[Fanfiction] Separation

Title: Separation

Cast:

Jun Hyosung (SECRET)

Tiffany Hwang (SNSD)

Keheningan malam terasa semakin menggigit selagi Hyosung melangkah keluar dari ruangannya. Lagi-lagi, ia sengaja berlatih sampai malam dan baru meninggalkan ruang latihan ketika sudah tidak ada orang yang tersisa di lantai satu, tempat ruang latihan berada.

Hyosung menghela nafas berat ketika pintu dibelakangnya tertutup. Ia tidak siap untuk pulang. Bukan. Bukannya tidak siap. Justru Hyosung merasa ia tidak ingin pulang. Dadanya terasa sesak ketika membayangkan perjalanan pulang dan rumahnya.  Tapi yang paling meresahkannya adalah, membayangkan sambutan dingin dari seseorang. Hyosung tau orang itu sudah pasti sedang menunggunya pulang dari latihan—aktivitas yang selalu dilakukannya akhir-akhir ini.

Hyosung menatap lantai dibawahnya, menonton bagaimana kakinya secara otomatis melangkah melalui jalan yang sudah sangat dihapal. Kakinya tidak mempunya keraguan, jadi kenapa malah hatinya yang mempunyai keraguan yang memberatkan?

Satu hembusan nafas kesal tidak menenangkan sama sekali. Semakin kesal, ­­­ menarik nafas banyak-banyak selagi kakinya dengan pasti membawanya keluar gedung agensi, menuju jalanan luar. Hembusan angin membuat Hyosung merinding. Meskipun musim sudah berganti menjadi musim semi, hembusan angin tetap saja membuatnya yakin ia terjebak di musim dingin yang tiada habisnya.

“Aku rindu musim panas,” tanpa sadar Hyosung bergumam.

Butuh beberapa saat sebelum ia menyadari bahwa bukan musim panas lah yang ia rindukan. Tapi memori dari saat-saat itu. Ketika semuanya belum memudar seperti sekarang. Saat-saat yang bahkan sekarang tak pernah terpikir olehnya untuk sampai pada tahap ini. Sesuatu yang dulu seseorang itu katakan padanya tidak akan pernah terjadi. Kebohongan yang mereka berdua percayai dengan naifnya.

Hyosung tersenyum hambar di tengah kerumunan orang yang menuntunnya menuju rumah. Tunggu. Pantaskah tempat itu disebut rumah ketika ia bahkan tidak ingin kembali ke tempat itu dan menetap disana, Bersama dengan semua kenangan dan orang tersebut? Rasa cinta mereka yang telah memudar telah membuat hidupnya lebih sulit. Bahkan untuk memutuskan memanggil suatu tempat sebagai rumah menjadi jauh lebih sulit karena ia tidak mau mengakui kepudaran cinta yang mengelilingi mereka.

Kakinya terasa berat melangkah walaupun arah yang dituju sangatlah pasti. Tidak ada tanda tanda kakinya memutuskan untuk berhenti atau Lelah dengan jarak yang ia tempuh. Matanya bisa menangkap semakin sedikitnya sosok manusia yang mengelilingnya barusan. Kerumunan itu semakin menghilang ketika ia mendekati lingkungan tempat tinggalnya. Tidak semua orang tahu tempat ini. Mungkin itulah alasan kenapa seseorang itu memilih tempat itu untuk mereka berdua. Tersembunyi dari banyak orang, seperti layaknya hubungan mereka.

Kapan semua ini bermula? Pertanyaan itu membayangi Hyosung dalam setiap langkah yang diambilnya. Tentu saja, musim panas yang selalu membawa cinta itu adalah salah satu puncak kebahagiaan dari mereka berdua. Tapi rasanya semua itu tidak membawa masalah. Kedengkian dan rasa cemburu pada musim dingin lah yang membawa mereka semakin menjauh. Lebih dari sebelumnya. Lebih dari yang mereka telah perkirakan.

Tanpa disadari, ia telah sampai di depan pagar rumah mereka. Orang-orang di internet sudah pasti akan memanggil rumah ini sebagai deskripsi mewah. Mungkin ketiadaan lahan telah membuat rumah normal, bukan bagian dari bangunan tinggi yang menjulang mewah di jantung kota, sebagai bahan mahal di negara ini. Tempat yang ia tinggali memang bukan bagian dari kepemilikannya. Ini adalah tempat orang itu. Dia yang sempat bersumpah bahwa Hyosung adalah cinta terakhirnya. Dia yang berbohong tentang segala hal dalam hidupnya hingga membawa rasa pahit yang sangat dalam hubungan mereka. Dia yang takut akan kehilangan Hyosung hingga berusaha keras untuk membuat sarang emas untuk Hyosung—tak memperdulikan bagaimana perasaan Hyosung akan hal tersebut.

Gagang pintu terasa licin dibawah kulit tangannya yang berkeringat. Tidak pernah sekalipun Hyosung menyangka hari ini akan terasa lebih berat untuk membuka pintu itu dari hari biasanya. Kali ini, ia tidak berkelit dari alasan bahwa ia takut akan keberadaan orang itu di dalam rumah. Ia tidak ingin melukai orang itu dengan perkataan-perkataannya tentang cinta dan kebebas. Paling tidak, hari ini semua itu harus disingkirkan. Karena hari ini, Hyosung hanya menginginkan ketenangan.

“Kau sudah pulang!” Sebuah suara yang dikenalnya dengan baik menyambutnya dengan nyaring begitu Hyosung melangkah ke tengah ruangan.

Rambut panjang wanita itu melambai dibelakangnya ketika ia menuruni tangga, menyambut Hyosung yang berdiri kaku di tengah ruangan. Terlalu tidak siap dengan keberadaan wanita itu dirumah ini. Wanita yang membuat dunianya jungkir balik dengan begitu hebatnya sampai ia tidak sanggup lagi kembali menjalani hidup yang normal. Wanita yang merupakan kesalahan terbesar dalam musim panasnya. Wanita yang mencintainya. Dan setidaknya, wanita yang sempat Hyosung cintai sepenuh hati sebelum rasa dengki dan cemburu membakar dirinya hingga hangus tertelan api tersebut.

“Hyosung, kau terlihat pucat. Apa kau baik baik saja? Mau minum?” Suara nyaring Tiffany membangunkan Hyosung dari semua memori yang memberondong dirinya.

“Aku baik-baik saja,” Hyosung menjawab lembut, ditepisnya dengan pelan tangan Tiffany dari wajahnya.

Gerakannya tentu saja tidak dilewatkan oleh mata jeli Tiffany yang melirik tepisan tangannya dengan sorot mata terluka. Hyosung tersenyum tipis untuk meyakinkan Tiffany apa yang dilakukannya bukanlah sebuah kesalahan yang akan membuatnya semakin menjauh dari Tiffany.

Dengan teriakkan tidak setuju dari tubuhnya, Hyosung menggandeng tangan Tiffany menuju kamar mereka. Bau khas parfum Tiffany menggelitik indra penciumannya ketika ia melangkah memasukki kamar mereka. Hyosung terdiam di pintu dan menelan ludah. Ia tidak pernah memikirkan hal-hal seperti ini sebelumnya. Kenapa hari ini semuanya terasa berbeda?

Gesekkan lembut kulit Tiffany di punggungnya membuat Hyosung menelan ludah. Pikirannya mulai berkelana ke tempat-tempat di masa depan. Ke tempat dan waktu ketika ia dan Tiffany tidak lagi menjadi kekasih seperti sekarang. Bayangan akan kehampaan dalam hidupnya setelah memutuskan untuk berpisah membayangi semua momen itu. Tidak ada satupun dimana ia tersenyum.

Tapi hatinya menyukai itu. Ia akan bebas dari semua perasaan bersalah karena sudah tak mencintai Tiffany lagi dan ia bisa berhenti berpura-pura untuk tetap mencintai Tiffany, kekasihnya selama 2 tahun.

Rasanya menyesakkan untuk tetap hidup bersama seseorang yang bahkan sudah ia tidak cintai lagi. Tidak sedikitpun ada rasa penyesalan yang berusaha mendekatinya ketika keinginan untuk berpisah menyeruak. People always say that it is okay to fall out of love. Dan itu lah yang terjadi padanya sekarang. She falls out of love with the girl who she used to love dearly.

“Sayang?” Tiffany menegurnya pelan, tangannya meremas tangan Hyosung.

Hyosung merasakan rasa bersalah menyiramnya. She knows Tiffany is afraid to hear what will come out from her mouth now. Rasa takut Tiffany seolah-olah terpancar dengan kuat. Bahkan Hyosung bisa merasakan tangan Tiffany yang bergerak gelisah dalam genggaman tangannya. Rasanya ia ingin sekali menyakinkan Tiffany bahwa tidak ada yang akan terjadi bahkan ketika status mereka bukanlah lagi sepasang kekasih yang terikat akan komitmen untuk saling mencintai satu sama lain. Mereka hanya akan berubah status menjadi 2 orang yang saling mengenal dan pernah memiliki masa lalu Bersama, itu saja. Tapi bahkan Hyosung tahu, penjelasan itu akan sangat menyakiti Tiffany—lebih dari keinginan Hyosung untuk berpisah.

Hyosung melemparkan senyuman menenangkan kearah Tiffany selagi ia menarik lembut tangan Tiffany untuk ikut masuk ke dalam kamar mereka. Memori akan semua yang pernah mereka lakukan Bersama di kamar ini tidak membuat Hyosung ragu akan apa yang ia lakukan. Lagipula, perpisahan itu wajar saat sebuah hubungan tidak lagi berkembang, bukan?

Wajah Tiffany sudah sangat memucat ketika ia berdiri berhadapan dengan Hyosung. Kegelisahan memancar dari matanya selagi ia menarik tangannya dari genggaman Hyosung. Dan ia tidak mengizinkan itu terjadi. Ditariknya kembali tangan Tiffany dengan lembut dan dipegangnya dengan erat—tidak boleh lagi kali ini tangannya meninggalkan sentuhan Hyosung. Ini bisa saja terakhir kalinya mereka berpengangan tangan tanpa ada rasa penyesalan yang menyelimuti satu sama lain.

Dituntunnya Tiffany untuk duduk dipinggir tempat tidur mereka. Bahkan ketika Hyosung duduk di tempat itu, rasa dingin yang ia kenali sebagai kegelisahan menyambutnya dengan cepat. Ia harus mengakui bahwa ini tidaklah mudah—rasa Lelah telah mengalahkan segalanya bahkan rasa cintanya pada wanita ini.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu,” Hyosung berucap tenang.

Matanya menatap lekat wajah wanita cantik di depannya. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan keadaan sang kekasih. Wajahnya tirus dengan lingkar hitam yang semakin menggelap. Bahkan matanya yang biasa berpendar indah dan penuh dengan semangat kini telah meredup—bahkan ia bisa melihat betapa bengkak dan sembabnya mata wanita itu. Tidak ada jejak kebahagiaan yang biasanya selalu ia miliki ketika Hyosung menatapnya. Dan saat itupun, Hyosung mengerti. Mereka berdua telah memperjuangkan hubungan ini terlalu lama hingga mereka tak lagi punya kekuatan untuk tetap berjuang mempertahankannya pada titik ini.

“Aku tahu,” Tiffany membalas bahkan sebelum Hyosung bisa membuka mulutnya lagi.

“Aku hanya ingin kamu tahu ini semua bukan salahmu. Ini hanyalah aku yang tidak sanggup menguasai diriku dari pikiran-pikiran yang tidak seharusnya ada,” Hyosung berujar cepat.

“Aku tahu,” Tiffany menjawab lagi, kali ini kepalanya menunduk.

Ada keheningan yang menyelinap diantar keduanya. Satu-satunya suara yang memecah keheningan itu hanyalah suara isakkan Tiffany yang memilukan hati Hyosung. Tidak tahan dengan keadaan Tiffany yang tidak berhenti menangis, Hyosung menarik tubuh Tiffany mendekat. Dibiarkannya gadis itu menangis di bahunya—membasahi kulit Hyosung dengan air mata yang menyuarakan rasa sakit yang tak terucap dari perpisahan ini.

“Aku tidak mengerti kenapa semuanya berubah,” Tiffany berujar lemah ditengah isakannya.

Hyosung tidak mampu menjawab. Mungkin itu karena ia tidak mampu menguasai rasa cemburu dan dengkinya ketika Tiffany lebih sukses. Atau mungkin semua mulai terjadi ketika Tiffany memutuskan untuk menutupi hubungan mereka dengan menyiptakan skandal dengan pria lain. Ia berusaha mengerti semuanya tapi rasanya sangat melelahkan ketika ia akhirnya menerima kenyataan. Hubungan mereka tidak akan berlanjut kemana-mana. Mereka hanya akan berlanjut seperti ini dan tidak aka nada perubahan sedikit pun. Apa gunanya berada dalam sebuah hubungan yang tidak akan berlanjut kemana-mana dan tetap menuangkan semua waktunya untuk hubungan itu? Setidaknya itu lah yang telah Hyosung pikirkan beberapa bulan ini—sebuah pemikiran yang telah merubah semuanya.

“Apa kamu akan pergi?” Tiffany tiba-tiba bertanya dari sela-sela isakannya.

Hyosung tersenyum pahit. Ia tahu ini akan sangat susah untuk Tiffany. Terlebih lagi karena Tiffany dan dirinya sering bertengkar akan kelanjutan hubungan mereka. Tiffany merasa semuanya tidak masalah jika mereka melanjutkan semuanya seperti ini, tanpa ada perkembangan. Yang ia inginkan hanyalah Bersama Hyosung—apapun yang terjadi. Dan Hyosung rasa itu adalah yang sangat tidak mungkin terjadi. Tidak untuk saat ini dan tidak Bersama Tiffany.

“Ya. Aku akan membereskan barangku dan pergi,” Hyosung berbisik.

Rasanya sangat menyakitkan ketika Tiffany meledak dalam tangisannya lagi saat Hyosung menjawab ketakutan terbesarnya. Hyosung tahu yang tersisa diantara mereka berdua mungkin tidak banyak. Mungkin kini yang tersisa dari dirinya pada Tiffany hanyalah rasa kasihan, ia sendiri tidak yakin dengan apa yang tersisa dari rasa cintanya. Dielusnya kepala Tiffany sembari membisikkan sweet nothings untuk menenangkan wanita itu.

Rasanya waktu berjalan sangat lama untuk menenagkan Tiffany dan membujuknya untuk tidur. Hyosung harus berulangkali menenangkan wanita itu—menyakinkan bahwa ia masih ada disana dan belum beranjak pergi untuk meninggalkannya sendirian. Tiffany bahkan tidak mau melepaskan genggamannya pada baju Hyosung—“aku mohon, aku takut kau pergi,”— dan Hyosung merasa semakin sedih melihat Tiffany yang begitu tergantung padanya.

“I loved you, and I should have loved you again and again but I can’t,” Hyosung berbisik pelan di telinga Tiffany sebelum melepaskan dirinya dari genggaman Tiffany.

Diambilnya koper yang tersimpan di dalam lemarinya. Ia sudah menyiapkan hari ini sejak lama. Tidak akan ada lagi hari-hari yang akan ia lalui di dalam tempat ini dalam sesaknya penderitaan keraguan. Ia sudah menyiapkan semua barangnya untuk keluar dari rumah ini, mungkin itulah sebabnya Tiffany sangat ketakutan tadi. Ia tahu Hyosung hanya perlu memilih kapan ia akan keluar dari rumah ini dan tak kembali dalam kehidupannya.

Hyosung mengeluarkan kopernya pelan, takut membuat suara yang akan membangunkan Tiffany. Dipandanginya wajah gadis itu untuk terakhir kalinya. Rasa sedih karena sudah membuat wanita itu menjadi menderita seperti ini membuatnya sakit. Dihampirinya sosok itu dan dengan lembut dikecupnya kening, bibir, serta hidung Tiffany untuk terakhir kalinya.

“Selamat tinggal,” bisiknya pelan.

Air mata dan udara segar menyambutnya begitu pintu rumah itu tertutup. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, tapi ia hanya berharap bahwa mereka berdua menemukan kebahagiaan yang sebenarnya tanpa harus melalui proses menyakitkan ini lagi.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: