[SHORT STORY] AND I HAVE TO LEAVE YOU LIKE THAT

“Kamu tau apa yang paling aku benci?” Aku bertanya pelan tanpa mengalihkan pandanganku dari laut yang terhampar indah di depan kami. Ia melirik kearahku tanpa menjawab pertanyaanku, namun dari aksinya aku tahu bahwa ia penasaran. ”Aku benci melihat temanku berbohong padaku. Aku benci ketika mereka berusaha menghancurkan karakterku yang telah kubuat dengan susah payah.” Keheningan segera saja menyelimuti kami.

Aku tidak heran ia terdiam lama, tujuanku membawanya kemari bukanlah untuk bersenang-senang. Dan ia tahu itu. Ia mengerti tentang alasanku membawanya kemari. Kami tidak perlu berpura-pura bahwa pembicaraan kami tidak akan menjurus pada hal itu. Kami berdua cukup berpengalaman untuk mengetahui bahwa diriku sedang marah.

”Dan apakah seseorang telah melakukan hal itu kepadamu?” Ia bertanya, suaranya terdengar jauh dan ragu. ”Ya, seorang teman dengan suksesnya melakukan hal itu.” Aku berujar dengan nada merenung, membiarkannya untuk berpikir tentang banyak hal.

”Apakah itu menyakitkan?” Kali ini ia bertanya dengan tulus. Aku menoleh kearahnya dan untuk pertama kalinya untuk hari ini, aku benar-benar menatapnya. ”Apakah menurutmu itu menyakitkan?” aku balik bertanya. ”Hey, aku bertanya kepadamu. Kau seharusnya menjawab pertanyaanku.” Ia mengelak, itulah yang kutangkap dari sikapnya.

”Jawabanmu adalah jawabanku. Aku tahu kamu pasti memikirkan hal yang sama.” Aku tersenyum tulus, kali ini tanpa memaksakannya seperti yang biasa kulakukan. Ia mengeluarkan desahan nafas yang panjang sebelum akhirnya menggumamkan kalimat itu, ”Ya, aku pasti akan merasa sedih dan sakit hati.”

Aku mengembalikan tatapanku pada hamparan luas laut. ”Sesakit itukah?” Ia kembali bertanya. Aku tidak tahu apakah ia bertanya dengan keluguan seorang anak kecil atau ada unsur kesengajaan dalam tiap ucapannya. ”Kau sudah merasakannya bukan? Semua orang sekarang membencimu,  kamu sedang dibentuk oleh dunia bukan? Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu.” aku menjawabnya. Tanpa menoleh lagi, aku bergegas bangkit dan meninggalkannya.

”Itu saja. Aku tidak cukup baik untuk memaafkanmu.” Aku berujar cukup keras, berharap ia mendengarku. Ya, ialah teman yang kumaksud. Ialah teman yang tadinya adalah teman terbaik yang bisa kudapatkan. Ia jugalah teman yang tanpa sadar menusukku dari belakang, membuatku gerah dengan segala sikapnya. Dan ketika dunia memberontak kepadanya, aku berusaha agar ia mengerti bahwa memang begitulah kejamnya dunia. Apakah ia mau mendengarkanku? Tidak. Ia menghancurkan semua kepercayaanku, menyulut api kemarahan dalam diriku.

Aku benci mengakui bahwa pada titik ini aku sudah tidak lagi perduli pada dirinya. Namun mau tak mau aku harus mengakui bahwa aku memang sudah berada pada titik itu. Aku tak punya lagi sedikit rasa kasihan yang bisa kuberikan pada dirinya. Tidak, dikhianati dan dibicarakan sedemikian rupa membuatku lupa bagaimana rasanya dalam posisi dirinya. Tidak, aku sudah tidak lagi mempunyai kesabaran untuk menghadapinya.

Aku tidak perduli lagi seberapa merananya dirinya, jika ia memang ingin berubah maka aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Dan jika tidak, biarkan saja semuanya berjalan sesuai dengan takdir dan nasib.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: