[Fanfiction] I Still Need You

Title : I Still Need You

Cast :

Lee Kikwang

Jun Hyosung

Language : Bahasa Indonesia

Please leave a comment after reading, that will help a lot 🙂

 

”Aku akan membuatkanmu sebuah lagu.” Kikwang berbisik manis pada gadis yang sedang menyenderkan kepalanya di bahunya.

            Aroma parfum gadis itu bercampur dengan aroma ruangan yang lembut dan membaur menjadi satu aroma yang menenangkan hatinya. Tangan gadis itu berada dalam genggamannya dan ia tak berniat sedikit pun untuk melepaskannya. Gadis itu pun sepertinya tidak keberatan dengan apa yang ia lakukan karena ia malah membalas genggamannya dengan meremas pelan tangan Kikwang.

            Sore hari di cafe langganan mereka hari itu terasa lebih syahdu daripada kencan-kencan mereka biasanya.  Mereka tidak keberatan ketika mereka harus terombang ambing dalam kesunyian karena tidak ada satupun dari mereka yang angkat bicara. Bahkan sepertinya cuaca di luar pun mendukung suasana tenang dan syahdu diantara keduanya.

            ”Apakah kau hanya akan menyanyikannya untukku?” Suara gadis itu memecah keheningan yang sempat mengungkung mereka.

            Kikwang tersenyum ketika ia mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang pasti akan ia iyakan dalam waktu detik. Tidak perlu waktu lama baginya untuk menjawab pertanyaan seperti itu karena gadis yang ia cintailah yang sedang bertanya padanya. Ia rela melakukan apapun untuk gadis itu.

            ”Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan.” Kikwang terdiam sejenak sebelum ia akhirnya menarik nafas pendek dan melanjutkan kalimatnya, ”Jika kau mau lagu itu menjadi lagu exclusive untukmu, aku akan melakukannya. Tapi jika kau ingin dunia mendengarkan lagu itu dan mengingatnya sebagai kenanganku akan dirimu, aku akan menyanggupinya.”

            Tawa pelan mengalun lembut dari bibir gadis itu, membuat Kikwang tersenyum semakin lebar. Ia menyukai tawa gadis itu, ia menyukai rasa menggelitik yang mau tak mau membuatnya ikut tersenyum simpul setiap kali gadis pujaannya itu tertawa.

            ”Hyosung-ya…” Ia berbisik pelan, membuat tawa gadis itu terdiam.

            Kikwang mengatupkan kedua tanganya pada tangan gadis itu dan menarik tangan gadis itu ke arah dadanya, tepat di atas tempat jantungnya yang sedang berdetak.

            ”Apa kau merasakan itu, Hyosung-ya? Jantungku berdegup kencang setiap kali aku bersamamu.” Kikwang bergumam pelan, ia melepaskan tangannya dari genggaman Hyosung dan membiarkan tangan lembut gadis itu di atas dadanya, merasakan debaran jantungnya yang memang sedang tak beraturan.

            ”Apakah ini karena diriku?” Hyosung bertanya pelan, kepalanya sedikit demi sedikit mulai menjauh dari bahu Kikwang. Dengan pasti ia mulai duduk tegak walaupun tangannya tak pernah lepas dari dada Kikwang.

            Kikwang menatap gadis di hadapannya itu dengan kagum. Ia sama sekali masih tak bisa mempercayai bahwa dirinya lah yang memiliki gadis ini. Gadis bermata kecil yang tajam dan wajah yang berparas cantik ini memilihnya untuk menjadi pemiliknya.

            ”Kikwang-ya…” Suara yang begitu lembut itu membangunkannya dari lamunan pendeknya. Ia menatap gadis itu sekali lagi dan mengangguk.

            ”Kau gombal.” Hyosung tertawa lepas sembari tangannya ditarik lepas dari dada Kikwang.

            Kikwang hanya meringis, menyadari suasana syahdu mereka kini telah menguap begitu saja karena kegombalannya.

            ”Tapi aku menyukainya.” Hyosung berbisik pelan di telinga Kikwang.

            Kikwang hanya tersenyum simpul selagi tangannya melingkari pinggang Hyosung dengan sayang.

***

 

Suara hiruk-pikuk di sekitar Kikwang tidak mengganggunya untuk melanjutkan apa yang sedang ia lakukan sebelumnya. Mata Kikwang sibuk mencari-cari sosok Hyosung namun ia tak mendapati apapun. Ia berusaha keras untuk mendapati sosok Hyosung. Ada rasa sedih yang tak dapat ia ungkapkan ketika ia menyadari bahwa kekasihnya itu tidak akan datang ke konser BEAST kali ini.

Sekelebat ingatan lewat di pikirannya tapi ia menolak untuk mempercayai apa yang ia ingat. Ia sama sekali tidak ingin mempercayainya, terlalu sulit baginya untuk mempercayai apa yang baru saja lewat dalam pikirannya.

”Kikwang hyung!” Suara Dongwoon yang meneriakkan namanya membuatnya menoleh ke arah member termuda BEAST itu.

Pandangan yang diberikan Dongwoon kepadanya membuatnya sedikit tidak nyaman namun ia membalas tatapan Dongwoon dengan senyuman palsunya yang biasanya akan membuat orang-orang percaya ia baik-baik saja. Semua orang pasti akan percaya, kecuali Hyosung.

Jantungnya terasa nyeri ketika ia mengingat nama itu lagi. Kenapa begitu susah untuk melupakan dirinya? Kenapa ia ingin menangis setiap kali ia mengingat nama itu?

”Hyung, apa kau sedang mencari-cari Hyosung noona?” Pertanyaan itu membuat senyuman palsu Kikwang menghilang dalam hitungan detik.

Kikwang menatap Dongwoon dengan hampa. Dongwoon terlihat khwatir, apa ia terlihat begitu jelasnya sedang merindukan mantan kekasihnya itu?

Kikwang menggelengkan kepalanya dengan sedih, setiap kali  ia mengingat Hyosung, jantungnya berdetak lebih pelan. Waktu seakan terhenti ketika ia mengingat Hyosung dan kenangan-kenangan indah mereka. Ia merindukan mantan kekasihnya itu, ia sangat merindukannya hingga rasanya ia mampu membuang semua harga dirinya dan berlari padanya lagi dan memohon padanya agar mereka berdua dapat kembali menjadi sepasang kekasih lagi.

”Hyung, noona tidak akan datang.” Dongwoon berujar lagi, kali ini ia bahkan mengguncang tubuh Kikwang dengan kuat.

Tangan Kikwang dengan sigap mencengkram tangan Dongwoon yang berada di bahunya membuat Dongwoon terpaksa menghentikan aksinya.

”Tapi aku sudah mengiriminya tiket VIP, bahkan aku sudah memberikannya ID Pass agar ia bisa mengunjungiku di belakang panggung.” Kikwang bergumam lirih sembari sekali lagi menampilkan senyuman palsunya kepada Dongwoon.

Dongwoon hanya dapat menggelengkan kepalanya. Sisa-sisa aura keceriaan di sekelilingnya habis sudah ketika Kikwang tak mau menerima kenyataan yang terhampar jelas di depannya.

”Dongwoon-ah, pergilah bersama yang lain. Aku akan ikut rehearsal sebentar lagi, oke?” Kikwang dengan lembut menepuk bahu magnae kesayangannya itu sebelum meninggalkan Dongwoon yang terpaku ditempatnya.

 

***

”Kikwang-ah, aku ingin bertemu denganmu. Aku kangen.” Suara Hyosung terdengar samar-samar dari ujung telepon.

Kikwang hanya tersenyum sedikit dan tak menjawab pertanyaan Hyosung. Ia sedang berada di gedung Cube Entertainment dan baru saja menyelesaikan latihan hariannya untuk konsernya yang akan diadakan bulan depan. Ia terpaksa pergi meninggalkan ruang latihan saat istirahat ketika ponselnya terus berdering, panggilan dari Hyosung.

”Kikwang? Kau masih disana?” Suara Hyosung terdengar lagi dari. Kali ini Kikwang hanya dapat meringis.

”Ya, aku masih disini, baby.” Ia bergumam pelan.

”Jadi? Apa kita bisa ketemu? Aku sangat kangen padamu.” Hyosung merengek manja.

Kikwang menatap dinding kaca di depannya, tak yakin dengan apa yang akan ia sampaikan. Ia merasa terlalu lelah dan malas untuk pergi selain untuk urusan pekerjaannya dan latihan.

”Aku lelah, baby. Bisakah kita menundanya?” Kikwang akhirnya menjawab pertanyaan Hyosung setelah beberapa detik lewat dengan kesunyian yang intens diantara keduanya.

”Apa kau benar-benar tidak bisa meluangkan waktu? Besok kan akhir pekan… Siapa tau kita bisa piknik atau sesuatu seperti itu?” Hyosung masih berusaha membujuknya.

Rahang Kikwang mengeras, ia benci ketika Hyosung menjadi manja seperti ini. Ia benci ketika Hyosung tak mengerti tentang apa yang ia katakan.

”Apa kau tidak mendengarku? Aku bilang aku lelah.”

Hyosung terdiam di tempatnya, nada suara Kikwang berubah menjadi lebih dingin dan lebih tajam seolah-olah ia sedang marah padanya.

”Baiklah…. Kalau memang kau tak bisa, kita bertemu lain kali saja.” Hyosung mencoba agar suaranya tetap terdengar bahagia.

Ia lebih pintar berbohong dibanding dengan Kikwang jadi ia yakin Kikwang tidak akan mendengarkan perbedaannya.

”Ya.” Dan Kikwang memang tidak mendengar perbedaan suaranya.

”Aku mencintaimu, beristirahatlah ya? Semoga latihanmu lancar.” Hyosung berbisik pelan.

Kikwang menunduk, menatap ujung sepatunya yang tiba-tiba terasa lebih menarik dibandingkan dengan dinding kaca yang telah ia tatap selama beberapa menit terakhir. Mendengarkan bisikan lembut Hyosung membuatnya menyadari betapa rindunya ia sebenarnya pada kekasihnya itu, sama seperti yang sedang dirasakan oleh kekasihnya padanya.

”Ya.” Ia menjawab pelan sebelum menurunkan ponselnya dari telinganya, tak memperdulikan fakta bahwa Hyosung belum memutuskan telepon diantara keduanya.

”HYUNG!” Teriakan nyaring yang terdengar familiar membuatnya menolehkan kepalanya ke sumber suara.

”Hey, Dongwoon. Ada apa?” Kikwang memandang magnaenya dengan tatapan malas.

”Doojoon hyung mengajak kita pergi minum-minum. Katanya karena besok kita libur, kita bisa seharian menghabiskan waktu kita dengan kumpul-kumpul! Doojoon hyung juga mengajak kita jalan-jalan besok. Kau ikut hyung?” Dongwoon menjelaskan dengan senyuman lebar yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Minum-minum dan jalan-jalan terdengar bagus untuk magnae itu karena ia sedang benar-benar membutuhkannya karena tuntutan jadwal kerjanya yang padat membuatnya kehilangan waktu untuk benar-benar bersantai.

Kikwang merenung beberapa detik sebelum akhirnya menyuarakan jawabannya, ”Baiklah, aku ikut. Lagipula aku tidak ada janji.”

Dongwoon tertawa senang sebelum meninggalkan Kikwang sendirian di koridor itu dan berlari kembali ke ruang latihan tempat para hyungnya yang lain sedang berkumpul. Kikwang hanya tersenyum geli dengan tingkah magnaenya itu. Di tempat lain, Hyosung tersenyum kecut dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.

***

”Kikwang-ah, kumohon fokuslah pada apa yang kau akan lakukan.” Doojoon yang berdiri di hadapannya menatapnya dengan pandangan yang sama yang diberikan oleh Dongwoon kepadanya beberapa saat lalu.

Pandangan putus asa, pandangan memohon serta pandangan yang menyatakan bahwa ia juga merasa prihatin atas apa yang dialami oleh Kikwang. Aura frustasi memenuhi panggung selagi member-member lain diam-diam memandangi keduanya yang masih berdiri di pojok panggung untuk bicara.

”Maaf hyung, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi.” Kikwang bergumam pelan sembari menundukkan kepalanya.

”Kikwang, aku percaya padamu. Jangan mengecewakan kami, oke?” Doojoon menepuk punggung Kikwang dengan pelan, seolah takut pria di depannya ini bisa saja hancur menjadi debu hanya dengan sedikit tepukan seperti yang ia lakukan saat itu.

”Baik, hyung.” Kikwang mengangguk.

Doojoon menoleh ke arah member-member lain. Ia menggeleng dengan sedih dan gelengan kepalanya disambut dengan desahan kecewa para member lain.

***

”Apa kau lupa kau harusnya menuliskanku sebuah lagu?” Hyosung tersenyum manis padanya saat ia mengunjungi Kikwang di gedung agensinya saat istirahat siang.

Kikwang hanya menoleh sebentar kepada Hyosung sebelum melanjutkan makannya yang tertunda. Ia menggeleng perlahan.

”Aku ingat kok, hanya saja aku belum sempat menuliskannya.” Kikwang berujar santai.

”Oh begitu.” Hyosung masih saja tersenyum manis di hadapannya.

Kikwang mencuri-curi pandang untuk melihat senyuman yang selalu Hyosung berikan kepadanya. Senyuman yang hanya ia berikan kepada Kikwang, senyuman tulus yang selalu ia berikan di saat Kikwang benar-benar membutuhkannya.

Rasa bersalah menyelimutinya. Kekasihnya selalu memberikannya senyuman manis dan kesabaran disaat ia paling membutuhkannya. Ia tak pernah mengeluh walau Kikwang tiba-tiba menjadi tempramental atau malah manja kepadanya. Ia hampir selalu ada untuk Kikwang dimanapun.

Tapi apa yang ia berikan? Hampir tidak ada.

”Aku akan meminta Junhyung untuk menuliskannya, bagaimana menurutmu?” Kikwang bertanya pelan sembari menurunkan sendoknya. Matanya mengawasi perubahan ekspresi pada Hyosung.

Tapi Hyosung hanya tersenyum lembut, ”Jika kau memang tidak sempat, tidak apa-apa. Aku tidak akan menagihnya terus kok. Aku hanya tadi hanya bertanya.”

Kikwang terdiam, tak mampu bersuara.

***

”Junhyung-ah.”

Ia baru ingat bahwa Junhyung masih memiliki hutang lagu kepadanya. Lagu yang seharusnya diberikan kepada Hyosung. Lagu yang seharusnya menjadi simbol cinta keduanya.

”Ya?” Junhyung menatapnya dengan ragu, seolah tidak yakin bahwa Kikwang memang memanggilnya.

”Apa… Lagu yang kuminta padamu beberapa waktu lalu sudah jadi?” Kikwang bertanya dengan hati-hati.

Junhyung menatapnya lama sebelum terbatuk kecil dan membuang pandangannya ke arah lain.

”Urm… Itu sebenarnya….”

”Ya?”

”Aku tidak mungkin memberikan lagu ini untukmu. Karena… Lagu itu tidak pernah kubuat. Aku hampir tidak punya waktu untuk membuatnya.”

Kikwang terdiam lama, matanya menerawang ke depan. Ada perasaan bersalah yang semakin membelenggu dirinya.

’Harusnya aku tau sejak awal, alasan kau menginginkan lagu itu’

”Kalau kau ingin menyanyikan lagu untuk Hyosung, kalau kau ingin Hyosung mendengar kesedihanmu, pakai saja lagu I’m Sorry dulu. Bukankah lagu itu cocok dengan keadaanmu sekarang?”

Kikwang mengusap wajahnya dengan frustasi, ”Bolehkah?”

”Kenapa tidak? Itu bisa jadi encore yang keren.” Junhyung tersenyum cerah seolah untuk menyemangati jiwa yang sedang terombang ambing itu.

***

Kikwang memasuki cafe langganan mereka dengan malas. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan Hyosung untuk beberapa hari terakhir. Jadwalnya benar-benar tidak memungkinkan untuk beristirahat tapi Hyosung memaksanya datang ke cafe ini.

”Sebentar saja.” Hyosung memohon di telepon.

Maka ia menyanggupi untuk datang karena sepertinya ada sesuatu yang penting yang harus disampaikan oleh Hyosung.

Matanya menangkap Hyosung yang sedang duduk di tempat favorit mereka sembari meremas-remas tangannya dan menggigit bibir bawahnya. Kebiasaannya ketika ia gugup. Kikwang tersenyum geli melihat kekasihnya bisa melakukan hal itu di ruang publik seperti ini.

”Hei.” Ia menyapa sekilas sembari menghempaskan diri di samping Hyosung.

Hyosung melirik gugup ke arahnya dan tersenyum kecil. Kikwang baru saja akan melingkarkan tangannya di pinggang Hyosung ketika secara tiba-tiba kekasihnya itu melompat berdiri sebelum tangannya bisa melingkar di pinggangnya. Dengan cepat Hyosung memutar tempat duduknya sehingga ia duduk berhadapan dengan Kikwang dan bukannya bersisian dengannya.

”Ada apa ini?” Kikwang bertanya dengan kesal.

”Kikwang… Aku ingin berpisah.” Hyosung bergumam pelan.

Jantung Kikwang berdetak lebih cepat, darah seakan mengalir lebih cepat di kepala dan telinganya. Ia terbatuk kecil, berusaha menutupi kegugupannya.

”Kau bilang apa tadi?”

”Aku ingin berpisah denganmu.” Hyosung kali ini berujar dengan tegas dan lebih perlahan, seolah ingin Kikwang mendengarkannya dengan baik.

Kikwang tak menjawab apapun. Matanya berubah liar, rasanya dirinya benar-benar terbakar.

”Apa kau gila?! Apa yang salah dengan diriku?! Apa kau menemui pria lain dan karenanya kau meminta putus dariku?!” Suara Kikwang meninggi dengan setiap pertanyaan dan membuat beberapa pengunjung melirik penasaran ke arah mereka.

”Kikwang, kecilkan suaramu.” Hyosung bergumam panik.

”Aku tidak bisa! Pacarku berselingkuh dengan orang lain dan aku harus tenang?!”

Ketika ia sudah menyelesaikan kalimatnya, ia menyaksikan ketika Hyosung dengan tenang berdiri dari tempat duduknya. Tubuhnya bergetar dengan kesedihan dan kemarahan yang menguasai dirinya. Dan ketika Kikwang masih menebak-nebak apa yang akan Hyosung lakukan pada dirinya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Ia terdiam, tak mampu berkata apa-apa.

”Kau tau… Aku sudah berusaha sabar, aku sudah berusaha agar hubungan kita tetap bertahan. Tapi jika selama ini aku kau anggap bukan apa-apa melainkan hanya asistenmu saja, lebih baik kita berhenti disini. Aku sudah lelah. Selamat tinggal Kikwang,”

Kikwang sempat melihat air mata yang menuruni wajah Hyosung namun ia tidak dapat berkata apa-apa ketika gadis itu membalikkan badannya dengan cepat dan menghilang begitu saja. Tamparan tadi mulai terasa panas di pipinya tapi ia tak perduli, matanya terasa jauh lebih panas. Air mata mendesak untuk keluar dan ia membiarkan dirinya menangis, disaksikan oleh beberapa pasang mata yang sejak tadi menonton apa yang terjadi pada keduanya.

***

Kikwang berdiri di hadapan penggemarnya dengan ragu. Pertanyaan-pertanyaan gila tentang Hyosung mengelilingi pikirannya. Ia ragu, namun di sampingnya Junhyung menganggukkan kepalanya ke arah Kikwang, memberikan aba-aba.

Dan ketika suara musik mulai terdengar dan ketika Junhyung mulai melantunkan awalan lagu itu, ia tau ia harus melakukannya. Demi membayar apa yang sudah ia lakukan.

”Girl…

I still regret a lot

I wanna….

I wanna turn back times

Woooo Wooo Wooo Woo…”

 

Ya, andai ia bisa memutar waktu. Kikwang menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya, siap melantukan permintaan maafnya.

“Baby Girl…

Even if I try to erase your presence

And even your name

I can’t forget you

I, who pushed your clinging body away

I, who regretted after sending you away

Like this I miss you

Miss you”

Mata Kikwang menelusuri kursi-kursi di deretan VIP, ia tak tau kenapa ia melakukannya. Ia hanya ingin melakukannya, demi mengusir rasa penasarannya.

”Hey Stop,

The last moment between us

Is cornering me to the edge of this cliff”

Dan matanya bertabrakan dengan mata seorang gadis yang memakai jaket biru dongker. Matanya terlihat indah dan familiar hingga akhirnya Kikwang tidak dapat melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia merasa dekat dengan gadis itu. Keningnya berkerut sembari mulai menyanyikan kembali bagiannya.

” When the time passes and passes

When the pain becomes a memory

If you can return to me with that

Kind of heart that loved me again

I’m sorry girl, I’m sorry girl, I’m sorry girl, I’m sorry girl, I’m sorry girl.”

Mata itu masih menatap Kikwang dengan tajam dan tanpa belas kasihan. Mata itu masih menusuk batin Kikwang. Butuh beberapa detik bagi Kikwang sebelum akhirnya ia menyadari siapa gadis itu sebenarnya. Matanya terasa panas lagi dan air mata akhirnya mengaliri wajahnya selagi ia melanjutkan bagiannya. Kali ini, ia bersungguh-sungguh menyanyikannya.

”Looked inside a silent room

My mind a blank, I go crazy from the thoughts of you

No matter how much I call

and call again you aren’t here”

‘Salah… Ia ada disini.’ Kikwang berbisik pada dirinya sendiri sembari matanya tak pernah melepaskan sosok gadis itu. Ia tak menghiraukan pandangan khawatir dari Junhyung yang sedang melakukan rapnya.

” Just me who is crumbling without you

Is left here”

Gadis itu memajukan wajahnya secara perlahan, membuat cahaya menyinarinya dan membuat Kikwang dapat melihatnya dengan lebih jelas. Jantungnya berdegup kencang.

“Why did I get a hold of you back then

Looking at my self regretting after sending you away

Like this I miss you

I Miss you, I need you.

I’m sorry no way. Come to me.”

 

Ada senyuman pahit di wajah gadis itu.

 

“When the time passes and passes

When the pain becomes a memory

If you can return to me with that

Kind of heart that loved me again

I’m sorry girl, I’m sorry girl, I’m sorry girl, I’m sorry girl, I’m sorry girl.

Smiling as if there is nothing wrong

Please comeback to me

Stay by me, I can’t forget you even if I die

Wait for me

At that place, on that spot

I won’t send you away

Because I can’t live a day

without you”

 

Wajah gadis itu basah oleh air mata, sementara Kikwang berdiri terpaku di tempatnya, perasaannya bercampur aduk. Apa ia masih pantas mendapatkan gadisnya kembali? Ia termangu, sembari meresapi akhir lagu yang ia nyanyikan. Junhyung masih meliriknya sedikit ketika ia mengambil partnya dengan cepat.

”From the sadness of sending you awa

I empty the full glass

Already drunk

I crave you all over again

I don’t do anything after losing you

My world is on pause

And right in the middle of it all, you are there ma babe

I’m sorry girl I’m sorry girl
I’m sorry girl I’m sorry girl
I’m sorry girl I’m sorry girl”

 

Kikwang menjadi gelisah ketika saat penutupan konsernya berjalan dengan lambat, ia bisa melihat gadis itu menghilang kembali dalam kegelepan. Hyosung tidak tampak tertarik dengan apapun yang ia lakukan.

Kikwang terpaksa harus memberikan senyuman palsunya sepanjang akhir acara. Dan ketika ia diminta menunggu sebelum diperbolehkan menyusuri kursi VIP, ia hampir gila. Ia berusaha melanggar apa yang diminta namun ia terlalu lemah.

Ketika ia diperbolehkan menengok isi kursi VIP, ia menangkap sosok gadis yang ia cintai. Gadis itu masih menunggu dirinya.

”Kau tidak pulang.” Kikwang tanpa sadar telah mengucapkannya.

Gadis itu menoleh ke arahnya.

”Kau memintaku untuk menunggu di tempatku.” Ia berujar datar.

Kikwang tersenyum lebar. Dengan cepat ia menghampiri gadis itu dan membawanya dalam pelukannya. Ketika ia menunduk, ia bisa melihat wajah Hyosung yang masih basah karena air matanya dan juga senyuman tipis yang tersampir di wajahnya.

Ia mencondongkan wajahnya sedikit ke arah Hyosung dan ketika Hyosung tak menolak, ia membiarkan dirinya terhanyut dalam rasa rindu ketika ia sekali lagi mencium mesra gadis pujaannya. Dibiarkannya Hyosung mengalungkan tangannya di sekitar lehernya dan membuat ciuman mereka lebih dalam.

”Maafkan kebodohanku.” Ia berbisik pelan sebelum meneruskan kembali ciumannya pada Hyosung.

Iklan

2 thoughts on “[Fanfiction] I Still Need You

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: