[Short FF] One Spring Day

Aku menyapukan pandanganku ke sekeliling ruangan yang sudah terasa akrab dengan kehidupanku. Ruangan dimana kita berdua dulunya sering bermalas-malasan dan bertukar cerita maupun canda ataupun kesedihan disini. Tempat ini terasa hangat walaupun kedua penghuninya telah berubah banyak.

Aku memandangi setiap jengkal ruangan ini dan membiarkan diriku terhanyut dalam kesedihanku sendiri. Aku masih belum terbiasa dengan hampanya ruangan ini tanpa adanya tawa ataupun bisikan-bisikan rendah dari kita berdua. Atau saat kita berdua terdiam dan hanyut dalam renungan masing-masing sembari menyesap minuman-minuman kesukaan kita di saat sore. Aku merindukannya.

Sembari meninggalkan kenangan-kenangan itu, aku bertanya-tanya bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu tidak terkena flu? Apakah kamu masih alergi dengan serbuk-serbuk bunga itu?

Pertanyaan demi pertanyaan menghujam fikiranku, membuatku lumpuh dan lemas tak berdaya. Dengan satu tarikan nafas panjang, aku menyeret tubuhku untuk duduk di sofa ruang tengah. Sofa kesukaan kita yang berwarna cokelat muda dan terbuat dari kulit serta dihiasi oleh beberapa bantal kecil yang kau beli saat kau tak sengaja melihatnya terpajang di sale item di salah satu tempat belanja favoritmu.  Sofa ini adalah tempat dimana kita menghabiskan waktu berdua dengan tertawa ataupun membisikkan kata-kata cinta yang dulu terdengar begitu manis. Sofa ini adalah saksi bisu dari setiap kenangan yang kita lakukan di tempat ini selama 3 tahun.

Hanya dengan menyentuh sofa ini, aku dapat merasakan kembali hangatnya siraman setiap kenangan indah yang pernah terpatri dalam hidupku ketika kita saling berbagi cerita disini. Aku dapat membayangkan dirimu yang sedang tersenyum manja dan meminta agar kau dapat tiduran di pangkuanku.

Aku sempat bertanya padamu, kenapa kau suka sekali tidur dalam posisi itu saat kita duduk di sofa ini, “Agar aku dapat melihat dengan jelas wajahmu, aku ingin sekali dapat mengingat dengan sempurna setiap inci dari wajahmu dan menyimpannya dalam kenanganku.” Itulah jawabmu padaku.

Dan kau pun akan dengan perlahan menyentuh wajahku. Kau akan dengan pelan mengelus setiap bagian wajahku sambil menggumamkan betapa sempurnanya diriku. Ingatkah kau pada hal itu? Ingatkah kau pada setiap senyuman yang kuberikan setiap kali kau menyentuh bibirku dan dengan desahan pelan kau akan mengatakan bahwa kau menyintaiku dengan segenap hatimu?

Aku juga masih dapat mengingat dengan jelas, di musim semi tahun lalu ketika kau terserang flu parah. Kau terbaring lemah di sofa ini dan menolak untuk tidur di ruang tidur kita.

“Disini lebih nyaman.” Kau berujar dengan keras kepala ketika aku membujukmu untuk kesekian kalinya agar pindah tidur di ruang tidur kita.

Aku ingat bagaimana mukamu memerah seharian dan kau terus menerus bersin. Matamu pun ikut berair dan panas badanmu waktu itu cukup tinggi sehingga membuatku khawatir dan terjaga semalaman. Tapi malam itu juga, kaulah yang membangunkanku dengan lembut saat aku jatuh tertidur di sampingmu di atas sofa yang sempit itu.

“Pergilah tidur di kamar, jangan disini. Kau juga akan terkena flu.” Nada khawatirmu malah membuatku merasa kesal sehingga aku hanya menggeleng pelan dan bersiap akan melanjutkan tidurku ketika tanganmu yang terasa panas sekali lagi menyentuh wajahku.

“Kumohon?” Kau berbisik dengan lemah.

Untuk pertama kalinya, aku takut kehilangan dirimu. Aku tau itu pemikiran yang bodoh, tapi aku takut sekali aku akan kehilangan dirimu malam itu. Pikiran-pikiran buruk menghampiriku dan aku tak sanggup lagi memikirkannya. Dengan hati-hati, kupeluk erat dirimu, kubiarkan diriku menjadi lebih dekat dengan dirimu. Kubisikkan kata-kata manis kepada dirimu dan membuatmu bingung. Tapi aku tak menghiraukan sama sekali protes-protes kecilmu. Aku malah dengan sangat bersemangat, mencium lembut bibirmu. Perasaanku tak menentu ketika bibirku bertemu dengan bibirmu yang masih juga terasa panas.

“Kau akan sakit!” Kau berujar dengan panik ketika ciuman singkat kita telah selesai.

Aku hanya tersenyum lembut dan mengunci bibirmu kembali saat kau akan membuka mulutmu. Untuk pertama kalinya, aku tau inilah yang akan kurasakan jika suatu saat aku akan kehilangan dirimu. Aku akan merasa takut, aku akan merasa gelisah dan aku akan merasa sangat kehilangan. Dalam ciuman kita malam itu, kuselipkan harapan agar kita tidak akan pernah berpisah.

Tanpa kurasakan, semua kenangan itu telah membuatku menangis. Dadaku terasa sesak, nafasku menjadi lebih pendek dan penglihatanku mengabur. Harapan yang kuselipkan di ciuman kita itu sama sekali tidak terkabul. Kita harus berpisah, di saat perayaan ke 3 kita, kau malah menghancurkan semua mimpi indah yang telah kurencanakan untuk kita.

Aku ingat betapa dinginnya matamu pada saat kau mengatakan bahwa kau ingin kita berpisah. Suaramu bergetar dan kau menggenggam erat tanganmu namun matamu terlihat mantap. Aku berusaha tertawa pelan saat itu, berusaha menghangatkan suasana yang mendadak terasa beku di sekeliling kita. Suhu kamar kita anjlok beberapa celcius saat kau mengucapkan sekali lagi apa yang telah kau ucapkan sebelumnya.

“Aku ingin berpisah, Junhong.” Kurasakan semua rencana masa depanku untuk kita perlahan mulai hancur.

Kuberanikan diriku untuk menatap matamu, kuberanikan diriku untuk tersenyum dan berbisik dengan lemah, “Kau hanya bercanda kan Hyosung?” Ada tawa getir dalam ucapanku.

Tapi kau tak menjawab dengan kata-kata, dengan pelan kau menggeleng. Dengan langkah-langkah ragu kau menghampiriku, matamu tak lagi terlihat sedingin tadi. Sebaliknya, matamu kini mencerminkan kegoyahan hatimu. Kau menggigit pelan bibir bawahmu dan menatapku dengan ragu-ragu.

“Apa? Permainan apa yang kau lakukan?” Nadaku terdengar hampa dan itu membuatku membenci diriku.

“Aku… Aku telah menemukan orang lain… Aku mencintai dirinya lebih dari mencintaimu, Junhong.”

Kurasakan dengan jelas betapa hancurnya perasaanku saat itu. Aku bahkan tak sanggup merasa kasihan saat kedua matamu mulai berkaca-kaca dan dengan singkat kau mulai terisak pelan di hadapanku.

“Maafkan aku.” Kau berbisik.

Aku tak menjawabnya. Aku kaku. Namun ketika kau merosot di hadapanku dan masih terisak-isak, aku tak sanggup lagi terdiam. Dengan lembut dan pelan, kutarik pelan tubuhmu agar kau berdiri. Kubisikkan kata-kata penghiburan kepadamu. Aku tau aku tolol, aku tau aku terlihat bukan seperti lelaki sejati. Tapi melihatmu hancur di hadapanku adalah hal paling menyakitkan bagiku, maka aku membiarkan diriku untuk hancur dan menggantikan posisimu saat itu.

Kuminta izinmu untuk mengecup bibirmu untuk terakhir kalinya dan kau mengizinkannya. Maka, tanpa kita sadari, kecupan-kecupan kecil itu berubah menjadi ciuman-ciuman panjang yang mencerminkan hancurnya hatiku. Setiap kali bibir kita bertemu, kurasakan kekuatanku berkurang. Dan saat kau lepaskan ciuman kita, aku tak sanggup lagi bertahan.

“Aku akan pergi sekarang, aku akan mengambil barang-barangku nanti saja…” Aku mendengar diriku bergumam namun aku sendiri tak mengerti bagaimana aku bisa mendapatkan kesempatan itu.

Dan aku ingat bagaimana dengan linglung aku meninggalkan kamar kita dan ruangan apartemen kecil kita dan pergi tak menentu. Aku ingat bagaimana aku terseok-seok menuju rumah sahabatku dan terkapar bagaikan orang sekarat begitu aku diterima masuk ke dalam rumahnya.

Aku hancur. Dan kau sama sekali tidak pernah menghubungi saat itu, kecuali hanya untuk mengabarkan padaku bahwa apartemen kecil itu sepenuhnya milikku karena kau tidak lagi tinggal di sana. Kau akan tinggal bersama dengan kekasih barumu.

Apa kau pikir hidupku akan semakin mudah dengan tinggal di tempat yang selalu menyiramiku dengan kenangan-kenangan manis diantara kita? Ku edarkan sekali lagi pandanganku ke sekitar ruangan ini. Hatiku masih terasa sakit setiap kali aku membayangkan tawamu maupun isakanmu pada malam itu.

Kuputuskan untuk mempercepat proses berkemasku. Kubiarkan diriku merasa lelah dengan memindahkan banyak perabotan di ruangan ini, kubiarkan orang-orang yang tak kukenal yang kusewa untuk membantuku berkemas memasuki zona pribadi kita berdua. Kubiarkan diriku bergerak bagaikan robot yang tak lagi memiliki pikiran.

Aku benar-benar hancur ketika kau tinggalkan. Bunyi barang yang jatuh membuatku menoleh dan dengan cepat pula aku tersadar bahwa itu adalah figura foto. Dengan malas kuangkat figura itu dan kurasakan hatiku remuk sekali lagi ketika kulihat dirimu yang sedang tersenyum manis kepadaku melalui foto itu. Foto yang kita ambil di Jepang saat musim semi tahun lalu, ketika kau telah sembuh dari flumu.

Senyuman manis yang polos, senyuman yang hanya kau tunjukkan padaku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, kubiarkan paru-paruku terisi lebih banyak oksigen. Deringan kencang dari ponselku membuatku terusik. Tanpa melihat ID Call-nya, aku menjawab telepon ini.

“Halo?”

“Junhong, maafkan aku. Tinggalkan saja setiap kenangan kita di apartemen itu dan tetaplah bergerak maju. Semua kenangan itu, biarkanlah menjadi kenangan manis. Kumohon, lupakan diriku.”

Aku kehilangan kata-kata. Suara manis di seberang sana terasa bagaikan oasis di tengah gurun pasir di hidupku ini. Kututup mataku untuk menguatkan diriku sendiri.

“Aku mencintaimu, Hyosung.” Aku membisikkan kata-kata itu lagi.

Dan aku dapat mendengar isakanmu sekali lagi di seberang telepon. Taukah kau? Aku juga sebenarnya menangis saat membisikkan kata-kata itu. Aku menangis karena aku tau, aku tak lagi berharga dalam hidupmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: