesal pada Aldhi?” Aku bertanya pada Bagas saat kami membahas tentang Aldhi.

”Aku merasa kesal padanya, Jo. Aku kesal karena dia sering membicarakan hal-hal buruk tentangmu. Andai saja dia tahu bahwa kamu bukanlah orang yang seperti itu!” Bagas menyahut dengan semangat.

Aku tersenyum bahagia. Bahagia karena masih ada orang yang mau membelaku disaat-saat terburukku.

***

Aku tidak begitu ingat bagaimana awalnya Arum bisa mendekatiku hingga akhirnya kami berteman dekat. Yang aku ingat, pada awalnya aku tidak begitu menyukai kedekatan kami karena aku merasa risih. Namun pada satu sisi aku merasa senang akhirnya ada teman kelasku selain Bagas yang mau berteman denganku. Aku merasa sangat kesepian sehingga memiliki seorang teman adalah hal yang menyenangkan.

”Saya tidak suka kalau Lodi meninggalkan saya dan pergi bersama Siwi dan Anggiet.” Arum memulai percakapan.

”Kenapa?” Aku bertanya dengan penasaran.

”Karena saya merasa ditinggalkan dan dilupakan.” Arum menjawab singkat.

Saat itulah aku mengerti bahwa aku sebenarnya tidak merasa sendiri di kelas. Aku bahagia karena sebenarnya masih ada orang yang merasakan penderitaan yang sama dengan penderitaanku.

***

”Jo, cobalah berbicara dengan teman-teman yang lain.” Bagas menyemangatiku sekaligus membujukku.

”Bagaimana caranya?” Aku bertanya bingung.

”Kamu tinggal berbicara saja dengan mereka, tidak susah bukan?” Bagas menyahut.

Bagas akhirnya menyeretku ke kumpulan teman-teman kelasku yang lain. Aku sedikit ragu dan menatap Bagas dengan tidak yakin. Bagas sendiri mulai sibuk mengobrol dengan teman-teman yang lain, membuatku merasa semakin kikuk. Aku memberanikan diriku untuk membuka mulutku.

”Halo. Bolehkah aku ikut bergabung?” Aku bertanya dengan suara lirih.

Mereka semua menoleh ke arahku. Mereka saling menatap satu sama lain sebelum tersenyum lebar dan sama-sama menyahut, ”Tentu saja boleh, Joana! Ayo, bergabunglah dengan kami.”

Aku merasa begitu bahagia dengan sambutan positif mereka. Sejak saat itu, aku secara perlahan membiasakan diriku dengan mereka dan mulai banyak mengikuti perkumpulan mereka. Aku bersyukur mereka akhirnya bisa menerimaku lagi.

***

”Joana yang sekarang berbeda dengan Joana ketika kelas 7. Joana yang kelas 9 jauh lebih menyenangkan.” Salah satu temanku berkata.

”Benarkah?” Aku bertanya dengan nada tidak percaya.

”Tentu saja! Kami senang kamu berubah menjadi jauh lebih baik.” Salah satu temanku yang lain memberi tahuku.

”Aku senang aku berubah menjadi lebih baik.” Aku menyahut, tertawa bersama mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: